Rabu, 31 Maret 2021

Nasihat Seorang Kiai Sepuh kepada Para Santri

LIMA MENIT

Di suatu malam yang ditumpahi cahaya bulan, seorang kiai sepuh dari Jawa Timur bertutur. Ratusan santrinya menyimak kalimat demi kalimat yang keluar laksana mutiara. Dengan nada pelan dan santai, sang kiai memberi nasehat yang kurang lebih demikian:

Saya ini dulu sudah mengaji lebih dari tiga puluh tahun, tapi perasaan saya tak dapat ilmu,  kecuali hanya sedikit saja. 

Namun, saya selalu setia dengan proses ini, proses belajar ala pesantren, taat pada metode pembelajaran para kiai dan ulama salaf. 

Pernah, ketika dulu mengaji Kitab Ihya Ulumuddin baru beberapa lembar saja, kiai saya sakit, sampai dua tahun, mendekati tiga tahun. Selama itu pula saya setia menunggu beliau. 

Setelah beliau sembuh, saya baru dapat melanjutkan mengaji Kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali. Saya juga mengaji kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah As-Sakandari.

Alhamdulillah, seletelah tiga puluh tahun lebih mengaji, saya dapat membaca kitab-kitab (kuning) apa saja yang telah diajarkan oleh kiai saya. Namun, seakan itu hanya di lidah saya saja, tak sampai tenggorokan. Belum menancap di hati saya.  

Kemudian, tanpa saya duga, kiai saya meminta saya untuk menikahi putri beliau. Saya kaget: 

kenapa mesti saya? Saya itu  kan tidtak punya apa-apa? Saya juga bukan kategori orang yang bisa bekerja. 

Usut punya usut, ternyata kiai saya menikahkan putrinya kepada saya justru karena ketidakpunyaan saya. Karena saya tidak punya harta benda. 
Ini, lho, berkah saya tidak punya apa-apa, saya malah menjadi menantu kiai saya.

Saudara saya membanyol: kiai memilih kamu (yang tidak punya apa-apa) agar kamu tidak berani mempoligaminya! 

Haha, banyolan saudara saya ini ada-ada saja. Mana mungkin saya berani menduakan putri kiai saya sendiri. 

Kemudian saya membantu mengajar di pesantren kiai saya, sampai kemudian ayah saya meninggal dunia. Karena dirumah ayah saya punya pesantren, saya mesti kembali. Saya pamit kepada kiai saya: 

Kiai, saya pamit, saya harus pulang, ayah saya meninggal dunia, kata saya.  

Kiai menjawab, oh iya betul, kamu harus pulang. Punya tinggalan pesantren harus terus dilestarikan. 

Namun kiai, ada satu hal yang ingin saya minta: saya ini tidak punya apa-apa. Mohon minta doa amalan kepada kiai, agar saya mudah mendapat rejeki, pinta saya. Bukannya diberi amalan doa, saya malah dimarahi: 

Huuussss!!! Kamu ini gimana, seperti tak percaya kepada Allah saja!!! 

Sontak saya tercekat kaget, tak karu-karuan rasanya. Marah betul beliau. 
Namun di situlah, di akhir-akhir dengan kiai saya itu, hanya pertemuan sekitar lima menit, ilmu kiai saya tertancap ke dalam hati. 

Karena marahnya kiai itu, saya jadi ingat semua apa-apa yang di dalam Al-Quran, Hadits dan kitab-kitab, termasuk yang ada di Ihya’ dan Hikam. Saya jadi ingat ayat Al-Quran: 

Wa ma min dabbatin fil-ardhi illa ‘alallahi rizquha; dan tidak ada satu binatang melatapun di bumi melainkan Allahlah yang memberi rezekinya (QS. Hud [11]: 6). 

Saya jadi ingat:  “...Wamayyattaqillaaha yaj ‘allahu mahrajan. Wayarzuqhu minhaitsu laayahtasib, wamayya tawaqal ‘alallaahi fahuwa hasbuhu, inalallaha balighu amrihi  qad ja ‘alallaahu liqulli syai in qodron.”. ...

Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rejeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (QS. At-Thalaq: 65, 2-3) 

Lima menit itu benar-benar mengubah saya. Yang tadinya ilmu hanya di lidah, sepertinya masuk ke hati saya. 
Hati saya jadi tawakkal, pasrah kepada Allah. 
Apa yang selama ini saya kaji di kitab-kitab itu, baru saya rasakan setelah kiai memarahi dalam tempo lima menitan itu. 
Saya jadi mantap menjalani hidup. 

Kemudian saya bertanya kepada istri saya: Dik, kita akan pindah. Namun rumah ayah saya kini diwarisi adik saya. Saya sudah tidak punya rumah. Apa jawaban istri saya?  

"Saya tidak menikah dengan rumahmu, Mas." 

Begitulah jawabannya. Saya jadi lega. Memang benar Hadis Nabi: memilih istri itu yang terpenting adalah karena faktor agamanya...

Fadzfarbidzaatitdieni, taribatyadaka. 

Nabi Muhammad juga demikian: menjodohkan putrinya dengan Sayyidina Ali kw, salah seorang yang miskin (secara duniawi, namun pandai ilmu agamanya). Padahal, banyak sahabat Nabi yang kaya raya. 

Juga demikian salah satu sahabat beliau, Abu Hurairah. Ketika beliau mendapati putrinya yang sudah berumur untuk menikah, beliau bertanya: lelaki seperti apa yang engkau mau? 

Sang putri menjawab: dua syarat. 

Pertama pandai dalam ilmu, dan kedua miskin. 

Abu Hurairah membalas balik: syarat pertama bisa kumengerti. Tapi, untuk apa syarat yang kedua? 

Sang putri menjawab: agar dia tidak berani nikah lagi.  

Begitulah. Orang-orang dulu begitu hati-hati dalam urusan harta. 
Maka saya minta, jika anda sekalian menuntut ilmu, niatnya jangan karena ingin harta. Jangan karena ingin jabatan atau kedudukan. Jangan karena ingin dipuji orang lain. Jangan karena dunia. 

Tapi niatilah menuntut ilmu untuk mencari ridla Allah semata. Insya Allah nanti Allah yang menjamin. 

Itulah salah satu kandungan yang ada dalam kitab Ihya dan Kitab Hikam. 
Ini kitab tasawuf, yang kadang agak bertentangan dengan (pendpat ulama) fiqih. Namun, kitab ini ampuh, sudah diakui keramatnya. 

Dulu, setelah jadi, kitab Ihya ini akan dilarang oleh seseorang yang alim.  Orang itu menyuruh murid-muridnya agar kitab itu dimusnahkan, karena isinya dianggap bertentangan. 

Sebelum sempat memusnahkan, orang itu mimpi bertemu dengan Rasulullah,  Abu Bakar dan Umar bin Khattab ra. Ia melihat Imam Ghazali bersamanya dan mengadukan perihal kitab ini yang ingin dibakar. Ternyata rasulullah mengatakan kitab itu baik. 

Rasulullah kemudian mencambuk orang yang alim itu. Meski dalam mimpi, ketika bangun tidur, bekas pukulan membekas dalam tubuh, sampai waktu yang lama. 

Setelah itu orang alim itu bertaubat, mau mempelajari kitab Ihya’ dan bahkan ditemui Rasulullah dalam mimpi. 

(Kisah lengkapnya dalam Kitab Awariful Ma'arif karya Imam Syaikh Syahrowardi, ed.) Imam Ghazali - sang Hujjatul Islam, pengarang kitab itu – ternyata tak sembarangan dalam menulis hadits. 

Tiap kali menulis hadis untuk dimasukkan ke kitab Ihya, beliau berwudlu, kemudian shalat sunnah, kemudian istikharah terlebih dahulu. 

Pasca itu, sepertinya beliau dibimbing Nabi dalam mimpi, ataupun melalui peristiwa lain. 

Misalnya, setelah itu, hadis yang ditulis itu dicium, apakah baunya wamgi atau tidak? 
Kalau baunya wangi, ini berarti benar-benar dari nabi. Kalau tidak wangi beliu tinggalkan hadits itu, tidak dimasukkan dalam kitabnya. 
Inilah, kehebatan para ulama salaf. 

Mengapa di pesantren kitab-kitab para ulama salaf masih kita kaji. Apa maksud dari kitab ulama salaf itu? 

Yaitu kitab-kitab yang dibikin oleh para ulama yang tulus, bersih, jujur, wira’i, dan hanya berharap ridha dari Allah. Bukan untuk mendapat ganti cetak (royalti) yang melebihi harga cetaknya.

Beliau-beliau menulis bukan karena uang, ketenaran, jabatan atau yang lainnya, tapi karena mengharap Ridla Allah semata. 

Maka, anda yang belajar di pesantren dan membelajari kitab karya ulama-ulama terdahulu harus bersyukur. Dan banggalah, jangan minder. Dan jangan berhenti belajar. 

Usahakan apa yang anda pelajari menjadi laku dan menancap dalam hati. Karena soal hatilah yang paling sulit di dunia ini. 

Kalau soal ilmu dunia, skill, itu mudah. Tapi soal hati ini sulit. Banggalah jadi santri. 

Kiai Mahrus Ali, guru saya, itu ya cuma mengaji di pesantren seperti ini, tapi beliau bisa mencari solusi problem-problem kebangsaan, dan sering dengan Bung Karno dan tokoh bangsa lainnya. 

Mbah Hasyim Asy’ari dulu juga begitu, dengan mempelajari kitab-kitab para ulama salaf. Toh beliau mampu berkontribusi banyak untuk bangsa dan negara. 

Jangan minder jadi santri. Bila perlu, pakailah identitasnya, seperti sarung dan peci misalnya. 

Mbah Mahrus Ali dulu pakai sarung, tak pernah pakai celana. Toh beliau diterima oleh segenap tokoh bangsa. 

Pula Kiai Hasyim Asy’ari, yang oleh Jepang dianggap Bapak Umat Islam Indonesia, kemana-mana sering pakai sarung. Dan beliau-beliau mampu menjadi rujukan persolan agama, bangsa dan negara. 

Dan para kiai hari ini juga sebenarnya bukan tidak mengerti persoalan bangsa. Hanya karena memang ada yang sementara diam. Karena memang, dari kitab ulama salaf yang diajarkan di pesantren itu, bisa untuk apa-apa. 

Maka, banggalah jadi santri. Jangan pernah merasa minder. 
Nanti bangsa dan negara ini akan butuh kalian. Butuh orang-orang yang jujur dan berakhlak. 

Kita bisa lihat, bagaimana kondisi negara ini hancur ditangan orang terdidik. 

BLBI belum selesai, ada Century. 
Century belum selesai, ada lagi dan lagi. Terus begitu, saking ruwetnya. 

Mereka tak akan kuat terus menerus seperti itu. Masalah belum ketemu solusi, sudah masalah lagi. Ini persoalan utama ada pada manusianya. 

Nah, dalam beberapa tahun kedepan, bangsa dan negara akan butuh kalian, butuh orang orang yang jujur, bisa dipercaya. 

Orang-orang akan datang ke kita, ketika ketidakjujuran dan saling-tipu sudah membabi buta dimana-mana. 

Mantapkanlah ilmu sampai kedalam hati. Meski kelak kamu jadi apa saja, dan melanglangbuana ke Eropa misalnya, hati kalian masih berpijak pada pesantren ini, memegang apa yang diajarkan para kiai dan ulama salaf. 

Dan jangan lupa, untuk senantiasa shalat di awal waktu, dan lebih-lebih dilakukan secara berjamaah. Jika sudah beristri kelak, jadilah imam istri kalian dalam shalat berjamaah. 

Jika anda sekalian memenuhi kewajiban kalian, Insya Allah nanti Allah sendiri yang menata kalian. 
Kadang kita ini malu. Bahkan, Ibnu Athaillah sendiri heran: 

Kenapa untuk disuruh masuk surga saja harus “dipaksakan”. Ini kan mengherankan. Coba saja: 

shalat subuh berjamaah, misalnya, itu jelas sangat utama, jalan menuju syurga, tapi sulit orang menjalankannya. Padahal itu jalan menuju kebahagiaan.  
Hal-hal yang wajib, lebih-lebih yang sunnah, itu kan dari Allah agar kita menuju ke kebahagiaan, tapi seringkali sulit orang melaksanakan. 
Demikian, mudah-mudahan ini semua bermanfaat untuk kita semua. Amin Allahumma Amin. *** 

Nasihat-nasihat itu, kurekam dalam kepala. Kuolah dengan penangkapanku, kemudian kusarikan dalam tulisan ini dengan caraku sendiri, yang jelas tak persis seluruhnya. 

Kuambil yang ingat-ingat saja, kutambahkan dan kurangi apa yang menurutku membantu pemahaman. 

Nasehati itu disampaikan oleh sang kiai sepuh ketika mengisi ceramah pada khataman Kitab Ihya dan Al-Hikam. Meski hanya sebentar, nasehat Kiai Sepuh itu begitu bermakna, dan mengingatkan kembali nilai-nilai islami dan kesantrian. 

Kuketahui kemudian, kiai sepuh itu adalah almarhum KH. Abdul Aziz Mansyur, Pimpinan Pesantren Paculgowang. 

Mbah Aziz, begitu beliau bisa disapa, kemudian banyak menelurkan dan menyunting buku. Bahkan beliau menjadi pimpinan tertinggi (Ketua Dewan Syuro) PKB, dikenal kealimannya, serta menjadi tokoh nasional. Beliau bercerita semasa nyanti di Pesantren Lirboyo, Kediri. 
Dan ceramah itu, ditayangkan di TV9 malam jumat (28/12) lalu. 

Untuk beliau, al-Faatihah. 

(Ahmad Naufa) 

Kamis, 14 Januari 2021

Satu Jurus Bidah

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah ra bahwasannya Rasul saw menyampaikan pesan dalam khutbanya (sebagian diantaranya adalah) : 

وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

Sejelek-jelek perkara adalah perkara yang diada-adakan (baru), dan “KULLU” perkara yang diada-adakan (baru) adalah bid’ah, dan “KULLU” bid’ah adalah kesesatan”  

[HR. An Nasa’i]

Catatan Alvers

Hadits ini menjadi “rukun”  pembuka khutbah atau ceramah dari kalangan yang mendakwahkan dirinya sebagai gerakan puritanisme. 

Hadits ini menjadi pokok pertentangan antara yang pro dan kontra dengan mereka. Fokus persoalannya terletak pada lafadz “KULLU”. 

Kebanyakan orang memaknai lafadz "KULLU" dengan arti semua atau setiap ataupun "tanpa kecuali" padahal jika kita teliti dalam bahasa arab bahwa makna dari lafadz "Kullu" adalah tidak selalu dimaknai "semua" akan tetapi ada sebagian lafadz "Kullu" bermakna "Sebagian", seperti pada firman Allah yang berbunyi : 

وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ

Dan kami menjadikan dari air; “KULLA” makhluk hidup

 [QS Al-Anbiya : 30]

Lafadz “KULLA” disini haruslah diterjemahkan dengan arti : SEBAGIAN sehingga ayat itu berarti: Kami ciptakan dari air sperma; SEBAGIAN makhluk hidup, karena pada kenyataannya tidak semua makhluk yang diciptakan Allah berasal dari air. 

Coba perhatikan firman Allah yang menceritakan tentang penciptaan Iblis dan adam yang berbunyi: 

خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

"Engkau (Allah) telah menciptakan aku (iblis) dari api sedangkan engkau menciptakannya (adam) dari tanah liat".

[QS Al-A’raf : 12]

Dengan demikian, ternyata lafadz KULLU tidak dapat diterjemahkan secara mutlak dengan arti : setiap / semua, sebagaimana umumnya jika merujuk ke dalam kamus bahasa Arab umum, karena hal itu tidak sesuai dengan kenyataan.

Maka dari itu tidak semua bid’ah itu sesat. 

Imam Syafi’i dalam kitab Fathul Bari menyebutkan:

الْبِدْعَة بِدْعَتَانِ : مَحْمُودَة وَمَذْمُومَة ، فَمَا وَافَقَ السُّنَّة فَهُوَ مَحْمُود وَمَا خَالَفَهَا فَهُوَ مَذْمُوم

Bid’ah itu ada dua: terpuji dan tercela. Bid’ah yang sesuai dengan sunnah berarti terpuji, sedangkan yang menyelisihinya berarti tercela.

Namun orang yang anti bid’ah hasanah, mereka bertanya: 
“kalau memang ada sesuatu yang dinilai baik pada zaman sekarang niscaya kebaikan itu telah dilakukan oleh para salaf”. 

Sebagaimana slogan yang sering mereka kemukakan: 

لأنه لو كان خيرا لسبقونا إليه

jika suatu perbuatan itu dinilai baik maka sudah pastilah mereka (salaf) mendahului kita dalam melakukannya 

[Tafsir Ibn Kathir, IV, 190]

Kiranya statement ini juga dibantah oleh imam Syafi’i yang dinukil dalam kitab dalam Husnu at-Tafahhum, beliau berkata:

كل ما له مستند من الشرع فليس ببدعة ولو لم يعمل به السلف

Setiap perkara yang memiliki landasan dari syari’atnya, maka bukanlah bid’ah walaupun tidak dilakukan oleh ulama salaf.

Dalam prakteknya, para sahabat banyak melakukan sesuatu kebaikan yang tidak pernah dilakukan sama sekali oleh Rasul saw. Jikalau ada seseorang yang patut mengerjakan semua kebaikan dan tidak menyisakannya sedikitpun dari kebaikan maka itu adalah Rasul saw. 
Namun kenyataan berkata lain, Ketika Umar bin Khaththab memberi isyarat kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk mengumpulkan Al-Quran dalam satu mushaf karena banyak sahabat penghafal quran telah gugur dalam perang yamamah maka Abu Bakar berkata:

كيف نفعل شيئا لم يفعله رسول الله صلى الله عليه وسلم؟

“ Bagaimana kita akan melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasul saw?

 [HR Bukhari]

Generasi berikunya juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Imam Malik, beliau melakukan qunut witir, dan beliau pun mengatakan bahwa itu tidak pernah dilakukan sahabat akan tetapi itu baik

 [al-Hawadits wal Bida’].

 Imam Syafi’i melafazkan Niat sholat padahal Nabi dan sahabat tidak pernah melakukannya 

[Al-Mu’jam]. 

Urwah bin Zubair ketika hendak makan memabaca doa yang tidak diajarkan oleh Nabi saw dan para sahabatnya

 [Al-Mushannaf].

Kondisi ini mengukuhkan statemen di atas bahwa tidak selamanya kebaikan itu harus dilakukan oleh pendahulu kita yang dikemukakan imam syafi’i di atas dalam prakteknya “disetujui” oleh syeikh Ibn Baz, sehingga ulama kenamaan arab saudi ini berfatwa dalam situsnya tentang bolehnya membaca doa khatam al-Quran di dalam sholat dan tidak termasuk bid’ah meskipun tidak ada contoh dari Rasul maupun dari para sahabat yang merupakan acuan ibadah. 

Selanjutnya ia beragumen karena tidak ada seorang pun dari ulama salaf yang mengingkari doa khatam al-Quran di dalam sholat, dan tidak ada seorang pun yang mengikarinya jika dilakukan di luar sholat. 

Selanjutnya ia mengakhiri fatwanya dengan tantangan bagi orang yang melarangnya, ia berkata :  

 فمن قال: إنه منكر فعليه بالدليل

maka barangsiapa yang mengingkarinya (bolehnya membaca doa khatam quran dalam sholat), wajib ia mengemukakan dalilnya

 “Wallahu A’lam. 

Semoga uraian singkat ini menjadikan orang sadar bahwa tidak semua bid’ah itu jelek sehingga tidak mudah membid’ahkan perbuatan baik yang dikerjakan orang lain.

Minggu, 20 Desember 2020

Bhumi Pun Segan Padanya

Saat menulis tulisan ini aku sedang berada di bis menuju Madinah, kota cahaya yang menjadi impian para pecinta dan perindu itu. disanalah bersemayam pelipur lara dan penyejuk mata mereka, manusia teragung dan termulia yang pernah tercipta di muka bumi ini, Baginda Nabi Muhammad Saw. 

Madinah tak henti-hentinya menyajikan untuk kita kisah-kisah para pecinta Rasulullah Saw, mereka yang sepanjang hayatnya memendam rasa rindu yang begitu dalam kepada Baginda Nabi, mereka  yang tak henti-hentinya menantikan hari itu, hari dimana mereka bisa berkumpul dengan beliau, menatap wajahnya, menikmati indah senyumnya, dan menyucup tangan mulianya. 

Salah satu dari para pejuang cinta itu adalah seorang ulama dari Suriah yang bertahun-tahun jasadnya tak pernah lepuh ditelan bumi. Pemakaman Baqi’ menjadi saksi kekal abadi cintanya…

Namanya Syaikh Isa Al-Bayanuni, seorang ulama yang berasal dari “Bayanun” salah satu desa yang menjadi bagian kota Aleppo di Suriah. 

Semasa hidupnya , ia dikenal sebagai sosok yang mempunyai ikatan batin yang begitu erat dengan Baginda Nabi Rasulullah Saw, ia juga mempunyai julukan ” Maddah Arrasul ” atau Sang pemuja Rasulullah Saw karena begitu banyaknya bait-bait syair yang ia karang untuk memuji Baginda Nabi. 

Pada tahun 1362 H beliau melaksanakan Ibadah haji bersama beberapa muridnya, ini adalah haji ke delapannya. biasanya beliau akan langsung menuju Madinah sebelum ke Mekkah untuk mengobati rasa rindunya kepada Rasulullah Saw. tapi tidak ditahun itu, beliau malah mengajak murid-muridnya untuk pergi ke Mekkah terlebih dahulu. 

Di Mekkah beliau menyempatkan diri untuk menghadiri perkumpulan para ulama di rumah Sayyid Alawi Bin Abbas Al-Maliki. kala itu terjadi perbincangan diantara mereka tentang satu Ibarat Tasawwuf yang rumit dan sulit dipahami. para ulama satu persatu menyampaikan uraian dan penjelasannya. Sampai ke giliran Syaikh Isa, beliau menjelaskan Ibarat itu dengan penjelasan yang mengagumkan. Sayyid Alawi bertanya :

” Wahai Syaikh Isa.. dari mana anda mendapatkan keterangan yang menakjubkan ini.. ? “

” aku membacanya di salah satu kitab manuskrip yang aku miliki.. ” jawab Syaikh Isa. 

” bisakah  di musim haji tahun depan anda bawa kitab itu kesini.. ?” Sayyid Alawi menimpali..

Syaikh Isa tersenyum.. Sebuah senyuman yang mengundang tanya Sayyid Alawi dan para ulama yang hadir di waktu itu.. Beliau lantas berkata :

” kalian memintaku untuk membawa kitab itu kesini tahun depan ?? Tahun ini aku tidak akan kembali lagi ke negaraku.. ” 

Setelah melihat wajah-wajah ulama yang hadir tampak terheran-heran akan perkataannya itu, beliau lalu menyambung ucapannya : 

” aku memang tak akan kembali ke Suriah lagi, aku melihat Rasulullah Saw dalam mimpiku, beliau membawa kabar gembira dan berkata : 

” aku sudah menyiapkan tempat khusus untukmu di dekatku wahai Syaikh Isa..”

Dari situ aku tahu bahwa aku tak akan kembali lagi ke negaraku, karenanya tahun ini aku datang ke Mekkah terlebih dahulu untuk melaksanakan haji untuk kemudian datang ke Madinah dan mendatangi “tempat khusus” itu.. “

Semua ulama yang hadir tertunduk mendengar ucapannya, padahal waktu itu Syaikh Isa masih sehat-sehat saja. Beliau baru merasakan sakit perut pada hari terakhir di Mina. Beliau lantas meminta murid-muridnya untuk langsung membawanya ke Madinah. disana beliau di rawat di rumah sakit selama 3 hari sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhir untuk menjemput kabar gembira yang Rasulullah Saw berikan untuknya itu.. 

Beliau akhirnya dimakamkan di Madinah di pemakaman Baqi’. setiap 3-4 tahun sekali, biasanya makam-makam di Baqi’ dibongkar untuk kemudian digantikan jenazah-jenazah yang lain. 

4 tahun setelah kewafatan Syaikh Isa, makamnya dibongkar, dan benar-benar mengejutkan ! Jasad beliau masih segar dan utuh layaknya mayat yang baru dikubur kemarin sore ! 8 tahun setelah kewafatannya, makamnya dibongkar kembali dan jasad beliau masih saja utuh sama seperti 4 tahun sebelumnya. Akhirnya makam beliau tak pernah dibongkar lagi

Akhirnya makam beliau tak pernah dibongkar lagi dan diberi tanda khusus dan dikenal sebagai makam “Syaikh Syami” seorang Syaikh dari Bumi Syam yang  jasadnya tak pernah lepuh dimakan bumi. 

Dan yang lebih menakjubkan dari semua itu, Syaikh Isa sudah pernah “meramalkan” keutuhan jasadnya itu dalam bait-bait syairnya, dalam bait-bait yang begitu populer dan selalu disenandungkan para pecinta Baginda Nabi hingga detik ini.. 

هم بالحبيب محمد و ذويه * إن الهيام بحبه يرضيه 

Mabuk kepayanglah karena mencintai Rasulullah Saw dan keluarganya, sesungguhnya mabuk kepayang karena mencintai Baginda Nabi itu membahagiakan hatinya.. 

إن مات جسمك فالهوى يحييه * جسد تمكن حب احمد فيه * تالله إن الأرض لاتبليه 

jika jasadmu mati maka rasa cinta itu akan menghidupkannya.. Jasad yang cinta Rasulullah Saw mendarah daging di dalamnya, demi Allah.. Bumi tak akan pernah menghancurkannya.. 

طوبى لمن هو في المحبة صبه * لم لا و مولاه الكريم يحبه * في القبر حاشا ان يضام محبه * او كيف يأكله التراب و حبه * في قلبه و مديحه في فيه 

Sungguh beruntung orang yang hanya sibuk mencintai Rasulullah Saw. Bagaimana tidak ? Sedangkan Tuhannya yang Maha Mulia begitu mencintai beliau. Ia yang mencintai Rasulullah Saw tak akan pernah hancur dalam kuburnya. Bagaimana bisa tanah memakan jasadnya ? Sedangkan cinta kepada Rasulullah bersemayam dalam hatinya dan pujian-pujian kepada beliau selalu menghiasi bibirnya… 

Gus Isma'il al Kholili

Selasa, 17 November 2020

BEGINILAH ADAB MENEGUR DZURRIYAT RASULULLAH SAW YANG MELAKUKAN KESALAHAN

Oleh : KH Abdi Kurnia Djohan

Telah menjadi bagian dari adab di pesantren, jika ada anak kyai yang nakal, para ustadz dan santri yang ada di pesantren, tidak akan menegur atau bahkan menghardik anak kyai tadi, karena menghormati orang tuanya. Ditambah lagi ada keyakinan, biasanya anak kyai yang nakal itu, apabila telah sampai kepadanya futuh, dia akan menjadi ulama besar yang sangat disegani. Dan itu sudah terbukti. Kalaupun para ustadz atau para santri ingin menyampaikan keluh kesah tentang kenakalan anak kyai tadi, mereka akan menyampaikannya kepada keluarga atau kerabat kyai yang dekat hubungannya dengan para ustadz atau santri tadi. 

Demikian pula keadaannya dengan para habaib atau alawiyyin. Jika ada seorang sayyid yang perilakunya tidak berkenan di mata umat, biasanya itu diadukan kepada habib yang dekat hubungannya dengan sayyid yang bersangkutan. Jamaah tidak berani menegur sang sayyid, karena menaruh hormat kepada garis keturunannya. Kesungkanan itu bukan tanpa dasar. Ada semacam keyakinan, jika seorang sayyid berperilaku kurang berkenan, dikhawatirkan ia mengalami kondisi jadzab yang hanya bisa dipahami di kalangan mereka. 

Dua kondisi di atas tidak ada yang berbeda. Karena tradisi di kalangan habaib dan kyai, pada asalnya sama dan berasal dari satu jalur. Cara pandang sekuler yang kemudian mencoba memisahkan tradisi dua kelompok yang asalnya satu ini. Sehingga kini bisa dilihat habib diadu dengan kyai. Seolah-olah para habib adalah saingan para kyai, yang notabene mewakili pribumi. 

Jika terhadap anak kyai yang nakal saja bisa berlaku sungkan, kenapa tidak kepada anak habib? Seandainya memang mempunyai niat menjunjung akhlak, semestinya kekecewaan terhadap seorang habib itu, disampaikan kepada habib yang lebih sepuh dan bijak bukan mengumbarnya di media sosial. Sebab, jika dianggap penting untuk diumbar di media sosial, itu artinya niat menjunjung tinggi akhlak hanyalah dusta belaka. Sebab, tidaklah membenci seorang sayyid kecuali keturunan Abdullah bin Ubay bin Salul....na'udzu billah

Sumber : Dikutip melalui laman facebook KH Abdi Kurnia Djohan

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

Rabu, 07 Oktober 2020

Imam Malik dan Imam Syafi'i : Guru dan Murid Tertawa karena beda pendapat tentang rezeki.

Imam Malik (Guru Imam Syafi'i) dalam majlis menyampaikan bahwa Sesungguhnya rezeki itu datang tanpa sebab, cukup dgn tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan memberikan rezeki.

“Lakukan yg menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah mengurus lainnya".

Sementara Imam Syafi'i (sang murid berpendapat lain), bahwa seandainya seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia akan mendapatkan rezeki.

Guru dan murid ini pun bersikukuh pada pendapatnya masing-masing.

Hingga suatu saat imam Syafi'i sedang bepergian keluar pondok, Imam Syafi'i melihat rombongan orang yang sedang memanen Anggur, diapun membantu mereka.

Setelah pekerjaan selesai. Imam Syafi'i memperoleh imbalan beberapa ikat anggur sebagai balas jasa. Imam Syafi'i girang, namun bukan karena mendapatkan anggur, melainkan pemberian itu telah menguatkan pendapat nya.

Jika burung tak terbang dari sangkar, bagaimana ia akan mendapatkan rezeki. Seandainya dia tak membantu memanen, niscaya tdk akan mendapatkan anggur.

Bergegas Imam Syafi'i menjumpai Imam Malik Gurunya. Sambil memberikan oleh2 Anggur itu kpd Gurunya seraya berkata:

“seandainya saya tdk keluar pondok dan melakukan sesuatu (membantu memanen), tentu saja anggur ini tdk akan pernah sampai ditangan saya".

Mendengar itu Imam Malik tersenyum, seraya mengambil anggur dan mencicipinya. Imam Malik berucap:

“sehari ini aku memang tdk keluar pondok, hanya mengambil tugas sebagai guru, dan sedikit berpikir alangkah nikmatnya kalau dalam hari yg panas ini aku bisa menikmati anggur. Tiba-tiba engkau datang sambil membawakan beberapa ikat anggur untukku.

Bukankah ini juga bagian rezeki yg datang tanpa sebab. Cukup dgn tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan memberikan rezeki, lakukan yg menjadi bagian mu, selanjutnya biarkan Allah yg mengurus lainnya."

Kemudian mereka tertawa.

Dua imam besar mengambil dua hukum yg berbeda dari hadist yg sama. Begitulah cara ulama bila melihat perbedaan, bukan dgn menyalahkan orang lain & hanya membenarkan pendapatnya sendiri.

Sabtu, 03 Oktober 2020

Mereka yang durhaka atau menghina Allah Ta'ala yakni "MEMENJARAKAN" atau TERBATAS dengan Arsy

Mereka yang terjerumus Aashin (durhaka) atau menghina Allah Ta'ala TERBATAS dengan makhluk seperti contohnya mereka yang "MEMENJARAKAN" Allah Ta'ala TERBATAS dengan Arsy adalah AKIBAT mereka NGEYEL atau KEUKEUH (bersikukuh) atau MEMAKSA mentakwil atau memahami ISTIWA dengan MAKNA DZAHIR seperti ISTAQARRA yang artinya BERADA atau MENETAP TINGGI di atas Arsy secara hissi (materi, fisikal) 

Imam Abul Hasan al Asy'ari dalam "Maqalatul Islamiyin" jilid I hal 281 menuliskan, 

أنهم يقولون: إن البارىء ليس بجسم ولا محدود ولا ذي نهاية

Mereka (ahlus sunnah) berkata, "Sesungguhnya Allah bukan jism, tidak berhadd (TIDAK TERBATAS) dan TIDAK BERJARAK"

Pengertian ولا حد , (TIDAK TERBATAS) adalah Allah Ta'ala TIDAK TERBATAS pada salah satu di antara enam arah (atas, bawah, kiri, kanan, depan, belakang)

Begitupula Imam Abul Wahid At Tamimi (W 410 H, ulama yang paling dekat zamannya dengan Imam Ahmad) membawakan riwayat Imam Ahmad di dalam kitab Beliau "I'tiqad Imam Al Munabbal Abi Abdillah Ahmad bin Hanbal hal 38; 

والله تعالى لم يلحقه تغير ولا تبدل ولا يلحقه الحدود قبل خلق العرش ولا بعد خلق العرش

"Dan Allah Ta'ala tidak mengalami perubahan dan TIDAK TERBATAS oleh hadd, baik sebelum Allah menciptakan Arsy, maupun setelah Allah menciptakan Arsy"

Ulama yang diakui sebagai mujaddid abad ke 4 hijriah, Imam al Baihaqi (W 458 H)  mengingatkan bahwa 

من فوق السماء علی معنی نفي الحد عنه

Dzat di atas langit berdasarkan makna MENAFIKAN BATAS (al hadd) darinya.

Imam al Baihaqi dalam kitab al I'tiqad (Beirut: 'Alam al Kutub hal. 72) telah menjelaskan lebih lanjut, "Wajib untuk mengetahui bahwa Istiwanya Allah Subhanahu wa  Ta'ala bukanlah istiwa yang berarti tegak dari bengkok, bukan bersemayam pada tempat, bukan menempel pada makhluk-Nya, akan tetapi Allah istiwa atas Arsy'-Nya tanpa disifati dengan sifat makhluk dan tanpa tempat. Allah tidak serupa dengan seluruh makhluk-Nya.

Imam sayyidina Ali karamallahu wajhah mengingatkan bahwa orang yang menganggap Tuhan BERBATAS dengan makhluk contohnya BERBATAS dengan arsy adalah mereka yang jahil yakni belum mengenal Allah (makrifatullah) 

Imam Sayyidina Ali karamallahu wajhah berkata

من زعمأن إلهنا محدود فقد جهل الخالق المعبود

”Barang siapa menganggap bahwa Tuhan kita mahdud/terbatas maka ia telah jahil, tidak mengenal Tuhan Sang Pencipta.” (Hilyatul Awliyâ’; Abu Nu’aim al Isfahani,1/73)

Padahal jika BELUM MENGENAL Allah dapat berakibat amal ibadah sepanjang hidupnya tidak diterima oleh Allah Azza wa Jalla. 

Imam Ghazali berkata:

لا تصح العبادة إلا بعد معرفة المعبود

“Tidak sah ibadah (seorang hamba) kecuali setelah mengetahui (mengenal Allah) yang wajib disembah”.

Pada kenyataannya, para pendaku Salafi yakni orang-orang yang hidup zaman (now) atau zaman khalaf (kemudian) namun mengaku-ngaku mengikuti Salaf (terdahulu) dan menisbatkan sebagai salafi serupa dengan firqah Karramiyah yang dipelopori oleh Muhammad Ibnu Karram (W 255 H) 

Firqah Karramiyah adalah orang-orang yang beraqidah mujassimah yakni orang-orang yang NGEYEL atau KEUKEUH (bersikukuh) atau MEMAKSA MENTERJEMAHKAN dan MEMAHAMI ayat mutasyabihat (banyak makna) terkait sifat Allah secara hissi (inderawi / materi / fisikal) atau secara hakikat (makna hakikat) yakni MAKNA DZAHIR dari suatu lafadz SEHINGGA mereka terjerumus MEN-JISM-KAN Allah Ta'ala. 

Mereka mensifatkan Allah Ta'ala dengan sifat-sifat jism (benda/fisikal) seperti mengisbatkan (menetapkan) anggota badan, arah atau tempat, ukuran, batasan atau berbatas dengan ciptaanNya dan sifat fisikal lainnya. 

Imam Abu Hanifah dalam kitab Al-Fiqhul-Akbar mengingatkan bahwa Allah Ta’ala tidak boleh disifatkan dengan sifat-sifat benda seperti ukuran, batasan atau berbatas dengan ciptaanNya , sisi-sisi, anggota tubuh yang besar (seperti tangan dan kaki) dan anggota tubuh yang kecil (seperti mata dan lidah) atau diliputi oleh arah penjuru yang enam arah (atas, bawah, kiri, kanan, depan, belakang) seperti halnya makhluk (diliputi oleh arah).

Imam Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib telah mengingatkan bahwa “Sebagian golongan dari umat Islam pada akhir zaman akan kembali kafir (maksudnya kufur dalam i'tiqod) karena mereka MENGINGKARI Pencipta mereka dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat benda (seperti arah maupun tempat) dan anggota-anggota badan.” (Imam Ibn Al-Mu’allim Al-Qurasyi (w. 725 H) dalam Kitab Najm Al-Muhtadi Rajm Al-Mu’tadi).

Imam Ibnu Hajar Haitami mengatakan bahwa mereka (al karramiyyah) percaya bahwa Tuhan adalah Dzatnya menetap di atas Arsy, menempel dan beristirahat di atasnya, dan kemudian turun setiap sepertiga malam terakhir ke langit dunia dan kemudian kembali ke  tempatnya saat fajar. 

Imam Asy Syahrastani  (W 578) Rahimahullah mengatakan :
.
نص أبو عبد الله على أن معبوده على العرش استقرارا، وعلى أنه بجهة فوق ذاتا وقال بعضهم: امتلأ العرش به، وصار المتأخرون منهم إلى أنه تعالى بجهة فوق، وأنه محاذ للعرش وقال محمد بن الهيصم: إن بينه وبين العرش بعدا لا يتناهى، وإنه مباين للعالم بينونة أزلية
.
Abu Abdillah (Ibnu Karram) menjelaskan bahwa yang dia sembah menetap di atas 'Arsy dan bahwasanya Dzatnya ada di arah atas dan sebagian Karramiyah berkata, "Arsy penuh dengan Dzat ALLAH." namun orang-orang belakangan dari mereka berpendapat bahwa ALLAH Ta'ala di arah atas, Dia lurus dengan 'Arsy dan Muhammad Bin Al-Haisham (imam kedua Karramiyah) berkata bahwa sesungguhnya antara ALLAH dan antara 'Arsy ada jarak yang tak terhingga dan sesungguhnya ALLAH terpisah dari alam dengan jarak yang Azali. (Al-Milal Wa An-Nihal : 1/109) 

Mereka ada juga yang berkeyakinan bahwa Tuhan tidak bertempat NAMUN berada di arah atas karena menurut mereka tempat itu masih alam sedangkan Tuhan itu di luar alam. 

Berikut kutipan tulisan mereka, 

****** awal kutipan ******
Tidak betul, sudah dijelaskan para ulama salaf bahwa memang zat Allah itu di arah atas, tapi mereka memang tidak menamakan itu semua tempat karena Allah itu di luar alam sehingga tak berlaku lagi tempat di luar alam karena tempat itu masih alam.
***** akhir kutipan ******

Jadi mereka berkeyakinan Tuhan berada di arah atas dan di atas Arsy ada yang namanya “bukan tempat”. 

Adapula yang lain menamakannya makan ‘adami dan kalau diartikan adalah "tempat ketiadaan" 

Namun mengapa dalam peristiwa Mi'raj, justru ada mereka yang menyatakan berada satu tempat dengan Rasulullah. 

Apakah Rasulullah yang keberadaannya berbentuk fisik itu juga bisa berada di "tempat ketiadaan" itu? 

Ironisnya keyakinan (i'tiqod/akidah) mereka tentang adanya "bukan tempat" atau "tempat ketiadaan" (makan 'adami) dinisbatkan atau dilabeli sebagai keyakinan ulama salaf

Padahal istilah "bukan tempat" atau makan 'adami (tempat ketiadaan) tidak pernah dikatakan oleh Salafush Sholeh karena tidak ada dalam Al Qur'an maupun Hadits. 

Jadi istilah "bukan tempat" atau makan 'adami (tempat ketiadaan) adalah contoh bid'ah sayyiah (bid'ah dholalah) karena bertentangan dengan Al Qur'an dan Hadits.

Mereka mengatakan, 

***** awal kutipan *****
Apa yang dikatakan oleh Ad Darimi memang begitulah faktanya bahwa memang yang di atas langit LEBIH DEKAT kepada Allah secara hisssi (materi / fisikal) dari pada yang di bumi. Adapun kedekatan kala sujud maka itu adalah kedekatan maknawi" 
****** akhir kutipan *****

Ad Darimi yang mereka ikuti pendapatnya adalah Utsman bin Sa’id Ad-Darimi (w 280 H) BUKANLAH Ad Darimi ulama besar ahli hadits terkemuka yang telah menulis kitab Sunan ad Darimi yakni Abdullah ibn Abdul Rahman ad-Darimi (w 255H) 

Hal ini mengingatkan kami kepada percakapan antara mbah Lalar dengan kang Bangkak yang meyakini (beri’tiqod) bahwa Tuhan nya di arah atas atau bertempat di langit 

“Mau kemana kang Bangkak pagi pagi sudah membawa cangkul “ sapa mbah Lalar yang bikin kaget kang Bangkak

“Mau menggali sumur mbah“ jawab kang Bangkak

“Kenapa engkau melakukan hal hal yang dapat menjauhkan mu dari Tuhan?” ucap mbah Lalar sambil tersenyum.

“Maksudnya bagaimana mbah?” Kang Bangkak mulai bingung

“Bukankah Tuhan mu ada di langit? “

“Iya, lantas?”

“Kenapa engkau menggali sumur ? Bukankah itu bisa menjauhkan mu dari langit?

“Haaaa ?!?” Kang Bangkak pun langsung pergi dengan wajah sewot.

Begitupula para ulama terdahulu telah MELARANG mensifatkan atau menjismkan Dzat Allah Ta’ala seperti mengatakan bahwa Allah memiliki wajah, tangan, kaki WALAUPUN dikatakan semua itu tidak serupa dengan makhluknya karena hal ini sudah termasuk ‘AASHIN yakni DURHAKA atau MENGHINA Allah Ta’ala. 

Syaikh Al-Akhthal dalam kitab ilmu tauhid berjudul “Hasyiyah ad-Dasuqi ‘alaUmmil Barahin” menjelaskan bahwa barangsiapa mengi’tiqadkan (meyakinkan) bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mempunyai jisim (bentuk seperti tangan, kaki) namun tidak serupa dengan jisim (bentuk tangan, kaki) makhlukNya, maka orang tersebut hukumnya ‘aashin atau orang yang telah berbuat durhaka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. I’tiqad yang benar adalah i’tiqad yang menyatakan bahwa sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala itu bukanlah seperti jisim dan bukan pula berupa sifat. Tidak ada yang dapat mengetahui Dzat Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali Dia.

Contoh KEDURHAKAAN ('Aashin) ustadz mereka terhadap Allah Ta'ala yakni dengan ustadz mereka berkeyakinan kaki tuhan mereka ditempatkan di kursi dan terkadang dibenamkan di neraka jahanam, sedangkan kursi maupun neraka jahanam di bawah Arsy maka kaki tuhan mereka MENJUNTAI dari Arsy ke bawah karena ustadz mereka berkeyakinan pula tuhan mereka berada (istaqarra) di atas Arsy. 

Ustadz mereka ketika memaknai Allah Maha Besar mengatakan bahwa kenapa Allah itu tidak kelihatan karena (ukuran) Allah terlalu besar untuk dilihat. 

Tuhan mereka (berukuran) sangat besar dibuktikan dengan (ukuran) kakinya yang ditempatkan di kursi sebagaimana yang dapat disaksikan dalam video pada https://youtu.be/ysCisMiaHxs

***** awal kutipan *****
Ayat kursi berarti informasi tentang pijakan kakinya Allah di singgasanaNya.

Pijakan kakiNya saja sudah semua tertutupi langit dan bumi
..... 
Allah itu Maha Besar. Jadi kenapa Allah itu tidak kelihatan karena Allah terlalu besar untuk dilihat”
***** akhir kutipan *****

Beliau tampaknya terpengaruh oleh paham WAHABISME yakni ajaran atau pemahaman ulama Najed dari bani Tamim, Muhammad bin Abdul Wahhab (W 1206 H) yang dijuluki "duplikat" Ibnu Taimiyyah (W 728 H)

Paham Wahabisme dibiayai dan disebarluaskan oleh kerajaan dinasti Saudi.

Contohnya dapat kita temukan dalam mushaf Al Madinah An Nabawiyah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dicetak di Komplek Percetakkan Al Qur’an Al Karim kepunyaan Raja Fahd yang biasa menjadi oleh-oleh bagi Jama’ah haji atau umroh Indonesia, pada CATATAN KAKI (footnote) ketika menafsirkan QS Al Baqarah [2]:255. 

***** awal kutipan ****
161) “Kursi dalam ayat ini oleh sebagian mufassirin mengartikan Ilmu Allah, ada juga yang mengartikan kekuasaan-Nya. Pendapat yang shahih terhadap makna “Kursi” ialah tempat letak telapak Kaki-Nya.”
***** akhir kutipan ****

Salah satu contoh dalil yang mereka pergunakan untuk meyakini Tuhan mereka memiliki dua buah kaki di tempatkan di kursi seperti

Ibnu Abbas radhiallahu anhu berkata, “Al-Kursy adalah tempat kedua kaki, sedangkan Arsy tidak ada seorang pun yang dapat memperkirakan ukurannya.”

Berikut kutipan penjelasan Ibn al Jawzi terkait riwayat tersebut,

***** awal kutipan ****
Riwayat ini ditetapkan oleh Ahl al-Itsbat, mereka mengatakan bahwa ini hadits mawqûf dari sahabat Ibnu Abbas, di antara mereka ada satu orang bernama Syuja bin Mukhallad mengatakan bahwa riwayat ini marfû’ berasal dari Rasulullah. Pernyataan Syuja bin Mukhallad yang mengatakan bahwa hadits ini marfû’ menyalahi riwayat para perawi terkemuka lainnya yang telah menetapkan bahwa hadits ini hanya mawqûf saja, dengan demikian pernyataan Ibnu Mukhallad ini adalah salah

Adapun pemahaman hadits tersebut adalah bahwa besarnya al-Kursiy dibanding dengan arsy adalah bentuk yang sangat kecil sekali. Perumpamaan besarnya kursi hanyalah seukuran dua telapak kaki seorang yang duduk di atas ranjang

Ad-Dlahhak berkata: “Kursi adalah tempat yang dijadikan pijakan dua kaki oleh para raja yang berada di bawah tempat duduk (singgasana) mereka”.
***** akhir kutipan *****

Jadi hadits tersebut jika tetap hendak diterima adalah sekedar untuk memperbandingkan besarnya kursi Allah dengan Arsy Nya. Tidak lebih dari itu.

Selain ustadz mereka beraqidah, beri'tiqod atau berkeyakinan Tuhan mereka berkaki dua ditempatkan di kursi dan terkadang dibenamkan di neraka jahannam sebagaimana video pada https://www.youtube.com/watch?v=Xr3mZmNORhQ 

Contoh dalil yang mereka pergunakan untuk meyakini Tuhan mereka memiliki dua buah kaki yang terkadang dibenamkan di neraka jahannam.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Setiap kali Jahannam dilempari (dengan penghuninya) ia (Jahannam) senantiasa mengatakan, “Masih adakah tambahan?” Sehingga Rabbul ‘Izzah (Allah) meletakkan telapak kaki-Nya didalamnya -dalam riwayat lain, meletakkan telapak kaki-Nya di atasnya-. Maka sebagiannya mengisutkan kepada sebagian lainnya, lalu ia (Jahannam) berkata, “Cukup… cukup…!” (Riwayat Bukhari, no: 4848 dan Muslim, no: 2848)

Al-Imam al-Hafizh Ibnul Jawzi berkata: “Wajib bagi kita berkeyakinan bahwa Dzat Allah bukan benda yang dapat terbagi-bagi, tidak diliputi oleh tempat, tidak disifati dengan berubah, dan tidak disifati dengan berpindah-pindah. Telah diriwayatkan dari Abu Ubaid al-Harawi dan Imam al-Hasan al-Bashri, bahwa ia (al-Hasan al-Bahsri) berkata: Yang dimaksud “ قدم ” (makna dzahirnya kaki) dalam hadits di atas adalah orang-orang yang didatangkan (dimasukkan) oleh Allah dari para makhluk-Nya yang jahat di dalam neraka Jahanam”.

Jadi mereka terjerumus Aashin (durhaka) atau menghina Allah Ta'ala akibat METODE PEMAHAMAN mereka SELALU dengan MAKNA DZAHIR sehingga mereka mengatakan bahwa,

Tuhan punya dua kaki namun tidak serupa dengan kaki makhlukNya, kaki Tuhan ditempatkan di kursi dan terkadang di neraka, 

Tuhan punya dua tangan namun tidak serupa dengan tangan makhlukNya, kedua tangan Tuhan adalah kanan sebagaimana contoh tulisan mereka pada http://asysyariah.com/dua-tangan-allah/

Tuhan punya wajah namun tidak serupa dengan wajah makhlukNya, wajah Tuhan tanpa kepala.

Pembesar mazhab Hambali yakni, Al-Imam al-Hafizh Ibn al Jawzi ketika menyampaikan tentang firqah mujassimah bahwa mereka tidak mendapatkan nash / dalil shorih bahwa Allah memiliki kepala. 

***** awal kutipan ******
Sementara tentang kepala mereka berkata, “Kami tidak pernah mendengar berita bahwa Allah memiliki kepala”
***** akhir kutipan *****

Begitupula Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam Hasyiyah al-‘Allaamah Ibn Hajar al-Haitami ‘alaa Syarh al-Idhah fii Manasik al-Hajj telah mengingatkan bahwa Ibnu Taimiyyah itu telah MENGHINA atau DURHAKA kepada Allah Ta’ala KARENA mensifatkan Allah Ta’ala dengan sifat benda seperti arah dan tempat maupun mensifatkan Allah Ta’ala dengan anggota-anggota badan seperti tangan, kaki, mata, dan lain sebagainya. 

***** awal kutipan *****
Oleh karena terhadap Allah saja dia telah melakukan penghinaan.

Kepada Allah; Ibnu Taimiyah ini telah menetapkan arah, tangan, kaki, mata, dan lain sebagainya dari keburukan-keburukan yang sangat keji.

Ibn Taimiyah ini telah dikafirkan oleh banyak ulama, –semoga Allah membalas segala perbuatan dia dengan keadilanNya dan semoga Allah menghinakan para pengikutnya; yaitu mereka yang membela segala apa yang dipalsukan oleh Ibn Taimiyah atas syari’at yang suci ini.”
***** akhir kutipan *****

Berdasarkan pernyataan Imam Ibnu Hajar al-Haitami di atas bahwa ulama panutan mereka, Ibnu Taimiyyah telah dikafirkan yakni ditetapkan kufur dalam i’tiqod oleh banyak ulama maka perlu dikaji ulang penggelaran syaikhul Islam kepada Beliau.

Contohnya ulama seperti Al ‘Allamah ‘Ala ad-Din al Bukhari al Hanafi (W 841 H). Beliau mengkafirkan yakni menetapkan kufur dalam i’tiqod bagi Ibnu Taimiyah dan orang yang menyebutnya Syaikhul Islam, maksudnya orang yang menyebutnya dengan julukan Syaikhul Islam, sementara ia tahu perkataan dan pendapat-pendapat kufurnya. Hal ini dituturkan oleh Al Hafizh as-Sakhawi dalam Adl-dlau Al Lami’.

Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani yang “membela” ke-Syaikhul Islam-an Ibnu Taimiyyah MENGINGATKAN bahwa AMBIL YANG BAIK dan TINGGALKAN YANG BURUK dari Ibnu Taimiyyah

*** awal kutipan ***
ومع ذلك فهو بشر يخطئ ويصيب ، فالذي أصاب فيه – وهو الأكثر – يستفاد منه ، ويترحم عليه بسببه ، والذي أخطأ فيه لا يقلد فيه

“Meskipun demikian, beliau (Ibnu Taimiyyah) adalah manusia yang terkadang keliru dan terkadang benar. Kebenaran yang berasal dari beliau –dan kebanyakan pendapat beliau mencocoki kebenaran- maka kita ambil dan kita doakan beliau dengan rahmat. Ketika beliau keliru, maka tidak boleh diikuti pendapatnya”.
*** akhir kutipan ****

PERTANYAANNYA siapakah yang menghidupkan kembali pemahaman Ibnu Taimiyyah dan menyodorkan kitab-kitab Beliau setelah wafat lebih dari 350 tahun kepada ulama Najed dari bani Tamim, Muhammad bin Abdul Wahhab. 

***** awal kutipan *****
Untuk itu, beliau mesti mendalami benar-benar tentang aqidah ini melalui kitab-kitab hasil karya ulama-ulama besar di abad-abad yang silam.

Di antara karya-karya ulama terdahulu yang paling terkesan dalam jiwanya adalah karya-karya Syeikh al-Islam Ibnu Taimiyah.

Demikianlah meresapnya pengaruh dan gaya Ibnu Taimiyah dalam jiwanya, sehingga Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab bagaikan duplikat (salinan) Ibnu Taimiyah.
***** akhir kutipan *****

PERTANYAAN ini perlu disampaikan karena para ulama terdahulu justru telah melarang untuk membaca kitab-kitab Ibnu Taimiyyah dan para pengikutnya.

Contohnya Syaikh Ibnu Hajar Al-Haitami berkata, ” Maka berhati-hatilah kamu, jangan kamu dengarkan apa yang ditulis oleh Ibnu Taimiyyah dan muridnya Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah dan selain keduanya dari orang-orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah telah menyesatkannya dari ilmu serta menutup telinga dan hatinya dan menjadikan penghalang atas pandangannya. Maka siapakah yang mampu memberi petunjuk atas orang yang telah Allah jauhkan?”. (Al-Fatawa Al-Hadithiyyah : 203)

Imam Ibn Hajar Al-Haitami menyampaikan dengan menukil permasalahan-permasalahan Ibnu Taimiyyah yang menyalahi kesepakatan umat Islam, yaitu : (Ibnu Taimiyyah telah berpendapat) bahwa alam itu bersifat dahulu dengan satu macam, dan selalu makhluk bersama Allah. Ia telah menyandarkan alam dengan Dzat Allah Subhanahu wa Ta’ala bukan dengan perbuatan Allah secara ikhtiar, sungguh Maha Luhur Allah dari penyifatan yang demikian itu. Ibnu Taimiyyah juga berkeyakinan adanya jisim pada Allah Subhanahu wa Ta’ala arah dan perpindahan. Ia juga berkeyakinan bahwa Allah tidak lebih kecil dan tidak lebih besar dari Arsy. Sungguh Allah maha Suci atas kedustaan keji dan buruk ini serta kekufuran yang nyata (Al-Fatawa Al-Hadithiyyah halaman 116)

Begitupula pendiri ormas Nahdlatul Ulama (NU), KH. Hasyim Asyari telah mengingatkan kita untuk menghindari meneruskan kebid’ahan Muhammad bin Abdul Wahab al-Najdi, pendiri firqah Wahabi dan penerus kebid’ahan Ibnu Taimiyah sebelum bertaubat serta kedua muridnya, Ibnul Qoyyim Al Jauziah dan Abdul Hadi, sebagaimana yang termuat dalam Risalatu Ahlissunnah wal Jama’ah halaman 5-6

******* awal kutipan *******
Diantara mereka (sekte yang muncul pada kisaran tahun 1330 H.), terdapat juga kelompok yang mengikuti pemikiran Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Mereka melaksanakan kebid’ahan Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi, Ahmad bin Taimiyah serta kedua muridnya, Ibnul Qoyyim dan Abdul Hadi.

Al-‘Allamah Syaikh Muhammad Bakhit al-Hanafi al-Muth’i menyatakan dalam kitabnya Thathhir al-Fuad min Danas al-I’tiqad (Pembersihan Hati dari Kotoran Keyakinan) bahwa: “Kelompok ini sungguh menjadi cobaan berat bagi umat Muslim, baik salaf maupun khalaf. Mereka adalah duri dalam daging (musuh dalam selimut) yang hanya merusak keutuhan Islam.”

Maka wajib menanggalkan/menjauhi (penyebaran) ajaran mereka agar yang lain tidak tertular. Mereka laksana penyandang lepra yang mesti dijauhi. Mereka adalah kelompok yang mempermainkan agama mereka. Hanya bisa menghina para ulama, baik salaf maupun khalaf
****** akhir kutipan *******

FITNAH terhadap Salafush Sholeh timbul AKIBAT Ibnu Taimiyyah MENISBATKAN atau tepatnya MELABELKAN metode pemahamannya atau MAZHABNYA selalu dengan MAKNA DZAHIR sebagai mazhab atau manhaj salaf sebagaimana fatwanya dalam Majmu Fatawa 4/149 

***** awal kutipan *****
Barangsiapa mengingkari penisbatan kepada salaf dan mencelanya, maka perkataannya terbantah dan tertolak ‘karena tidak ada aib untuk orang-orang yang menampakkan mazhab salaf dan bernisbat kepadanya bahkan hal itu wajib diterima menurut kesepakatan ulama, karena MAZHAB SALAF itu PASTI BENAR
***** akhir kutipan *****

Bahkan disebarluaskan dongeng atau tepatnya fitnah bahwa Imam Asy'ari melalui 3 marhalah kehidupan atau 3 fase pemikiran yakni fase ketiga / terakhir adalah mengikuti MAZHABNYA Ibnu Taimiyyah. 

Ibnu Taimiyyah dikabarkan masih sempat bertaubat kepada Allah Ta'ala sebelum Beliau wafat dipenjara sehingga Beliau belum sempat menulis kitab-kitab untuk mengkoreksi kekeliruannya akibat MAZHAB atau METODE PEMAHAMAN Ibnu Taimiyyah dalam memahami apa yang telah Allah Ta’ala sifatkan untuk diri-Nya dalam ayat-ayat mutasyabihat (banyak makna) adalah SELALU dengan MAKNA DZAHIR dan mengingkari makna majaz (Ma’alim Ushulil Fiqh hal. 114-115).

Begitupula Ibnu Taimiyyah dalam Al Iman hal 94 berkata,

***** awal kutipan *****
"maka ini adalah dengan prakiraan adanya bentuk metafor (majaz) dalam bahasa. Sementara dalam al-Qur'an tidak ada bentuk metafor.

Bahkan pembagian bahasa kepada hakekat dan metafor adalah pembagian bid'ah, perkara baharu yang tidak pernah diungkapkan oleh para ulama Salaf.
***** akhir kutipan ****

Bahkan Ibnu Qoyyim al Jauziyah (w 751 H) murid dari Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa MAJAZ adalah THAGHUT yang KETIGA (Ath thaghut Ats Tsalits), karena menurut Beliau dengan adanya MAJAZ, akan membuka pintu bagi ahlu tahrif untuk menafsirkan ayat dan hadist dengan makna yang menyimpang (As Showa’iqul Mursalah 2/632).

Sedangkan Salafush Sholeh pada umumnya membiarkan khabar-khabar tersebut yakni membiarkan ayat-ayat mutasyabihat (banyak makna) terkait sifat Allah sebagaimana datangnya maksudnya  MENGITSBATKAN (MENETAPKAN) berdasarkan LAFADZNYA dan menafikan makna secara bahasa artinya tidak menetapkan atau tidak memilih makna dzahir atau makna majaz dan TAFWIDH, menyerahkan maknanya kepada Allah Ta'ala. 

Salafush Sholeh mengatakan 

قال الوليد بن مسلم : سألت الأوزاعي ومالك بن أنس وسفيان الثوري والليث بن سعد عن الأحاديث فيها الصفات ؟ فكلهم قالوا لي : أمروها كما جاءت بلا تفسير

“Dan Walid bin Muslim berkata: Aku bertanya kepada Auza’iy, Malik bin Anas, Sufyan Tsauri, Laits bin Sa’ad tentang hadits-hadits yang di dalamnya ada sifat-sifat Allah? Maka semuanya berkata kepadaku: “Biarkanlah ia sebagaimana ia datang tanpa tafsir”

Imam Sufyan bin Uyainah radhiyallahu anhu berkata: “Apa yang disifati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang diriNya dalam kitabNya, maka bacaan perkataan tersebut adalah tafsirannya. Tidak boleh seseorang menafsirkannya dengan (makna) bahasa Arab ataupun menafsirkannya dengan (makna) bahasa Farsi (makna bahasa selain Arab / bahasa asing) (Al-Asma’ wa As-Sifat: 314).

Ibnu ‘ Uyainah nama lengkapnya Sufyan bin Uyainah bin Abi Imran, salah seorang Tabi’i tsiqoh, dilahirkan pada tahun 107 H dan wafat di Makkah pada tahun 198 H.

Para ulama terdahulu telah menjelaskan bahwa  “Sesungguhnya pada dasarnya teks-teks itu HARUS DIPAHAMI dalam MAKNA DZAHIRNYA jika itu dimungkinkan NAMUN jika tidak memungkinkan contohnya karena  jika dipahami dengan makna dzahir akan terjerumus mensifatkan Allah Ta'ala dengan sifat yang tidak layak (tidak patut) bagiNya maka PILIHANNYA ada dua yakni, 

PILIHAN PERTAMA adalah TAFWIDH yakni menyerahkan maknanya kepada Allah Ta'ala yang disebut juga TAFWIDH ba'da TAKWIL IJMALI.

PILIHAN KEDUA menyimpulkan dan menetapkan bahwa berarti teks-teks tersebut bukan dalam makna dzahirnya tetapi dalam MAKNA MAJAZ (metaforis atau makna kiasan) yang disebut juga TAKWIL TAFSHILI yakni TAKWIL yang sesuai dengan KAIDAH-KAIDAH atau TATA BAHASA Arab itu sendiri karena “bacaan Al Qur’an dalam bahasa Arab” (QS Fush shilat [41]:3).

Berikut cara mudah memahami TAKWIL IJMALI dan TAKWIL TAFSHILI. 

Bagi si A, gadis itu cantik bagaikan bulan.

Si A berkata “sore itu bulan masuk ke warung makan” .

TAKWIL IJMALI, “Saya percaya dengan kata-kata Si A bahwa si A mengatakan “Bulan masuk ke warung makan” tetapi makna kata bulan tersebut bukanlah makna dzahir yakni bulan yang mengambang di waktu malam karena mustahil masuk warung makan. Oleh karenanya saya serahkan makna sebenarnya perkataan bulan tersebut kepada si A, karena dialah yang mengetahuinya

TAKWIL TAFSHILI, “Saya percaya dengan kata-kata Si A bahwa si A mengatakan “Bulan masuk ke warung makan” tapi makna kata bulan tersebut bukanlah makna dzahir yakni bulan yang mengambang di waktu malam karena mustahil masuk warung makan, tentulah ada makna lain yang sesuai dengan kaidah atau tata bahasa.

Jadi TAKWIL IJMALI atau TAKWIL TAFSHILI adalah PILIHAN bukan BERTENTANGAN.

Jadi boleh bagi orang awam hanya sampai lafadznya seperti Yadullah yang artinya Tangan Allah dan TAFWIDH yakni menyerahkan maknanya kepada Allah Ta'ala

Begitupula boleh bagi orang awam hanya sampai lafadznya seperti istiwa yang artinya bersemayam (yang mempunyai makna dzahir dan makna majaz) dan TAFWIDH yakni menyerahkan maknanya kepada Allah Ta'ala

Para mufassir (ahli tafsir) sepakat menterjemahkan ISTIWA artinya BERSEMAYAM adalah karena kata BERSEMAYAM serupa dengan ISTIWA mempunyai MAKNA DZAHIR dan MAKNA MAJAZ (makna kiasan). 

Jadi kita harus dapat membedakan antara ARTI dengan MAKNA.

Contoh kata BERSEMAYAM yang tidak dapat dimaknai dengan MAKNA DZAHIR, makna duduk atau bertempat dalam sebuah petuah Bung Karno tertanggal 23 Oktober 1946 yakni berbunyi:

Orang tidak dapat mengabdi kepada Tuhan dengan tidak mengabdi kepada sesama manusia. Tuhan bersemayam di gubuknya si miskin.

Contoh BERSEMAYAM dalam MAKNA MAJAZ adalah berkuasa, contohnya Bapak Drs H M. Abdullah Msc BERSEMAYAM di SINGGASANA Walikota selama dua periode” bukan bermakna dia BERTEMPAT atau DUDUK di SINGGASANA sepanjang dua periode namun MAKNANYA dia BERKUASA selama dua periode.

Para ulama terdahulu membolehkan seorang menafsirkan ISTIWA yang artinya BERSEMAYAM dengan ISTAWLA yang artinya MENGUASAI karena dia tidak berbuat kesalahan apapun dan tidak mensifati Allah dengan sesuatu yang tidak boleh. Penafsiran semacam ini dapat dibenarkan karena sesuai dengan keagungan Allah.

Imam Ibn Battal mengatakan, “pengartian pengaturan dan kekuasaan”, “menguasai” dan “penaklukan” tidak dianggap berlawanan dengan Sang Pencipta (Al-Khalik) sebagaimana “Zahir”, “Qahhar”, “ghalib” atau “Qahir”, tidak dianggap berlawanan atas bagian zat lainnya. Hal ini diperkuat oleh ayat, “Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi (Al-Qahir) atas semua hamba-Nya” (6:18, 6:61) dan “ Allah berkuasa (Al-Ghalib) terhadap urusan-Nya” (12:21).

Begitupula pembesar mazhab Hambali, Imam Ibn al Jawzi dalam Shubah al-Tashbih hal:23 juga membolehkan menafsirkan istiwa sebagai “al-qahr”, menguasai.

Sedangkan mereka mengatakan bahwa orang yang menakwilkan ISTIWA yang artinya BERSEMAYAM dengan ISTAWLA yang artinya MENGUASAI, seolah-olah Allah Ta'ala menguasai setelah sebelumnya belum menguasai layaknya raja-raja yang menang perang, yang kemudian menguasai kerajaan yang sebelumnya belum dikuasainya.

Pemahaman semacam demikian itu hanya terjadi bila Arsy dianggap sesuatu yang qadim; tanpa permulaan, dan bukan makhluk. 

Ini jelas pemahaman yang keliru karena arsy adalah makhluk Allah. Segala sesuatu apapun (selain Allah); semuanya adalah makhluk Allah dan di bawah kekuasaan Allah.

Jika arsy atau selain arsy tidak diciptakan oleh Allah Ta'ala maka semua itu tidak akan pernah ada. Allah Ta'ala menciptakan dan menguasai Arsy

Adapun penyebutan arsy dalam ayat tersebut secara khusus adalah karena arsy itu makhluk Allah yang paling besar bentuknya.

Dengan demikian penyebutan arsy secara khusus ini memberikan isyarat bahwa Allah Ta'ala juga menguasai segala apa yang bentuknya lebih kecil dari pada arsy.

Imam Sayyidina Ali bin Abi Thalib berkata, 

إنَّ اللهَ خلَقالْعرشإظْهارا لقُدرتهولم يتخذْهمكَانا لذَات
(رواه أبو منصور البغدادي في الفرق بين الفرق/ ص : ٣٣٣)

“Sesungguhnya Allah menciptakan ‘Arsy (makhluk Allah yang paling besar) untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi Dzat-Nya” , diriwayatkan oleh Abu Manshur al Baghdadi (W 429 H) dalam kitab al Farq bayna al Firaq (perbedaan di antara Aliran-aliran), hal. 333)

Jadi mereka yang mengingkari Allah Ta'ala istiwa di atas Arsy menampakkan kekuasaan-Nya adalah mereka yang terjerumus atau secara tidak langsung mengingkari sifat azali atau sifat qadim yakni tanpa permulaan

Tentulah Allah Maha Kuasa sebelum maupun sesudah menciptakan Arsy

Allah Ta'ala ada tanpa tempat sebelum maupun sesudah menciptakan Arsy

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda

كَانَ اللهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ

“Allah ada dan tidak ada sesuatu apapun selain Allah.”

Imam Sayyidina Ali bin Abi Thalib berkata “Allah ada dan belum ada tempat dan Dia sekarang (setelah menciptakan tempat) tetap seperti semula ada tanpa tempat”

Syaikh Ibnu Athoilah berkata “Allah ada, dan tidak ada sesuatupun besertaNya. Dia kini adalah tetap sebagaimana adanya”

Begitupula Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir” (QS Al Hadiid [57]:3)

Jadi jelaslah bahwa Allah Ta’ala ada sebagaimana awalnya dan sebagaimana akhirnya. 

Allah Ta’ala ada sebagaimana sebelum diciptakan ciptaanNya, sebagaimana setelah diciptakan ciptaanNya.

Allah Ta’ala ada sebagaimana sebelum diciptakan ‘Arsy , sebagaimana setelah diciptakan ’Arsy

Jadi Allah Ta’ala ada dan tidak berubah !!! , mustahil disifatkan berubah (huduts)

Imam Syafi’i berkata

إنه تعالى كان ولا مكان فخلق الـمكان وهو على صفة الأزلية كما كان قبل خلقه الـمكان لا يجوز عليه التغيِير فى ذاته ولا في صفاته

“Sesungguhnya Allah Ta’ala ada dan tidak ada tempat, maka Dia menciptakan tempat, sementara Dia tetap atas sifat azali-Nya, sebagaimana Dia ada sebelum Dia menciptakan tempat, tidak boleh atas-Nya berubah pada dzat-Nya dan pada sifat-Nya”. (Kitab Ithaf As-Sadati Al-Muttaqin –Jilid 2-halaman 36).

Sedangkan kata “tsumma” dalam firman-Nya: “Tsumma Istawâ” menurut Al Imam al-Qadli Badruddin ibn Jama’ah dalam kitab berjudul Idlah ad-Dalil Fî Qath’i Hujaj Ahl at-Ta’thîl, hlm. 106-107 menuliskan

***** awal kutipan *****
bukan dalam pengertian “tertib atau berkesinambungan” dalam perbuatan-Nya, tetapi untuk memberikan paham tertib atau kesinambungan dalam pemberitaan, bukan dalam perbuatan-Nya.
***** akhir kutipan *****

Al-Imam al-Qurthubi menuliskan: “Allah yang Maha Agung tidak boleh disifati dengan perubahan atau berpindah dari suatu tempat ke tempat yang lain. Dan mustahil Dia disifati dengan sifat berubah atau berpindah. Karena Dia ada tanpa tempat dan tanpa arah, dan tidak berlaku atas-Nya waktu dan zaman. Karena sesuatu yang terikat oleh waktu itu adalah sesuatu yang lemah dan makhluk” (al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an, j. 20, h. 55, dalam QS. al-Fajr: 22)

Wassalam

Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830

Selasa, 18 Agustus 2020

DALIL SHOHIH TAHLILAN



عن جابر بن عبد الله الأنصاري قال خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم يوما الى سعد بن معاذ حين توفي قال فلما صلى عليه رسول الله ووضع فى قبره وسوى عليه سبح رسول الله فسبحنا طويلا ثم كبر فكبرنا فقيل يارسول الله لم سبحت ثم كبرت قال لقد تضايق على هذا العبد الصالح قبره حتى فرجه الله عنه رواه أحمد 
( مسند الامام احمد بن حنبل ج ٢٣ ص ١٥٨ )
قال الشيخ على بن محمد الشوكانى العادة الجارية فى بعض البلدان من الإجتماع فى المسجد لتلاوة القرأن على الاموات وكذالك فى البيوت وسائر الإجتماعات التى لم ترد فى الشريعة لاشك إن كانت خالية عن معصية سالمة من المنكرات فهي جائزة لأن الإجتماع ليس بمحرم بنفسه لاسيما إذا كان لتحصيل طاعة كالتلاوة ونحوها ولا يقدح فى ذالك كون تلك التلاوة مجعولة للميت.... كما فى الحديث إقرأوا يس على موتاكم وهو حديث صحيح 
( الرسائل السلفية للشيخ الشوكانى ص ٤٦ )
قال ابن تيمية إذا هلل الانسان هكذا سبعون ألفا أو أقل أو أكثر وأهديت إليه أي الى الميت نفعه الله بذالك
( مجموع الفتاوى لإبن تيمية ج ٢٤ ص ٣٢٣ )
--------------------------------------------------------------
"Dari Jabir bin abdullah Al-anshori, dia berkata, kami pernah keluar bersama Rasulullah saw di hari saat sa'ad bin mu'adz meninggal, ketika Rasul saw selesai men-sholatkannya dan jenazahnya dikubur dan diratakan, rasul saw membaca tasbih dan kami mengikutinya dg bacaan yg lama, belliau lalu membaca takbir dan kami juga mengikutinya.

Setelah itu beliau ditanya.."ya rasul, kenapa engkau tadi membaca tasbih dan takbir?" belliau menjawab,.."sungguh kuburan hamba yg shaleh ini menyempit untuknya, hingga kemudian Allah lapangkan berkat bacaan tadi. 
[HR. Ahmad ]
( Musnad Imam Ahmad bin hambal, jilid 23 hal. 158 )

Berkata Imam ali bin muhammad Asy-syaukani, adapun kebiasaan yg berlaku di sebagian tempat berupa berkumpul di masjid atau di rumah atau di tempat2 lainnya yg tidak bertentangan dg syari'ah dan tidak ada hal2 maksiat serta bebas dari perbuatan munkar, maka hal itu boleh.

Karena hakikatnya berkumpul bukan hal terlarang, terutama bila untuk ke taatan seperti membaca al qur'an atau lainnya. Dan tidak juga tercela bila bacaan itu dihadiahkan untuk yg meninggal. sebagaimana ada hadits, "bacakanlah surat yasin untuk orang yg meninggal diantaramu", dan itu hadits yg shahih
( Ar-rosa'ilus salafiyah, syeikh Asy syaukani hal. 46 )

Berkata Ibnu Taimiyah : "jika seseorang membaca tahlil dg jumlah tertentu misalnya tujuh ribu kali, atau lebih sedikit dan lebih banyak, lalu dihadiahkan untuk orang mati, maka Allah memberi manfaat pd orang mati tsb berkat bacaan tahlil tadi".
( Majmu' fatawa, Ibnu Taimiyah jilid 24 hal. 323 )

Kalau ada yang bertanya tentang dalil tahlilan...?? itu di kitab orang islam, bukan di kitab orang hindu,,

3 (tiga) hari
7 (tujuh) hari
25 (dua puluh lima) hari 
40 (empat puluh) hari
100 (seratus) hari
1000 (seribu) hari

Tak henti-hentinya Wahabi Salafi menyalahkan Amaliyah ASWAJA, khususnya di Indonesia ini.

Salah satu nya yang paling sering juga mereka fitnah adalah Tahlilan yang menurutnya tidak berdasarkan Dalil bahkan dianggap rujukannya dari kitab Agama Hindu. Untuk itu, kali ini saya tunjukkan Dalil-Dalil Tahlilan

3, 7, 25, 40, 100, Setahun & 1000 Hari

Dari Kitab Ulama Ahlussunnah wal Jamaah, bukan kitab dari agama hindu sebagaimana tuduhan fitnah kaum WAHABI

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻫﺪﻳﺔ ﺇﻟﻰﺍﻟﻤﻮتى

ﻭﻗﺎﻝ ﻋﻤﺮ : ﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺪﻓن ﺛﻮﺍﺑﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻓﻰ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻳﺒﻘﻰ ﺛﻮﺍﺑﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺳﺒﻌﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺴﺎﺑﻊ ﻳﺒﻘﻰ ﺛﻮﺍﺑﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺧﻤﺲ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﻳﻮﻣﺎ ﻭﻣﻦ ﺍﻟﺨﻤﺲ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﺇﻟﻰ ﺃﺭﺑﻌﻴﻦ ﻳﻮﻣﺎ ﻭﻣﻦ ﺍﻷﺭﺑﻌﻴﻦ ﺇﻟﻰ ﻣﺎﺋﺔ ﻭﻣﻦ ﺍﻟﻤﺎﺋﺔ ﺇﻟﻰ ﺳﻨﺔ ﻭﻣﻦ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺇﻟﻰ ﺃﻟﻒ عام (الحاوي للفتاوي ,ج:۲,ص: ١٩٨

Rasulullah saw bersabda: “Doa dan shodaqoh itu hadiah kepada mayyit.”
Berkata Umar: “shodaqoh setelah kematian maka pahalanya sampai tiga hari dan shodaqoh dalam tiga hari akan tetap kekal pahalanya sampai tujuh hari, dan shodaqoh di hari ke tujuh akan kekal pahalanya sampai 25 hari dan dari pahala 25 sampai 40 harinya lalu sedekah dihari ke 40 akan kekal hingga 100 hari dan dari 100 hari akan sampai kepada satu tahun dan dari satu tahun sampailah kekalnya pahala itu hingga 1000 hari.”

Referensi : (Al-Hawi lil Fatawi Juz 2 Hal 198)

Jumlah-jumlah harinya (3, 7, 25, 40, 100, setahun & 1000 hari) jelas ada dalilnya, sejak kapan agama Hindu ada Tahlilan ?

Berkumpul ngirim doa adalah bentuk shodaqoh buat mayyit.

ﻓﻠﻤﺎ ﺍﺣﺘﻀﺮﻋﻤﺮ ﺃﻣﺮ ﺻﻬﻴﺒﺎ ﺃﻥ ﻳﺼﻠﻲ ﺑﺎﻟﻨﺎﺱ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻳﺎﻡ ، ﻭﺃﻣﺮ ﺃﻥ ﻳﺠﻌﻞ ﻟﻠﻨﺎﺱ ﻃﻌﺎما، ﻓﻴﻄﻌﻤﻮﺍ ﺣﺘﻰ ﻳﺴﺘﺨﻠﻔﻮﺍ ﺇﻧﺴﺎﻧﺎ ، ﻓﻠﻤﺎ ﺭﺟﻌﻮﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻨﺎﺯﺓ ﺟﺊ ﺑﺎﻟﻄﻌﺎﻡ ﻭﻭﺿﻌﺖ ﺍﻟﻤﻮﺍﺋﺪ ! ﻓﺄﻣﺴﻚ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻨﻬﺎ ﻟﻠﺤﺰﻥ ﺍﻟﺬﻱ ﻫﻢ ﻓﻴﻪ ، ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﻌﺒﺎﺱ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻤﻄﻠﺐ : ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺇﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺪ ﻣﺎﺕ ﻓﺄﻛﻠﻨﺎ ﺑﻌﺪﻩ ﻭﺷﺮﺑﻨﺎ ﻭﻣﺎﺕ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ﻓﺄﻛﻠﻨﺎ ﺑﻌﺪﻩ ﻭﺷﺮﺑﻨﺎ ﻭﺇﻧﻪ ﻻﺑﺪ ﻣﻦ ﺍﻻﺟﻞ ﻓﻜﻠﻮﺍ ﻣﻦ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ ، ﺛﻢ ﻣﺪ ﺍﻟﻌﺒﺎﺱ ﻳﺪﻩ ﻓﺄﻛﻞ ﻭﻣﺪ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﻳﺪﻳﻬﻢ ﻓﺄﻛﻠﻮﺍ

Ketika Umar sebelum wafatnya, ia memerintahkan pada Shuhaib untuk memimpin shalat, dan memberi makan para tamu selama 3 hari hingga mereka memilih seseorang, maka ketika hidangan–hidangan ditaruhkan, orang – orang tak mau makan karena sedihnya, maka berkatalah Abbas bin Abdulmuttalib:

Wahai hadirin.. sungguh telah wafat Rasulullah saw dan kita makan dan minum setelahnya, lalu wafat Abubakar dan kita makan dan minum sesudahnya, dan ajal itu adalah hal yang pasti, maka makanlah makanan ini..!”, lalu beliau mengulurkan tangannya dan makan, maka orang–orang pun mengulurkan tangannya masing–masing dan makan.

Referensi: [Al Fawaidussyahiir Li Abi Bakar Assyafii juz 1 hal 288, Kanzul ummaal fii sunanil aqwaal wal af’al Juz 13 hal 309, Thabaqat Al Kubra Li Ibn Sa’d Juz 4 hal 29, Tarikh Dimasyq juz 26 hal 373, Al Makrifah wattaarikh Juz 1 hal 110]

Kemudian dalam kitab Imam As Suyuthi, Al-Hawi li al-Fatawi:

ﻗﺎﻝ ﻃﺎﻭﻭﺱ : ﺍﻥ ﺍﻟﻤﻮﺗﻰ ﻳﻔﺘﻨﻮﻥ ﻓﻲ ﻗﺒﻮﺭﻫﻢ ﺳﺒﻌﺎ ﻓﻜﺎﻧﻮﺍ ﻳﺴﺘﺤﺒﻮﻥ ﺍﻥ ﻳﻄﻌﻤﻮﺍ ﻋﻨﻬﻢ ﺗﻠﻚ ﺍﻻﻳﺎﻡ

Imam Thawus berkata: “Sungguh orang-orang yang telah meninggal dunia difitnah dalam kuburan mereka selama tujuh hari, maka mereka (sahabat) gemar menghidangkan makanan sebagai ganti dari mereka yang telah meninggal dunia pada hari-hari tersebut.”

ﻋﻦ ﻋﺒﻴﺪ ﺑﻦ ﻋﻤﻴﺮ ﻗﺎﻝ : ﻳﻔﺘﻦ ﺭﺟﻼﻥ ﻣﺆﻣﻦ ﻭﻣﻨﺎﻓﻖ , ﻓﺎﻣﺎ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﻓﻴﻔﺘﻦ ﺳﺒﻌﺎ ﻭﺍﻣﺎﺍﻟﻤﻨﺎﻓﻖ ﻓﻴﻔﺘﻦ ﺍﺭﺑﻌﻴﻦ ﺻﺒﺎﺣﺎ

Dari Ubaid bin Umair ia berkata: “Dua orang yakni seorang mukmin dan seorang munafiq memperoleh fitnah kubur. Adapun seorang mukmin maka ia difitnah selama tujuh hari, sedangkan seorang munafiq disiksa selama empat puluh hari.”

Dalam tafsir Ibn Katsir (Abul Fida Ibn Katsir al Dimasyqi Al Syafi’i) 774 H beliau mengomentari ayat 39 surah an Najm (IV/236: Dar el Quthb), beliau mengatakan Imam Syafi’i berkata bahwa tidak sampai pahala itu, tapi di akhir2 nya beliau berkomentar lagi

ﻓﺄﻣﺎ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻓﺬﺍﻙ ﻣﺠﻤﻊ ﻋﻠﻰ ﻭﺻﻮﻟﻬﻤﺎ ﻭﻣﻨﺼﻮﺹ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﺎﺭﻉ ﻋﻠﻴﻬﻤﺎ

bacaan alquran yang dihadiahkan kepada mayit itu sampai, Menurut Imam Syafi’i pada waktu beliau masih di Madinah dan di Baghdad, qaul beliau sama dengan Imam Malik dan Imam Hanafi, bahwa bacaan al-Quran tidak sampai ke mayit, Setelah beliau pindah ke mesir, beliau ralat perkataan itu dengan mengatakan bacaan alquran yang dihadiahkan ke mayit itu sampai dengan ditambah berdoa “Allahumma awshil.…dst.”, lalu murid beliau Imam Ahmad dan kumpulan murid2 Imam Syafi’i yang lain berfatwa bahwa bacaan alquran sampai.

Pandangan Hanabilah, Taqiyuddin Muhammad ibnu Ahmad ibnu Abdul Halim (yang lebih populer dengan julukan Ibnu Taimiyah dari madzhab Hambali) menjelaskan:

ﺍَﻣَّﺎ ﺍﻟﺼَّﺪَﻗَﺔُ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖِ ﻓَـِﺎﻧَّﻪُ ﻳَﻨْـﺘَـﻔِﻊُ ﺑِﻬَﺎ ﺑِﺎﺗِّـﻔَﺎﻕِ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ. ﻭَﻗَﺪْ ﻭَﺭَﺩَﺕْ ﺑِﺬٰﻟِﻚَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪ ُﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺍَﺣَﺎ ﺩِﻳْﺚُ ﺻَﺤِﻴْﺤَﺔٌ ﻣِﺜْﻞُ ﻗَﻮْﻝِ ﺳَﻌْﺪٍ ( ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺍِﻥَّ ﺍُﻣِّﻲْ ﺍُﻓْﺘـُﻠِﺘـَﺖْ ﻧَﻔْﺴُﻬَﺎ ﻭَﺍَﺭَﺍﻫَﺎ ﻟَﻮْ ﺗَـﻜَﻠَّﻤَﺖْ ﺗَﺼَﺪَّﻗَﺖْ ﻓَﻬَﻞْ ﻳَﻨْـﻔَـﻌُﻬَﺎ ﺍَﻥْ ﺍَﺗَـﺼَﺪَّﻕَ ﻋَﻨْﻬَﺎ ؟ ﻓَﻘَﺎﻝَ: ﻧَـﻌَﻢْ , ﻭَﻛَﺬٰﻟِﻚَ ﻳَـﻨْـﻔَـﻌُﻪُ ﺍﻟْﺤَﺞُّ ﻋَﻨْﻪُ ﻭَﺍْﻻُ ﺿْﺤِﻴَﺔُ ﻋَﻨْﻪُ ﻭَﺍﻟْﻌِﺘْﻖُ ﻋَﻨْﻪُ ﻭَﺍﻟﺪُّﻋَﺎﺀُ ﻭَﺍْﻻِﺳْﺘِـْﻐﻒُﺭﺍَ ﻟَﻪُ ﺑِﻼَ ﻧِﺰﺍَﻉٍ ﺑَﻴْﻦَ ﺍْﻷَﺋِﻤَّﺔِ .

“Adapun sedekah untuk mayit, maka ia bisa mengambil manfaat berdasarkan kesepakatan umat Islam, semua itu terkandung dalam beberapa hadits shahih dari Nabi Saw. seperti perkataan sahabat Sa’ad “Ya Rasulallah sesungguhnya ibuku telah wafat, dan aku berpendapat jika ibuku masih hidup pasti ia bersedekah, apakah bermanfaat jika aku bersedekah sebagai gantinya?” maka Beliau menjawab “Ya”, begitu juga bermanfaat bagi mayit: haji, qurban, memerdekakan budak, do’a dan istighfar kepadanya, yang ini tanpa perselisihan di antara para imam”.

Referensi : (Majmu’ al-Fatawa: XXIV/314-315)

Ibnu Taimiyah juga menjelaskan perihal diperbolehkannya menyampaikan hadiah pahala shalat, puasa dan bacaan al-Qur’an kepada:

ﻓَﺎِﺫَﺍ ﺍُﻫْﺪِﻱَ ﻟِﻤَﻴِّﺖٍ ﺛَﻮَﺍﺏُ ﺻِﻴﺎَﻡٍ ﺍَﻭْ ﺻَﻼَﺓٍ ﺍَﻭْ ﻗِﺮَﺋَﺔٍ ﺟَﺎﺯَ ﺫَﻟِﻚَ

Artinya: “jika saja dihadiahkan kepada mayit pahala puasa, pahala shalat atau pahala bacaan (al-Qur’an / kalimah thayyibah) maka hukumnya diperbolehkan”.

Referensi : (Majmu’ al-Fatawa: XXIV/322)

Al-Imam Abu Zakariya Muhyiddin Ibn al-Syarof, dari madzhab Syafi’i yang terkenal dengan panggilan Imam Nawawi menegaskan;

ﻳُﺴْـﺘَـﺤَﺐُّ ﺍَﻥْ ﻳَـﻤْﻜُﺚَ ﻋَﻠﻰَ ﺍْﻟﻘَﺒْﺮِ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟﺪُّﻓْﻦِ ﺳَﺎﻋَـﺔً ﻳَﺪْﻋُﻮْ ﻟِﻠْﻤَﻴِّﺖِ ﻭَﻳَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻝُﻩَ. ﻧَـﺺَّ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺸَّﺎﻓِﻌِﻰُّ ﻭَﺍﺗَّﻔَﻖَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍْﻻَﺻْﺤَﺎﺏُ ﻗَﺎﻟﻮُﺍ: ﻳُﺴْـﺘَـﺤَﺐُّ ﺍَﻥْ ﻳَـﻘْﺮَﺃَ ﻋِﻨْﺪَﻩُ ﺷَﻴْﺊٌ ﻣِﻦَ ﺍْﻟﻘُﺮْﺃَﻥِ ﻭَﺍِﻥْ خَتَمُوْا اْلقُرْآنَ كَانَ اَفْضَلَ ) المجموع جز 5 ص 258(

“Disunnahkan untuk diam sesaat di samping kubur setelah menguburkan mayit untuk mendo’akan dan memohonkan ampunan kepadanya”, pendapat ini disetujui oleh Imam Syafi’i dan pengikut-pengikutnya, dan bahkan pengikut Imam Syafi’i mengatakan “sunnah dibacakan beberapa ayat al-Qur’an di samping kubur si mayit, dan lebih utama jika sampai mengha tamkan al-Qur’an”.

Selain paparannya di atas Imam Nawawi juga memberikan penjelasan yang lain seperti tertera di bawah ini;

ﻭَﻳُـﺴْـﺘَﺤَﺐُّ ﻟِﻠﺰَّﺍﺋِﺮِ ﺍَﻥْ ﻳُﺴَﻠِّﻢَ ﻋَﻠﻰَ ﺍْﻟﻤَﻘَﺎﺑِﺮِ ﻭَﻳَﺪْﻋُﻮْ ﻟِﻤَﻦْ ﻳَﺰُﻭْﺭُﻩُ ﻭَﻟِﺠَﻤِﻴْﻊِ ﺍَﻫْﻞِ ﺍْﻟﻤَﻘْﺒَﺮَﺓِ. ﻭَﺍْﻻَﻓْﻀَﻞُ ﺍَﻥْ ﻳَﻜُﻮْﻥَ ﺍﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻭَﺍﻟﺪُّﻋَﺎﺀُ ﺑِﻤَﺎ ﺛَﺒـَﺖَ ﻣِﻦَ ﺍْﻟﺤَﺪِﻳْﺚِ ﻭَﻳُﺴْـﺘَـﺤَﺐُّ ﺍَﻥْ ﻳَﻘْﺮَﺃَ ﻣِﻦَ ﺍْﻟﻘُﺮْﺃٰﻥِ ﻣَﺎ ﺗَﻴَﺴَّﺮَ ﻭَﻳَﺪْﻋُﻮْ ﻟَﻬُﻢْ ﻋَﻘِﺒَﻬَﺎ ﻭَﻧَﺺَّ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺸَّﺎِﻓﻌِﻰُّ ﻭَﺍﺗَّﻔَﻖَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍْﻻَﺻْﺤَﺎﺏُ. (ﺍﻟﻤﺠﻤﻮﻉ ﺟﺰ 5 ص 258 )

“Dan disunnahkan bagi peziarah kubur untuk memberikan salam atas (penghuni) kubur dan mendo’akan kepada mayit yang diziarahi dan kepada semua penghuni kubur, salam dan do’a itu akan lebih sempurna dan lebih utama jika menggunakan apa yang sudah dituntunkan atau diajarkan dari Nabi Muhammad Saw. dan disunnahkan pula membaca al-Qur’an semampunya dan diakhiri dengan berdo’a untuknya, keterangan ini dinash oleh Imam Syafi’i (dalam kitab al-Um) dan telah disepakati oleh pengikut-pengikutnya”.

Referensi : (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, V/258)

Al-‘Allamah al-Imam Muwaffiquddin ibn Qudamah dari madzhab Hambali mengemukakan pendapatnya dan pendapat Imam Ahmad bin Hanbal

ﻗَﺎﻝَ : ﻭَﻻَ ﺑَﺄْﺱَ ﺑِﺎﻟْﻘِﺮﺍَﺀَﺓِ ﻋِﻨْﺪَ ﺍْﻟﻘَﺒْﺮِ . ﻭَﻗَﺪْ ﺭُﻭِﻱَ ﻋَﻦْ ﺍَﺣْﻤَﺪَ ﺍَﻧَّـﻪُ ﻗَﺎﻝَ: ﺍِﺫﺍَ ﺩَﺧَﻠْﺘﻢُ ﺍﻟْﻤَﻘَﺎﺑِﺮَ ﺍِﻗْﺮَﺋُﻮْﺍ ﺍَﻳـَﺔَ ﺍْﻟﻜُـْﺮﺳِﻰِّ ﺛَﻼَﺙَ ﻣِﺮَﺍﺭٍ ﻭَﻗُﻞْ ﻫُﻮَ ﺍﻟﻠﻪ ُﺍَﺣَﺪٌ ﺛُﻢَّ ﻗُﻞْ ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍِﻥَّ ﻓَﻀْﻠَﻪُ ِﻷَﻫْﻞِ ﺍﻟْﻤَﻘَﺎﺑِﺮِ .

Artinya “al-Imam Ibnu Qudamah berkata: tidak mengapa membaca (ayat-ayat al-Qur’an atau kalimah tayyibah) di samping kubur, hal ini telah diriwayatkan dari Imam Ahmad ibn Hambal bahwasanya beliau berkata: Jika hendak masuk kuburan atau makam, bacalah Ayat Kursi dan Qul Huwa Allahu Akhad sebanyak tiga kali kemudian iringilah dengan do’a: Ya Allah keutamaan bacaan tadi aku peruntukkan bagi ahli kubur.

Referensi : (al-Mughny II/566)

Dalam al Adzkar dijelaskan lebih spesifik lagi seperti di bawah ini:

ﻭَﺫَﻫَﺐَ ﺍَﺣْﻤَﺪُ ْﺑﻦُ ﺣَﻨْﺒَﻞٍ ﻭَﺟَﻤَﺎﻋَﺔٌ ﻣِﻦَ ﺍْﻟﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﻭَﺟَﻤَﺎﻋَﺔٌ ﻣِﻦْ ﺍَﺻْﺤَﺎﺏِ ﺍﻟﺸَّﺎِﻓـِﻌﻰ ﺍِﻟﻰَ ﺍَﻧـَّﻪُ ﻳَـﺼِﻞ
rizqi yang halal dan berkah adalah
TAHLILAN

COVAS

Bantu dakwah like dan share postingan ini

Nabi Muhammad Rasulullah Shalallah Alaihi Wasallah bersabda ;
Barang siapa menyampaikan satu saja ilmu dari ku maka allah akan menyediakan tempat surga untuk nya di hari penghakiman nanti

Walahualam bissawab semoga bermamfaat

Kalam aswaja (ahli sunnah wal jama,ah).