Rabu, 14 Februari 2018

Taufiq dan makanan haram


   Junjungan kami Al-Quthb Abdullah Al-Haddad ra. berkata, "Ketahuilah sesungguhnya orang yang memakan barang haram, sedikit sekali mendapat taufik untuk beramal baik. Dan jika mendapatkannya secara lahiriyah, maka pasti penyakit-penyakit hati akan mendatangi dan merusaknya, seperti bangga diri dan pamer. Kesimpulannya, orang yang memakan barang haram, amal perbuatannya ditolak, karena Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik."

   Beliau ra. berkata, "Sesungguhnya harta yang haram tidak akan pergi kecuali ke dalam hal-hal yang haram. Jika engkau ingin mengetahui harta, apakah halal atau haram, maka lihatlah untuk apa ia dinafkahkan, untuk sesuatu yang halal ataukah yang haram. Sesungguhnya harta yang haram enggan dinafkahkan kecuali ke dalam asalnya."

   Beliau ra. menyamakan harta manusia di zamannya dengan api, dikarenakan harta itu tidak berada di jalan yang mudah bagi mereka untuk menyedekahkannya, dan di jalan yang sulit bagi mereka untuk hal itu.

Dikutip dari kitab Tastbit al-Fuad.

ﻭَٱللّٰهُ أَﻋْﻠَﻢُ بِٱﻟﺼَّﻮَٱﺏِ
.
[ Al-Manhaj as-Sawiy, Syarh Ushul Thariqah as-Sadah Al-Ba 'Alawi lil Al-'Allamah Al-Muhaqqiq Ad-Da'illallah Al-Habib Zain bin Ibrahim bin Smith ]

AKU "KORBAN" KEKERASAN GURU

Oleh : Nur Asiah (Group Forum Guru Indonesia)

*baca sampai tuntas, biar tidak salah faham

=====
Perkenalkan, aku Indah. Lulusan terbaik Universitas Negeri Jakarta.

Kapan aku duduk di bangku SD? Pada masa teknologi masih Radio dengan antena, dan Televisi masih hitam putih dikeroyok semut.

Aku korban kekerasan guru sejak kelas tiga SD. Masih segar di ingatan, wali kelasku, Pak Yunus, berteriak marah, "hey, kamu! Maju ke depan kelas!" Dengan wajah menantang aku berdiri, menghampiri beliau.

"Selesaikan soal ini!" Lelaki empat puluh tahun itu memukul papan tulis dengan penggaris kayu. "Salah sedikit saja, habis kamu!" Aku dengan yakin mengerjakan soal matematika yang ia berikan.

"Sudah, Pak." Aku berseru dengan sombong. Yakin kalau jawabanku pasti benar.

Tapi ....

Plak ...! Penggaris dengan panjang satu meter itu mendarat di tubuh bagian belakangku. "Kamu perempuan, tapi bengal minta ampun! Duduk!" Aku kembali ke kursi sambil mengusap bagian yang sakit.
.
Di lain kesempatan, saat aku kelas lima, aku di panggil wali kelas dua, guru wanita yang terkenal killer, kejam dan suka menghukum. Namanya Bu Hernita. Matanya menakutkan, selalu membawa rotan di tangannya.

"Indah, kamu tadi memukul siswa kelas dua. Betul?" Aku biasanya selalu berani menghadapi guru, tapi hari itu, aku tertunduk takut. "Jawab...!" Wanita itu berteriak sambil memukul meja.

Aku benar-benar mati gaya waktu itu. Darah premanku menghilang. Padahal aku sudah sering dipanggil guru, tapi selalu selamat dari guru satu ini. Tapi kali ini, sepertinya adalah hari sialku.

"Kemari...!" Tanganku di tarik mendekat, "kepalkan tanganmu!" Aku menuruti, dan tiga puluh pukulan mendarat di kepalan tangan kecilku. Menangis? Ya, aku menangis, tentu saja, kalian boleh mencobanya, kalau tidak percaya, rasanya sakit!

"Aku akan laporkan pada ayahku!" Aku menangis dan berteriak, mengambil tas di kelas dan berlari pulang.

Tiba di rumah, aku menceritakan semuanya dengan jujur. Apa tanggapan ayahku? Dia menggandeng tanganku, dan kembali ke sekolah. Aku tersenyum penuh kemenangan.
"Rasakan ...." kataku dalam hati.

Tapi ... tiba di sekolah, Ayah menghampiri Bu Hernita, dan berkata, "hukum dia lebih keras lagi, Bu, karena dia tidak sadar apa kesalahannya." Ayah meraih penggaris dan memukul tanganku berulang kali. Dan Bu Hernita menghentikan tindakan Ayah. "Di sekolah, hanya kami yang boleh menghukum. Bapak boleh pulang...!" tegas Bu Hernita.

Setelah Ayah pulang, Bu Hernita membawaku ke lapangan. Mengumpulkan semua siswa.

"Dengar semuanya! Mulai hari ini, Ibu tidak mau ada yang berteman dengan Indah ... kalau ada yang berteman, akan Ibu hukum! Faham?" Tatapan Bu Hernita beralih padaku, "dan kamu, kalau masih bersikap seperti ini. Ibu akan keluarkan kamu dari sekolah!" Kemudian beliau berlalu begitu saja.
.
Terhitung sejak hari itu, aku tidak memiliki satu orang teman pun. Semua teman menjauh setiap kali aku mendekat.
.
Aku sudah kelas lima menuju kelas enam waktu itu, usiaku bukan balita lagi. Aku sudah remaja, seharusnya sikapku tak seburuk itu.
.
Sampai pada puncak yang membuat aku terpukul lebih keras dari pukulan Bu Hernita, sore itu sepulang sekolah aku di panggil kepala sekolah. Saat aku masuk, ada Bu Hernita di sana.
.
"Indah, nilai kamu sejak kelas satu tidak buruk. Kelas satu sampai kelas dua, kamu selalu juara umum. Apa kamu tidak bertanya-tanya, kenapa di kelas tiga sampai kelas lima kamu tidak juara?" Kepala sekolah ku bernama Pak Sudirman, orangnya sangat lembut. Berbicara dengan penuh kasih sayang, "nilai kamu masih tinggi. Bahkan lebih tinggi dari peraih juara umum kita. Tapi perilaku kamu ini, yang membuat nilai angka rapormu tidak ada gunanya."
.
Aku tertunduk, Bu Hernita mengusap kepalaku. "Kemari, dengarkan Ibu." Jujur baru sekali itu aku melihat Bu Hernita selembut kapas berbicara padaku.
.
"Kamu tahu, Ndah? Apa yang paling berguna? Bukan angka-angka di rapor itu. Melainkan ... ini." Tangan beliau menyentuh dadaku. Aku sudah remaja waktu itu, dan sudah sangat memahami maksud beliau. Bagaimana rasanya? Malu! Ingin menangis, tapi tidak bisa. Jadinya? Sesak di dada!
.
"Begini, apa Ndah mau berubah? Karena kalau Ndah seperti ini terus, sekolah tidak akan meluluskan." Aku melihat ke arah Bu Hernita, aku tahu beliau serius.

"Mau berubah?" Bisik beliau pelan. Aku mengangguk. Pelan.
"Ndah janji, Ndah berubah, Bu. Ndah janji gak nakal lagi!"

======
Sejak hari itu, aku adalah Indah yang baru. Aku terlahir menjadi pribadi yang berbeda. Dan benar saja, saat kelas enam, aku kembali meraih juara umum.

Aku lulus tes dengan nilai terbaik di SMP favorit. Juga masuk dan lulus SMA dengan nilai yang masih sangat memukau, hingga aku berhasil meraih beasiswa sampai menyelesaikan S1.

Ketika lulis SMA, aku berkunjung kerumah Bu Hernita, menanyakan satu hal yang dulu tidak berani aku tanyakan.
"Kenapa di rapor, meski aku tidak juara, nilaiku masih di tulis dengan jujur?"

Beliau menjawab, "karena itu nilai kamu. Kami tidak berhak mempermainkannya."

Bertanya-tanya apa saja kenakalanku? Banyak teman-teman. Aku memukul adik dan kakak kelas, padahal mereka tidak sengaja menginjak kakiku waktu antri beli makan di kantin. Aku membuang buku PR teman sekelas yang sering mengangguku, terlebih aku ini perempuan. Dan masih banyak lagi kenakalanku yang lain, sejak kapan? Sejak aku kelas tiga. Luar biasa bukan? Ya, aku anak nakal yang selalu di pukul oleh guru, nyaris setiap hari.

Akulah Indah, korban kekerasan guru, yang berhasil meraih gelar sarjana dengan masa kuliah tiga tahun.

Akulah Indah, korban kekerasan guru, yang setiap hari memiliki luka di bagian jari.

Apakah kedua orang tuaku melaporkan mereka? Ooh tidak! Orang tuaku tahu, bagaimana sifat dan sikapku. Itulah kenapa mereka akan tambah memarahiku, setiap kali aku terkena hukuman.

Akulah Indah, korban kekerasan guru, yang sangat berterimakasih pada rotan dan penggaris kayu itu.
Namaku, Indah. Aku bahagia guruku pernah memukul saat aku nakal.

Terimakasih, Bu Hernita, rotan itu bukan hanya melukai tanganku. Tapi juga berhasil memukul keras batu yang ada di hatiku.

Beliau selalu memanggilku "Ndah" kalau aku sedang tidak bermasalah. Tapi saat aku berbuat salah, beliau akan menyebut namaku "Indah!" Dengan sangat keras.
Aku memakai nama 'Ndah' karena aku berterimakasih pada beliau.

=========

Bu, Pak, tahukah anda?
Hanya anda yang tahu karakter anak-anak anda. Bagaimana bisa anda lepaskan tanggung jawab kepada gurunya di sekolah? Tapi anda menahan hak didik bagi mereka atas anak anda.

Bu, Pak, pikirkanlah, apakah mungkin seorang guru tiba-tiba memukul siswanya tanpa kesalahan?

Bu, Pak, mereka menggunakan tangan untuk menjewer. Tapi mereka menghabiskan setengah hidupnya untuk keberhasilan anak anda.

Saat anak anda menjadi dokter, anda berkata dengan bangga, "ini anakku, menjadi dokter karena kerja kerasku!"

Bu, Pak, pernahkah saat anak anda pintar membaca, lantas anda berterimakasih, pada gurunya?

Saat anak anda pandai menghitung, pernahkah berpikir untuk mendoakan gurunya?

Bu, Pak, kalian mengirim mereka ke sekolah, karena kalian tahu, mereka butuh seorang guru. Lantas, mengapa saat anak anda mendapat secuil cubitan, jeweran, lantas anda melaporkan gurunya ke polisi? Memenjarakan gurunya begitu saja.

Bu, Pak, anda tahu karakter anak anda. Pikirkanlah kenapa mereka di jewer, di cubit. Karena gurunya menyayangi mereka, memperlakukan mereka seperti anak sendiri.

Bu, Pak, aku bukan guru, tapi aku adalah korban kekerasan guru, dan aku bangga guruku bersikap keras terhadapku.

Karena kalau tidak, maka aku tidak akan seperti sekarang.

Bu, Pak, tidak perlu membawa bingkisan untuk gurunya. Cukup hargai mereka, tundukkan kepala dan ingat bagaimana peranannya untuk masa depan putra dan putri anda.

Mereka guru, dengan tulus mendidik, tapi di rumah, anda memberi anak-anak dengan gadget, dan tontonan televisi yang tak bermoral. Lalu, anda menyalahkan guru ketika anak anda berperangai buruk.

Kilau emas yang anda pakai itu, adalah hasil kerja keras penambang yang digaji tak seberapa.

Begitulah kerasnya kerja seorang pembentuk, seperti guru.
.
.
#LoveForTeacher

Doa Terpilih

وأخرج ابن مردويه عن ابن عمر رضي الله عنهما قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لما ألقي يوسف في الجب أتاه جبريل عليه السلام فقال له : يا غلام من ألقاك في هذا الجب قال : إخوتي قال : ولم قال : لمودة أبي إياي حسدوني قال : تريد الخروج من ههنا قال : ذاك إلى إله يعقوب قال : قل اللهم إني أسألك باسمك المخزون والمكنون يا بديع السموات والأرض يا ذا الجلال والإكرام أن تغفر لي ذنبي وترحمني وأن تجعل لي من أمري فرجا ومخرجا وأن ترزقني من حيث أحتسب ومن حيث لا أحتسب فقالها فجعل الله له من أمره فرجا ومخرجا ورزقه ملك مصر من حيث لا يحتسب فقال النبي صلى الله عليه وسلم : ألظوا بهؤلاء الكلمات فإنهن دعاء المصطفين الأخيار

Selasa, 13 Februari 2018

Haqiqat Tulisan Quran

Kalau ngaji Qur'an itu yg sungguh². Sebab Qur'an itu kalau gak syafaat ya laknat. Pilihannya ya cuma dua itu.
Qur'an itu hurufnya ada 4 : "ق ر أ ن"

Pertama Qaf

Sifatnya qalqalah, artinya guncang.
Setiap orang yg menempuh jalan untuk menjadi ahlul Quran akan di uji Gusti Allah dg cobaan2 yg menggonjang ganjingkan hidupnya nduk.

Kedua Ro'

Sifatnya takrir, artinya mengulang2.
Meskipun cobaan yg mendera jalanmu kelak akan mengguncang hidupmu, sekali kali jangan kau pernah berhenti nduk ,karena Quran itu harus selalu dibaca berulang2 meskipun sudah khatam. DERES! Kalau tidak, SERED!

Ketiga Hamzah

Sifatnya syiddah berarti kuat.
Maksudnya, kamu harus benar-benar kuat menjaga Quranmu dg membaca dan membacanya lagi dan lagi meskipun hidupmu digonjang ganjingkan masalah yg tak sudah sudah. Sapa ngrumat keramut, sapa ngremeh keremet nduk.

Dan yg terakhir Nun

Sifatnya idzlaq, artinya ringan.
InsyaAllah nduk, kalau kamu kuat dan Sabar atas sgala coba yg mengguncang jiwa raga, sembari mengistiqomahkan ngajimu dg terus menerus nderes Quran mu, hidup matimu akan ringan nduk, seringan mulutmu saat mengucapkan nun.

Order sarung BHS, baju muslim, dan surban via WA 0812 8491 9753

Manaqib Hb. Mundzir Al MusawA

DO'A SEBELUM PERTEMUAN INDAH, HABIBANA MUNZIR dan HABIB UMAR BIN HAFIDZ

" Do'aku... wahai Allah, pertemukan saya dgn guru dari orang yg paling dicintai Rasul saw, maka tak lama saya masuk pesantren Al Habib Hamid Nagib bin Syeikh Abubakar di Bekasi timur, dan setiap saat mahal qiyam maulid saya menangis dan berdoa pada Allah untuk rindu pada Rasul saw, dan dipertemukan dg guru yg paling dicintai Rasul saw,.

Dalam beberapa bulan saja datanglah Guru Mulia Al Musnid Al Allamah Al Habib Umar bin Hafidh ke pondok itu, kunjungan pertama beliau yaitu pd 1994.
selepas beliau menyampaikan ceramah, beliau melirik saya dg tajam.., saya hanya menangis memandangi wajah sejuk itu.., lalu saat beliau sudah naik ke mobil bersama almarhum Alhabib Umar maula khela, maka Guru Mulia memanggil Hb Nagib Bin Syeikh Abubakar, Guru mulia berkata bahwa beliau ingin saya dikirim ke Tarim Hadramaut yaman untuk belajar dan menjadi murid beliau,.

Guru saya hb Nagib bin syeikh abubakar mengatakan saya sangat belum siap, belum bisa bahasa arab, murid baru dan belum tahu apa apa, mungkin beliau salah pilih..?, maka guru mulia menunjuk saya, itu.. anak muda yg pakai peci hijau itu..!, itu yg saya inginkan.., maka Guru saya hb Nagib memanggil saya utk jumpa beliau, lalu guru mulia bertanya dari dalam mobil yg pintunya masih terbuka : siapa namamu?, dalam bahasa arab tentunya, saya tak bisa menjawab karena tak faham, maka guru saya hb Nagib menjawab : kau ditanya siapa namamu..!, maka saya jawab nama saya, lalu guru mulia tersenyum..

Keesokan harinya saya jumpa lagi dg guru mulia di kediaman Almarhum Hb bagir Alattas, saat itu banyak para habaib dan ulama mengajukan anaknya dan muridnya untuk bisa menjadi murid guru mulia, maka guru mulia mengangguk angguk sambil kebingungan menghadapi serbuan mereka, lalu guru mulia melihat saya dikejauhan, lalu beliau berkata pada almarhum hb umar maula khela : itu.. anak itu.. jangan lupa dicatat.., ia yg pakai peci hijau itu..!,

Guru mulia kembali ke Yaman, sayapun langsung ditegur guru saya hb Nagib bin syekh abubakar, seraya berkata : wahai munzir, kau harus siap siap dan bersungguh sungguh, kau sudah diminta berangkat, dan kau tak akan berangkat sebelum siap..
dua bulan kemudian datanglah Almarhum Alhabib Umar maula khela ke pesantren, dan menanyakan saya, alm hb umar maulakhela berkata pada hb nagib : mana itu munzir anaknya hb Fuad almusawa?, dia harus berangkat minggu ini, saya ditugasi untuk memberangkatkannya, maka hb nagib berkata saya belum siap, namun alm hb umar maulakhela dg tegas menjawab : saya tidak mau tahu, namanya sudah tercantum untuk harus berangkat, ini pernintaan AL Habib Umar bin Hafidh, ia harus berangkat dlm dua minggu ini bersama rombongan pertama..
saya persiapkan pasport dll,.

Namun ayah saya keberatan, ia berkata : kau sakit sakitan, kalau kau ke Mekkah ayah tenang, karena banyak teman disana, namun ke hadramaut itu ayah tak ada kenalan, disana negeri tandus, bagaimana kalau kau sakit?, siapa yg menjaminmu..?,
saya pun datang mengadu pd Almarhum Al Arif billah Alhabib Umar bin hud Alattas, beliau sudah sangat sepuh, dan beliau berkata : katakan pada ayahmu, saya yg menjaminmu, berangkatlah..

Saya katakan pada ayah saya, maka ayah saya diam, namun hatinya tetap berat untuk mengizinkan saya berangkat, saat saya mesti berangkat ke bandara, ayah saya tak mau melihat wajah saya, beliau buang muka dan hanya memberikan tangannya tanpa mau melihat wajah saya, saya kecewa namun saya dg berat tetap melangkah ke mobil travel yg akan saya naiki, namun saat saya akan naik, terasa ingin berpaling ke belakang, saya lihat nun jauh disana ayah saya berdiri dipagar rumah dg tangis melihat keberangkatan saya…, beliau melambaikan tangan tanda ridho, rupanya bukan beliau tidak ridho, tapi karena saya sangat disayanginya dan dimanjakannya, beliau berat berpisah dg saya, saya berangkat dg airmata sedih..

Saya sampai di tarim hadramaut yaman dikediaman guru mulia, beliau mengabsen nama kami, ketika sampai ke nama saya dan beliau memandang saya dan tersenyum indah,
tak lama kemudian terjadi perang yaman utara dan yaman selatan, kami di yaman selatan, pasokan makanan berkurang, makanan sulit, listrik mati, kamipun harus berjalan kaki kemana mana menempuh jalan 3-4km untuk taklim karena biasanya dg mobil mobil milik guru mulia namun dimasa perang pasokan bensin sangat minim..

suatu hari saya dilirik oleh guru mulia dan berkata : Namamu Munzir.. (munzir = pemberi peringatan), saya mengangguk, lalu beliau berkata lagi : kau akan memberi peringatan pada jamaahmu kelak…!.
maka saya tercenung.., dan terngiang ngiang ucapan beliau : kau akan memberi peringatan pada jamaahmu kelak…?, saya akan punya jamaah?, saya miskin begini bahkan untuk mencuci bajupun tak punya uang untuk beli sabun cuci..
saya mau mencucikan baju teman saya dg upah agar saya kebagian sabun cucinya, malah saya dihardik : cucianmu tidak bersih…!, orang lain saja yg mencuci baju ini..
maka saya terpaksa mencuci dari air bekas mengalirnya bekas mereka mencuci, air sabun cuci yg mengalir itulah yg saya pakai mencuci baju saya..

Hari demi hari guru mulia makin sibuk, maka saya mulai berkhidmat pada beliau, dan lebih memilih membantu segala permasalahan santri, makanan mereka, minuman, tempat menginap dan segala masalah rumah tangga santri, saya tinggalkan pelajaran demi bakti pada guru mulia membantu beliau, dengan itu saya lebih sering jumpa beliau..

2 tahun di yaman ayah saya sakit, dan telepon, beliau berkata : kapan kau pulang wahai anakku..?, aku rindu..?
saya jawab : dua tahun lagi insya Allah ayah..
ayah menjawab dg sedih ditelepon.. duh.. masih lama sekali.., telepon ditutup, 3 hari kemudian ayah saya wafat..
saya menangis sedih, sungguh kalau saya tahu bahwa saat saya pamitan itu adalah terakhir kali jumpa dg beliau.. dan beliau buang muka saat saya mencium tangan beliau, namun beliau rupanya masih mengikuti saya, keluar dari kamar, keluar dari rumah, dan berdiri di pintu pagar halaman rumah sambil melambaikan tangan sambil mengalirkan airmata.., duhai,, kalau saya tahu itulah terakhir kali saya melihat beliau,., rahimahullah..

Tak lama saya kembali ke indonesia, tepatnya pada 1998, mulai dakwah sendiri di cipanas, namun kurang berkembang, maka say mulai dakwah di jakarta, saya tinggal dan menginap berpindah pindah dari rumah kerumah murid sekaligus teman saya, majelis malam selasa saat itu masih berpindah pindah dari rumah kerumah, mereka murid2 yg lebih tua dari saya, dan mereka kebanyakan dari kalangan awam, maka walau saya sudah duduk untuk mengajar, mereka belum datang, saya menanti, setibanya mereka yg cuma belasan saja, mereka berkata : nyantai dulu ya bib, ngerokok dulu ya, ngopi dulu ya, saya terpaksa menanti sampai mereka puas, baru mulai maulid dhiya’ullami..,

Jamaah makin banyak, mulai tak cukup dirumah rumah, maka pindah pindah dari musholla ke musholla,. jamaah makin banyak, maka tak cukup pula musholla, mulai berpindah pindah dari masjid ke masjid,
lalu saya membuka majelis dihari lainnya, dan malam selasa mulai ditetapkan di masjid almunawar, saat itu baru seperempat masjid saja, saya berkata : jamaah akan semakin banyak, nanti akan setengah masjid ini, lalu akan memenuhi masjid ini, lalu akan sampai keluar masjid insya Allah.. jamaah mengaminkan..

Mulailah dibutuhkan kop surat, untuk undangan dlsb, maka majelis belum diberi nama, dan saya merasa majelis dan dakwah tak butuh nama, mereka sarankan majelis hb munzir saja, saya menolak, ya sudah, majelis rasulullah saw saja,.

kini jamaah Majelis Rasulullah sudah jutaan, di Jabodetabek, jawa barat, banten, jawa tengah, jawa timur, bali, mataram, kalimantan, sulawesi, papua, singapura, malaysia, bahkan sampai ke Jepang, dan salah satunya kemarin hadir di majelis haul badr kita di monas, yaitu Profesor dari Jepang yg menjadi dosen disana, dia datang keindonesia dan mempelajari bidang sosial, namun kedatangannya juga karena sangat ingin jumpa dengan saya..."

Masyaa allah... Silahkan share, Semoga dengan mebaca kisah para sholihin, semakin besar cinta dan semakin kuat ikatan getaran hati kita pada mereka... dan dengan cinta dalam hati kita, syafaat BAGINDA ROSULULLAH akan sampai pada kita semua... Aamiin Allahumma Aamiin....

*DAHULU DAN SEKARANG*

DAHULU, orang sulit mencari ilmu tapi mudah mengamalkannya.
SEKARANG...? orang mudah mencari ilmu tapi sulit mengamalkannya.

DAHULU, ilmu dikejar, ditulis, dihafal, diajarkan dan diamalkan.
SEKARANG...? ilmu diunduh, disimpan dan dikoleksi, untuk diperdebatkan.

DAHULU, butuh peras keringat dan banting tulang untuk mendapatkan ilmu.
SEKARANG...? cukup peras kuota internet sambil duduk manis ditemani secangkir minuman dan snack.

DAHULU, ilmu merasuk ke dalam hati, dan hati selalu ingat pada ALLAH maka ilmu tetap terjaga.
SEKARANG...? ilmu disimpan di dalam memori hp,
Kalau baterai habis? ilmu tertinggal,
Kalau hp rusak? hilanglah ilmu.

DAHULU, harus duduk berjam-jam di hadapan guru penuh rasa hormat dan sopan, maka ilmu merasuk bersama keberkahan bertatap muka dgn guru.
SEKARANG...? cukup tekan tombol atau layar sambil tidur-tiduran, maka ilmu merasuk bersama kemalasan.

_Kita telah sampai di zaman dimana
Bicara hanya perlu ketik saja,
Melihat hanya perlu klik saja, dan Memanggil hanya perlu ping saja.
Apakah kemajuan teknologi ini harus menghalangi kita silaturrahmi, saling berkunjung?_

_Social media telah menjadi budaya, AL-QURAN pun semakin terlupa_

_Dari yang hanya melihat-lihat, sampai beradu pendapat,
Dari tingkah yang dibuat-buat, sampai terang-terangan maksiat_

_Tak sadar jemari ini berkhianat, menulis sesuatu yg tak bermanfaat,
Berdebat dan merasa diri paling hebat_

_Sadar atau tidak mata ini berkhianat, melihat apa yang seharusnya haram dilihat_

INGATLAH...!!!
*Matamu akan menjadi saksi atas apa yang kau lihat*
*Jemarimu akan menjadi saksi atas apa yang telah engkau tulis*
*Suatu hari nanti apapun yang kau lakukan dengan anggota badanmu akan bersaksi dihadapan Penciptamu*
*Maka, jangan sampai mereka menjadi musuhmu dihari perhitungan nanti* *Menjadi saksi keburukanmu, saksi atas apa yang kau lihat, saksi atas apa yang kau tulis, saksi atas segala apa yang kau lakukan baik di dunia nyata maupun maya*

✓ Gunakan apa yang ada padamu sebagai ladang amal...
✓ Dimana engkau bisa menanam kebaikan dan menuai hasilnya di akhirat...
✓ Kami baru bisa copas, save dan share, jika cuma ini kemampuan kami maka ridho Mu yang kami harapkan...

Akhir kata...

"YA ALLAH AMPUNILAH KAMI, ATAS SEGALA DOSA DAN KESALAHAN KAMI, WAHAI DZAT YG MENDAHULUKAN RAHMAT DARIPADA MURKA, BERKAT NABI KECINTAAN KAMI SAYYIDINA MUHAMMAD SAW" 😭

Kehidupan Nabi Di Alam Barzakh

Maulana Syaikh Ali Jum'ah (Al-Azhar) :

Benarkah Rasulullah saw. Hidup di alam kubur? Adakah pengaruhnya terhadap realitas kehidupan?

Hal pertama yang harus kita ketahui tentang arti kematian ialah bahwa apabila yang dimaksud adalah Rasullah saw. tidak berpindah dari alam dunia dan tidak dicabut ruhnya maka tentu pemahaman tersebut harus diluruskan sebagaimana justifikasi dua ayat al-Quran yang artinya ;
"Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad); Maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?"(Al-Anbiyâ:34)
Dan "Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)"(Al-Zumar :30).

Bertolak dari ayat diatas, maka kita mengetahui bahwa wafatnya Rasulullah saw. merupakan perpindahan dari alam dunia menuju fase selanjutnya, alam kubur. Perpindahan ini bukan berarti menghilang, atau lenyap hingga putus hubungan dengan manusia, sebab beliau berpindah pada fase dimana di dalamnya merupakan kehidupan para nabi atau yang dikenal dengan kehidupan setelah kematian. Pandangan ini diperkuat dengan sabda Nabi sendiri di dalam pesannya : “hidupku adalah sebaik-baiknya untuk kalian yang kalian bisa bercakap denganku dan aku bisa bercakap-cakap dengan kalian, matiku adalah sebaik-baiknya untuk kalian yang akan diperlihatkan amal kalian kepadaku. Apabila aku melihat ia sebuah kebaikan aku akan memuji Allah,  dan apabila aku melihat keburukan, aku akan memohonkan ampunan kepada Allah untuk kalian”. Beliau juga berpesan ; “tak ada hamba yang mengucapkan salam atasku melainkan Allah mengembalikan ruhku supaya akupun  menjawab salam untuknya”.

Hadis ini mengindikasikan bahwa ruh dan badan Nabi masih bersambung selama-lamanya. Sebab tak satupun umat islam di dunia ini kecuali semuanya  sepakat mengucapkan salam atas junjungan Nabi Muhammad saw. ditambah lagi perpindahan  fase para Nabi setelah kehidupan bukanlah sama dengan perpindahan kehidupan kita. hal itu dikarenakan ruh manusia biasa -selain para nabi-tidak kembali pada jasad masing-masing yang tentunya tak akan bersentuhan antara ruh dan badannya kendati disebutkan di dalam hadis yang lain bahwa ruh manusia biasa masih bersambung dengan kehidupan nyata semisal menjawab salam dan sejenisnya. Berbeda dengan kehidupan para nabi, mereka berada di dalam fase kehidupan yang lebih sempurna dari pada sebelum dan sesudah mereka berpindah kepada alam kubur.

Dalam porsi yang sama, memang benar para nabi di dalam kuburnya masih eksis beribadah kepada Allah swt. Pernyataan ini bersumber langsung dari sabda Nabi Muhammad saw. yang diriwayatkan Anas ra. Bahwa Rasulullah saw. bersabda “pada saat isra’ mikraj, aku lewat bertemu dengan Nabi Musa a.s disamping tumpukan pasir merah, dia berdiri melaksanakan salat di dalam kuburnya”.Didalam riwayat lain juga disebutkan, “seluruh nabi hidup di dalam kuburannya dan melaksanakan salat”.

Berangkat dari redaksi hadis “di dalam kuburan"maka semakin menemukan benang merah bahwa para nabi hidup dengan jasad dan ruhnya di dalam kuburan masing-masing. Logikanya, andaikan mereka hidup bersemayam di dalam ruh saja, maka Nabi hanya akan menyebutkan tempat kehidupannya. Dengan demikian, maka dapat kita katakan bahwa mereka  hidup dengan nyata di dalam kuburan sepertihalnya mereka hidup sebelum berpindah dari alam dunia. ditambah lagi jasad-jasad mereka kekal terjaga dan bumi tidak direstui menelannya . Karenanya, Rasulullah saw. mengingatkan bahwa “Allah swt. mengharamkan bumi memakan dan menelan jasad para nabi”.

Dari tambahan data ini, lagi-lagi memberi jalan terang bahwa Nabi Muhammad saw. hidup di dalam kuburannya dengan ruh dan jasadnya. Jasad beliau juga dijaga utuh sebagaimana para nabi lainnya. Beliau juga beribadah kepada Allah swt. Bersambung dengan umatnya, memintakan ampunan, memberikan syafaat serta menjawab salam dari kita semua.

Dari paparan diatas, maka bagi siapa saja yang tidak percaya dan mendustakan kehidupan Nabi saw. di dalam kuburan sama halnya mendustakan dalil-dalil Sunnah yang telah kami tegaskan, mereka yang memungkiri perpindahan hidup Nabi dari alam dunia menuju fase perpindahan berarti mengingkari pesan-pesan al-Qur’an.

Akhirnya, sebuah kelaziman kita yakini setulus hati bahwa Rasulullah saw. berpindah dari alam kehidupan -bukan lenyap sebagaimana kematian kita-, beliau hidup dan beribadah kepada Allah didalam kuburannya, menjawab salam, memberi syafaat, serta memohonkan ampunan bagi seluruh umatnya.

Like juga : Ahbab Maulana Syaikh Ali Jum'ah

Allahumma Sholli a'la Sayyidina Muhammad wa ala alihi washobihi wasalim