Kamis, 16 September 2021

Memudahkan Mahar dan Resepsi Sederhana Pernikahan

Bagi calon pengantin, orang tua dan calon mertua, mudahkanlah mahar dan sederhanakan resepsi pernikahan sewajarnya sesuai keadaan. Janganlah dipaksakan padahal tidak mampu, karena ini untuk kebaikan anak-anak calon pengantin dunia-akhirat.

Kita mencari berkah bukan gengsi, kita mencari ridha Allah bukan Ridha manusia. Allah yang menghidupi, bukan kenyang dengan gengsi. Jika dijelaskan baik-baik kepada keluarga, mereka akan paham bahwa dana lebih baik dialokasikan untuk membangun rumah tangga di  awal-awal pernikahan.

Sebagai bahan renungan:

[1] Mahar yang mudah akan membuat pernikahan berkah
Berkah itu adalah bahagia dunia-akhirat baik kaya maupun miskin. Tidak sedikit orang kaya tetapi rumah tangga tidak bahagia dan tidak berkah

[2] Resepsi dianjurkan sederhana sesuai keadaan, tidak dipaksa apalagi sampai harus berhutang, sehingga dana yang ada bisa digunakan untuk awal membangun rumah tangga
Dalam hadits dijelaskan, makanan yang paling jelek adalah makanan walimah yang diundang hanya orang kaya saja, orang miskin tidak diundang

[3] Mempercepat pernikahan dan menyelamatkan dari zina
Tidak sedikit kedua calon siap menikah, tetapi dipersulit dengan beratnya mahar dan biaya resepsi, cinta dan gelora muda tertahan paksa bahkan ada juga yang “tabrakan duluan”.

[4] Menunda anak perempuannya menikah akan membuat anak perempuannya tidak bahagia
Karena wanita butuh kepastian cinta, dan kepastian itu adalah dengan menikah bukan hanya janji, wanita tidak akan tenang sampai dia menikah dan mendapat imam bagi hidupnya. Apalagi jumlah wanita semakin banyak dan laki-laki semakin sedikit

[5] Jika ditunda atau ditolak terus, anak perempuannya bisa tidak mendapatkan jodoh dan menjadi perawan tua

Umumnya calon pengantin ingin segera menikah dan mereka mencari cara yang termudah, akan tetapi tidak sedikit para orang tua dan calon mertua yang membuatnya menjadi tertunda bahkan gagal hanya karena mahar atau acara resepsi yang megah dan mewah

Semoga bisa segera sadar karena ini semua untuk kebaikan dan berkah anak-anak mereka sendiri.

Berikut penjelasan dalilnya:

[1] Mahar yang mudah akan membuat pernikahan berkah
Berkah itu adalah bahagia dunia-akhirat baik kaya maupun miskin. Tidak sedikit orang kaya tetapi rumah tangga tidak bahagia dan tidak berkah

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺧَﻴْـﺮُ ﺍﻟﻨِّﻜَـﺎﺡِ ﺃَﻳْﺴَـﺮُﻩُ

‘Sebaik-baik pernikahan ialah yang paling mudah.’ (HR. Abu Dawud, Al-Irwaa’ (VI/345)

Dalam riwayat Ahmad,

ﺇِﻥَّ ﺃَﻋْﻈَﻢَ ﺍﻟﻨَّﻜَـﺎﺡِ ﺑَﺮَﻛَﺔً ﺃَﻳَْﺴَﺮُﻩُ ﻣُﺆْﻧَﺔً

“Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya.”

Amirul Mukminin, ‘Umar radhiallahu anhu pernah berkata,
“Janganlah kalian meninggikan mahar wanita. Jika mahar termasuk kemuliaan di dunia atau ketakwaan di akhirat, tentulah Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam paling pertama melaksanakannya.” (HR. At-Tirmidzi, shahih Ibni Majah)

[2] Resepsi dianjurkan sederhana sesuai keadaan, tidak dipaksa apalagi sampai harus berhutang
Dalam hadits dijelaskan, makanan yang paling jelek adalah makanan walimah yang diundang hanya orang kaya saja, orang miskin tidak diundang

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺷَﺮُّ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡِ ﻃَﻌَﺎﻡُ ﺍﻟْﻮَﻟِﻴْﻤَﺔِ، ﻳُﺪْﻋَﻰ ﺇِﻟَﻴْﻬَﺎ ﺍْﻷَﻏْﻨِﻴَﺎﺀُ ﻭﻳُﺘْﺮَﻙُ ﺍﻟْﻤَﺴَﺎﻛِﻴْﻦُ

“Makanan paling buruk adalah makanan dalam walimah yang hanya mengundang orang-orang kaya saja untuk makan, sedangkan orang-orang miskin tidak diundang.” (HR. Bukhari Muslim)

[3] Mempercepat pernikahan dan menyelamatkan dari zina
Tidak sedikit kedua calon siap menikah, tetapi dipersulit dengan beratnya mahar dan biaya resepsi, cinta dan gelora muda tertahan paksa bahkan ada juga yang “tabrakan duluan”.

Ini yang dijelaskan dalam hadits, mempersulit menikah akan terjadi kerusakan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺇِﺫَﺍ ﺧَﻄَﺐَ ﺇِﻟَﻴْﻜُﻢْ ﻣَﻦْ ﺗَﺮْﺿَﻮْﻥَ ﺩِﻳْﻨَﻪُ ﻭَﺧُﻠُﻘَﻪُ ﻓَﺰَﻭِّﺟُﻮْﻩُ، ﺇِﻻَّ ﺗَﻔْﻌَﻠُﻮﺍ ﺗَﻜُﻦْ ﻓِﺘْﻨَﺔٌ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻭَﻓَﺴَﺎﺩٌ ﻋَﺮِﻳْﺾٌ

“Apabila seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya datang kepada kalian untuk meminang wanita kalian, maka hendaknya kalian menikahkan orang tersebut dengan wanita kalian. Bila kalian tidak melakukannya niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. At-Tirmidzi no. 1084, Ash-Shahihah no. 1022)

[4] Menunda anak perempuannya menikah akan membuat anak perempuannya tidak bahagia
Karena wanita butuh kepastian cinta, dan kepastian itu adalah dengan menikah bukan hanya janji, wanita tidak akan tenang sampai dia menikah dan mendapat imam bagi hidupnya. Apalagi jumlah wanita semakin banyak dan laki-laki semakin sedikit

Sebagaimana dalam hadits,

ﻣِﻦْ ﺃَﺷْﺮَﺍﻁِ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔِ ﺃَﻥْ ﻳَﻘِﻞَّ ﺍْﻟﻌِﻠْﻢُ ﻭَﻳَﻈْﻬَﺮَ ﺍﻟﺠَﻬْﻞُ ﻭَﻳَﻈْﻬَﺮَ ﺍﻟﺰِّﻧَﺎ ﻭَﺗَﻜْﺜﺮَ ﺍﻟﻨِّﺴَﺎﺀُ ﻭَﻳَﻘﻞَّ ﺍﻟﺮِّﺟَﺎﻝُ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻜُﻮﻥُ ﻟِﺨَﻤْﺴِﻴﻦَ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓً ﺍﻟﻘَﻴِّﻢُ ﺍْﻟﻮَﺍﺣِﺪُ

“Di antara tanda-tanda dekatnya hari Kiamat adalah sedikitnya ilmu (agama), merajalelanya kebodohan dan perzinahan, dan sedikitnya kaum laki-laki, sehingga lima puluh orang wanita hanya terdapat satu orang pengurus (laki-laki) saja” (HR. Al-Bukhari Muslim)

Demikian semoga bermanfaat

Penyusun: Raehanul Bahraen

Kamis, 09 September 2021

DI MANA ALLAH?JAWAB: ALLAH DEKAT.

ALLAH MENGAJARKAN LANGSUNG KEPADA ROSULULLAH UNTUK MENJAWAB PERTANYAAN TERHADAP HAMBA2 ALLAH YANG BERTANYA TENTANG DIMANA ALLAH.

Allah tidak pernah mengajari Rosulullah untuk menjawab pertanyaan orang2 yang bertanya " dimana Allah" agar Rosulullah menjawab: " Allah di langit" ataupun Allah di atas 'Arsy.

Dalil yang sangat kuat untuk menjawab pertanyaan "di mana Allah" adalah langsung dari Allah sendiri, agar tidak ada satu orang pun yang membantah terhadap firman Allah.

Allah mengajari Rosulullah secara langsung dalam menjawab pertanyaan orang2 yang bertanya "dimana Allah" agar menjawab: Allah Dekat (Allahu Qorib). Bukan dengan jawaban2 yang lain.

Ini adalah jawaban langsung dari Allah 
yang diamanatkan kepada Nabi Muhammad dalam menjawab pertanyaan terhadap hamba2Nya yang menanyakan tentang Allah (keberadaan Allah):

   وَ اِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيْبٌ

("Dan apabila hambaku bertanya tentang AKU, maka jawablah (Muhammad), maka sungguh AKU adalah DEKAT").

Imam As-Suyuthi di dalam Kitab LUBAB AN-NUQUL :

أخرج عبد الرزاق عن الحسن قال ؛ 
سأل أصحابُ رسولِ اللهِ النبىَّ صلى الله عليه و سلم ؛ أَيْنَ رَبُّنَا ؟؟ 
فأنزل اللهُ ؛ وَ اِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيْبٌ

Diriwayatkan oleh Abdur Razzaq dari Al Hasan berkata ; Sahabat Nabi bertanya kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wassallam:
"(Ya Rasulallah), DIMANA TUHAN KITA BERADA ???"
Maka Allah Langsung Berfirman Dengan Menurunkan Ayat :

                    وَ اِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيْبٌ 

"Dan apabila hambaku bertanya tentang AKU, maka jawablah (hai Muhammad), maka sungguh AKU adalah DEKAT".

Keberadaan tentang Allah yang dijelaskan dalam firman Allah tersebut terdapat dalam kalimat pengandaian (Conditional sentence) yang berupa pesan, yaitu menggunakan redaksi kalimat langsung dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad (terdapat dalam surat Al-Baqoroh, ayat 186):

                   وَ اِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيْبٌ 

Kalimat dalam ayat tersebut berupa kalimat pengandaian (coditional senence), yang terdiri dari:
1. Kalimat syarat yang dimulai dengan kata "Idza" (Apabia/Jika), yaitu: 

                              وَ اِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى    

Dan jika hamba2ku bertanya kepada kamu (Nabi Muhammad) tentang Aku (keberadaan Ku). Dalam bagian ayat ini Allah berpesan kepada Nabi Muhammad jika pada waktu2 mendatang ada hamba2 Allah yang menanyakan tentang Allah (keberadaan Allah) kepada Nabi Muhammad. 

2. Kalimat jawab (jawab syarat), dengan kalimat (bagian ayat):

                                   فَإِنِّى قَرِيْبٌ 

        ("Maka sungguh Aku (Allah) dekat".)  

Dalam bagian ayat yang merupakan kalimat jawab (jawab syarat) tersebut mengandung pesan berupa instruksi (perintah) Allah kepada Nabi Muhammad, agar Nabi Muhammad menjawab pertanyaan hamba2 Allah yang menanyakan tentang Allah (keberadaan Allah), dengan menjawab sesuai dengan yang difirmankan oleh Allah dalam bagian ayat yang merupakan kalimat jawaban (jawab syarat), yaitu dengan jawaban bahwa " Allah Dekat.

ALLAH MAHA DEKAT, TETAPI BUKAN FISIK ALLAH YANG MAHA DEKAT DENGAN HAMBA2-NYA. SEBAB ALLAH ITU BUKAN JISIM/ BENDA.

Dimanapun manusia berada, manusia bisa mendekatkan diri kepada Allah. Sebab Allah Maha Dekat. Allah Maha Meliputi Segalanya. Allah bersama hamba2-Nya yang bertaqwa kepada-Nya di manapun mereka berada. Allah bersama orang2 yang senantiasa berbuat kebaikan yang diridhoi oleh Allah, dimanapun mereka berada.
Kekuasaan Allah meliputi segala kerajaan langit dan bumi.

Adanya Allah adalah tanpa tempat. Adanya tempat adalah setelah Allah menciptakan tempat. Allah tetap tanpa tempat seperti pada azalinya setelah Allah menciptakan tempat.

Allah Maha Kuasa. Allah Maha Meliputi Segalanya.

DENGAN ILMU YANG DIMILIKI-NYA, KEKUASAAN ALLAH MELIPUTI SELURUH PENJURU KERAJAAN LANGIT DAN BUMI. ALLAH ADALAH PEMILIK KERAJAAN LANGIT DAN BUMI. ( Kekuasaan Allah meliputi seluruh yang di 'Arsy, langit, bumi, dan seluruh makhluk-Nya). Adanya Allah tetap tanpa tempat meskipun telah menciptakan tempat bagi seluruh makhluk-Nya. Dan seluruh makhluk Allah adalah dalam kekuasaan-Nya. Allah Maha Meliputi Segalanya.

HADITS:
Bagi anda yang meyakini bahwa Allah bertempat di atas langit dan berani mengkafirkan golongan lain yang memiliki beda faham, apakah dengan hadits Rosulullah di bawah ini kemudian anda juga berani mengkafirkan Rosulullah yang menyatakan bahwa Allah berada di hadapan orang yang sedang sholat?👇👇👇

Rosulullah juga bersabda dalam hadits berikut ini:

Dari Abdullah ibn Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda :
إذا كان أحدكم يصلي فلا يبصق قبل وجهه فإن الله قبل وجهه إذا صلى .
Artinya : Jika seorang dari kamu shalat maka janganlah ia meludah di depan wajahnya, sebab sesungguhnya Allah berada di depan wajahnya ketika ia shalat. (H.R. Bukhari[10] dan Muslim[11])
(Allah di depan wajah orang yang sedang sholat).

Apakah bagi anda yang meyakini bahwa Allah bertempat di atas langit dan berani mengkafirkan golongan yang memiliki beda faham, juga berani membantah firman Allah yang menyatakan bahwa kemanapun hamba2 Allah menghadap maka disanalah Dzat Allah?

Allah berfirman dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqoroh, ayat: 115:

     فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

 "Kemanapun kamu menghadap, di sana lah Dzat Allah".

Kamis, 12 Agustus 2021

Renungan Tentang Bahagia

Keluargaku ..

Di saat kita memakai jam tangan seharga Rp 500.000,- atau Rp 50.000.000,-, kedua jam itu menunjukkan waktu yg sama.
Ketika kita mengayuh sepeda seharga 100jt ataupun 1jt...tetap mengeluarkan keringat yang sama...
Ketika kita membawa tas atau dompet seharga Rp 500.000,- atau Rp 5.000.000,-, keduanya sama2 dapat membantumu membawa sebagian barang/uang.
Waktu kita tinggal di rumah seluas 50 m2 atau 5.000 m2, kesepian yg kita alami tetaplah sama.
Ketika kita terbang dengan first class atau ekonomi class, maka saat pesawat terbang jatuh maka kita pun ikut jatuh.
Keluargaku ..
Kebahagiaan sejati bukan datang dari harta duniawi.
Jadi ketika kita memiliki pasangan, anak, saudara, teman dekat, teman baru dan lama... Lalu kita ngobrol, bercanda, tertawa, bernyanyi, bercerita tentang berbagai hal, berbagi suka dan duka- itulah kebahagiaan sesungguhnya.
Hal penting yang patut di renungkan dalam hidup :
1. Jangan mendidik anak mu untuk terobsesi menjadi kaya. Didiklah mereka menjadi bahagia. Sehingga saat mereka tumbuh dewasa mereka menilai segala sesuatu bukan dari harganya.
2. Kata2 yg terbaik di Inggris :
"Makan makananmu sebagai obat. Jika tidak, kamu akan makan obat2an sebagai makanan."
3. Seseorang yg mencintaimu tidak akan pernah meninggalkanmu karena walaupun ada 100 alasan untuk menyerah, dia akan menemukan 1 alasan untuk bertahan.
4. Banyak sekali perbedaan antara "manusia & menjadi manusia" Hanya yg bijak yang mengerti tentang itu.
5. Hidup itu antara
"B" birth (lahir) dan "D" death (mati), diantara nya adalah ada "C" choice (pilihan) hidup yang kita jalani, keberhasilannya ditentukan oleh setiap pilihan kita.
Jika kamu mau berjalan cepat, Jalanlah sendirian. Tetapi Jika kamu ingin berjalan jauh, jalanlah bersama sama.
Ada 6 dokter terbaik,
1. Keluarga
2. Istirahat
3. Olah raga
4. Makan yg sehat
5. Teman
6. Tertawa
Nikmati hidup dan tetap bersandar pada Tuhan
yang punya kehidupan.!
Semoga bermanfaat 😀😊😚

Selasa, 29 Juni 2021

💕💝 SUNAN GUNUNG JATI 💖💞

Makam Sultan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) bin  Sultan Syarif Abdullah Umdatuddin (Champa) terletak di astana gunung jati, cirebon jawa barat Indonesia

Gelar Syarif Hidayatullah yaitu:
1. Sayyid Al-Kamil
2. Sultan Cirebon 2
3. Sunan Gunung Jati 1
4. Syarif Hidayat Putra Mesir
5. Kanjeng Sinuhun Gunung Jati
6. Walisongo tanah pasundan
7.Maulana Jati

Syarif Hidayatullah  dilahirkan di Mekkah Pada tahun 1448 M, dibesarkan di Mesir dan Wafat Di Cirebon pada th.1568 M

Silsilah Nasab Sultan Syarif Hidayatullah Al-Azhmatkhan (Sunan Gunung Jati) Sultan Cirebon:

Nabi Muhammad menikah dengan Sayyidah Khadijah binti Khuwailid, wafat di Madinah 12 Rabiul Awwal 11 H, 
memiliki anak yaitu:

Sayyidah Fatimah Az-Zahra, menikah dengan Imam Ali bin Abi Thalib, wafat di Madinah 634 M, memiliki anak yaitu:

Al-Imam As-Sayyid Al-Husain, menikah dengan Syaharbanu putri Kaisar Yazdigird, kaisar terakhir Sasaniyah, Persia, wafat di Karbala Iraq 64 H/ 680 M, memiliki anak yaitu:

Al-Imam As-Sayyid Ali Zainal Abidin, menikah dengan Syarifah Fathimah binti Hasan bin Ali bin Abi Thalib, Wafat di Baqi Madinah 93 H/713 M, memiliki anak yaitu:

Al-Imam As-Sayyid Muhammad Al-Baqir, menikah dengan Ummu Farwah binti Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Ash-Shiddiq, wafat di Baqi Madinah 114 H/731 M, memiliki anak yaitu:

Al-Imam As-Sayyid Ja’far ash-Shadiq, menikah dengan Syarifah Fathimah binti Husain bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, wafat di Baqi Madinah 148 H/765 M, memiliki anak yaitu:

Al-Imam As-Sayyid Ali Al-Uraidhi, menikah dengan Ummu Walad Wafat di Al-'Uraidh Madinah 210 H, memiliki anak yaitu:
Al-Imam As-Sayyid Muhammad An-Naqib, menikah dengan Ummu Isa, wafat di Bashrah 243 H, memiliki anak yaitu:

Al-Imam As-Sayyid Isa Ar-Rumi Al-Azraq, menikah dengan Ummu Ahmad, wafat di Bashrah 298 H, memiliki anak yaitu:

Al-Imam As-Sayyid Ahmad Al-Muhajir, menikah dengan Zainab binti Abdullah bin Hasan bin Ali Al-Uraidhi, wafat di Hasys, Yaman 345 H, memiliki anak yaitu:

Al-Imam As-Sayyid Ubaidillah, menikah dengan Ummul Banin binti Muhammad bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi, wafat di Sumal Yaman 383 H, memiliki anak yaitu:

Al-Imam As-Sayyid Alwi, menikah dengan Ummu Muhammad, wafat di Hadramaut Yaman 400 H, memiliki anak yaitu:

Al-Imam As-Sayyid Muhammad, menikah dengan Ummu Alwi, wafat di Bayt Jubair Yaman 446 H, memiliki anak yaitu:

Al-Imam As-Sayyid Alwi, menikah dengan Ummu Ali[3], Wafat di Bayt Jubair Yaman 512 H, memiliki anak yaitu:

Al-Imam As-Sayyid Ali Khali’ Qasam, menikah dengan Ummu Muhammad, Wafat di Tarim Yaman 529 H, memiliki anak yaitu:

Al-Imam As-Sayyid Muhammad Shahib Mirbath, menikah dengan Ummu Banin, wafat di Marbath Oman 556 H, memiliki anak yaitu:
Al-Imam As-Sayyid Alwi Ammil Faqih, menikah dengan Ummu Abdul Malik . wafat di Yaman 613 H, memiliki anak yaitu:

Al-Imam As-Sayyid Abdul Malik Azhmatkhan, menikah dengan Ummu Abdullah binti Raja Naserabad India Lama, wafat di Naserabad India 653 H, memiliki anak yaitu:

Al-Imam As-Sayyid Abdullah Amir Khan, menikah dengan Ummu Ahmad, wafat di Naserabad India 696 H, memiliki anak yaitu:

Al-Imam As-Sayyid Ahmad Syah Jalaluddin, menikah dengan Ummu Husain, wafat di Hyderabad India (dekat kota ahmadabad) th 711 H, memiliki anak yaitu:

Al-Imam As-Sayyid Syekh Jamaluddin Al-Akbar Al-Husaini menikah dengan Puteri Syahirah atau Puteri Selindung Bulan (Putri Saadong II) binti Sultan Baki Syah bin Sultan Mahmud, Raja Chermin, Kelantan, Malaysia (menikah tahun 1360 M),
wafat di wajo, sulawesi indonesia, 1453 M / 857 H,
memiliki anak yaitu:

Al-Imam As-Sayyid Ali Nurul Alam (Perdana Menteri Kelantan / Raja Champa, menikah dengan (Putri Mesir) Syarifah Fatimah Al-Jilani  Al- Hasani binti Muhammad bin Abdullah bin Ahmad bin Hasan Al-Jilani Al-Hasani.
wafat di Kampung Garak Ruwain, Binjai Lima / Binje Limo, Provinsi Pattani, Thailand Bagian Selatan.
memiliki anak yaitu:

As- Sayyid Al-habib Malik Abdullah / Raja Abdullah / Syarif Abdullah Mesir / Sultan Syarif Abdullah Umdatuddin champa menikah dengan Syarifah Mudaim alias Nyimas Rara Santang binti Raden Pemanah Rasa (Prabu Siliwangi - Raja Pajajaran) Penguasa tanah pasundan.
wafat di kampung surabaya ilir, bandar surabaya, lampung tengah,indonesia
memiliki anak yaitu:

As-Sayyid Al-Habib Syarif Hidayatullah / Sunan Gunung Jati / Sultan Cirebon, wafat di Astana gunung jati, cirebon jawa barat indonesia th.1568 M / 976 H

Rabu, 31 Maret 2021

Nasihat Seorang Kiai Sepuh kepada Para Santri

LIMA MENIT

Di suatu malam yang ditumpahi cahaya bulan, seorang kiai sepuh dari Jawa Timur bertutur. Ratusan santrinya menyimak kalimat demi kalimat yang keluar laksana mutiara. Dengan nada pelan dan santai, sang kiai memberi nasehat yang kurang lebih demikian:

Saya ini dulu sudah mengaji lebih dari tiga puluh tahun, tapi perasaan saya tak dapat ilmu,  kecuali hanya sedikit saja. 

Namun, saya selalu setia dengan proses ini, proses belajar ala pesantren, taat pada metode pembelajaran para kiai dan ulama salaf. 

Pernah, ketika dulu mengaji Kitab Ihya Ulumuddin baru beberapa lembar saja, kiai saya sakit, sampai dua tahun, mendekati tiga tahun. Selama itu pula saya setia menunggu beliau. 

Setelah beliau sembuh, saya baru dapat melanjutkan mengaji Kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali. Saya juga mengaji kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah As-Sakandari.

Alhamdulillah, seletelah tiga puluh tahun lebih mengaji, saya dapat membaca kitab-kitab (kuning) apa saja yang telah diajarkan oleh kiai saya. Namun, seakan itu hanya di lidah saya saja, tak sampai tenggorokan. Belum menancap di hati saya.  

Kemudian, tanpa saya duga, kiai saya meminta saya untuk menikahi putri beliau. Saya kaget: 

kenapa mesti saya? Saya itu  kan tidtak punya apa-apa? Saya juga bukan kategori orang yang bisa bekerja. 

Usut punya usut, ternyata kiai saya menikahkan putrinya kepada saya justru karena ketidakpunyaan saya. Karena saya tidak punya harta benda. 
Ini, lho, berkah saya tidak punya apa-apa, saya malah menjadi menantu kiai saya.

Saudara saya membanyol: kiai memilih kamu (yang tidak punya apa-apa) agar kamu tidak berani mempoligaminya! 

Haha, banyolan saudara saya ini ada-ada saja. Mana mungkin saya berani menduakan putri kiai saya sendiri. 

Kemudian saya membantu mengajar di pesantren kiai saya, sampai kemudian ayah saya meninggal dunia. Karena dirumah ayah saya punya pesantren, saya mesti kembali. Saya pamit kepada kiai saya: 

Kiai, saya pamit, saya harus pulang, ayah saya meninggal dunia, kata saya.  

Kiai menjawab, oh iya betul, kamu harus pulang. Punya tinggalan pesantren harus terus dilestarikan. 

Namun kiai, ada satu hal yang ingin saya minta: saya ini tidak punya apa-apa. Mohon minta doa amalan kepada kiai, agar saya mudah mendapat rejeki, pinta saya. Bukannya diberi amalan doa, saya malah dimarahi: 

Huuussss!!! Kamu ini gimana, seperti tak percaya kepada Allah saja!!! 

Sontak saya tercekat kaget, tak karu-karuan rasanya. Marah betul beliau. 
Namun di situlah, di akhir-akhir dengan kiai saya itu, hanya pertemuan sekitar lima menit, ilmu kiai saya tertancap ke dalam hati. 

Karena marahnya kiai itu, saya jadi ingat semua apa-apa yang di dalam Al-Quran, Hadits dan kitab-kitab, termasuk yang ada di Ihya’ dan Hikam. Saya jadi ingat ayat Al-Quran: 

Wa ma min dabbatin fil-ardhi illa ‘alallahi rizquha; dan tidak ada satu binatang melatapun di bumi melainkan Allahlah yang memberi rezekinya (QS. Hud [11]: 6). 

Saya jadi ingat:  “...Wamayyattaqillaaha yaj ‘allahu mahrajan. Wayarzuqhu minhaitsu laayahtasib, wamayya tawaqal ‘alallaahi fahuwa hasbuhu, inalallaha balighu amrihi  qad ja ‘alallaahu liqulli syai in qodron.”. ...

Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rejeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (QS. At-Thalaq: 65, 2-3) 

Lima menit itu benar-benar mengubah saya. Yang tadinya ilmu hanya di lidah, sepertinya masuk ke hati saya. 
Hati saya jadi tawakkal, pasrah kepada Allah. 
Apa yang selama ini saya kaji di kitab-kitab itu, baru saya rasakan setelah kiai memarahi dalam tempo lima menitan itu. 
Saya jadi mantap menjalani hidup. 

Kemudian saya bertanya kepada istri saya: Dik, kita akan pindah. Namun rumah ayah saya kini diwarisi adik saya. Saya sudah tidak punya rumah. Apa jawaban istri saya?  

"Saya tidak menikah dengan rumahmu, Mas." 

Begitulah jawabannya. Saya jadi lega. Memang benar Hadis Nabi: memilih istri itu yang terpenting adalah karena faktor agamanya...

Fadzfarbidzaatitdieni, taribatyadaka. 

Nabi Muhammad juga demikian: menjodohkan putrinya dengan Sayyidina Ali kw, salah seorang yang miskin (secara duniawi, namun pandai ilmu agamanya). Padahal, banyak sahabat Nabi yang kaya raya. 

Juga demikian salah satu sahabat beliau, Abu Hurairah. Ketika beliau mendapati putrinya yang sudah berumur untuk menikah, beliau bertanya: lelaki seperti apa yang engkau mau? 

Sang putri menjawab: dua syarat. 

Pertama pandai dalam ilmu, dan kedua miskin. 

Abu Hurairah membalas balik: syarat pertama bisa kumengerti. Tapi, untuk apa syarat yang kedua? 

Sang putri menjawab: agar dia tidak berani nikah lagi.  

Begitulah. Orang-orang dulu begitu hati-hati dalam urusan harta. 
Maka saya minta, jika anda sekalian menuntut ilmu, niatnya jangan karena ingin harta. Jangan karena ingin jabatan atau kedudukan. Jangan karena ingin dipuji orang lain. Jangan karena dunia. 

Tapi niatilah menuntut ilmu untuk mencari ridla Allah semata. Insya Allah nanti Allah yang menjamin. 

Itulah salah satu kandungan yang ada dalam kitab Ihya dan Kitab Hikam. 
Ini kitab tasawuf, yang kadang agak bertentangan dengan (pendpat ulama) fiqih. Namun, kitab ini ampuh, sudah diakui keramatnya. 

Dulu, setelah jadi, kitab Ihya ini akan dilarang oleh seseorang yang alim.  Orang itu menyuruh murid-muridnya agar kitab itu dimusnahkan, karena isinya dianggap bertentangan. 

Sebelum sempat memusnahkan, orang itu mimpi bertemu dengan Rasulullah,  Abu Bakar dan Umar bin Khattab ra. Ia melihat Imam Ghazali bersamanya dan mengadukan perihal kitab ini yang ingin dibakar. Ternyata rasulullah mengatakan kitab itu baik. 

Rasulullah kemudian mencambuk orang yang alim itu. Meski dalam mimpi, ketika bangun tidur, bekas pukulan membekas dalam tubuh, sampai waktu yang lama. 

Setelah itu orang alim itu bertaubat, mau mempelajari kitab Ihya’ dan bahkan ditemui Rasulullah dalam mimpi. 

(Kisah lengkapnya dalam Kitab Awariful Ma'arif karya Imam Syaikh Syahrowardi, ed.) Imam Ghazali - sang Hujjatul Islam, pengarang kitab itu – ternyata tak sembarangan dalam menulis hadits. 

Tiap kali menulis hadis untuk dimasukkan ke kitab Ihya, beliau berwudlu, kemudian shalat sunnah, kemudian istikharah terlebih dahulu. 

Pasca itu, sepertinya beliau dibimbing Nabi dalam mimpi, ataupun melalui peristiwa lain. 

Misalnya, setelah itu, hadis yang ditulis itu dicium, apakah baunya wamgi atau tidak? 
Kalau baunya wangi, ini berarti benar-benar dari nabi. Kalau tidak wangi beliu tinggalkan hadits itu, tidak dimasukkan dalam kitabnya. 
Inilah, kehebatan para ulama salaf. 

Mengapa di pesantren kitab-kitab para ulama salaf masih kita kaji. Apa maksud dari kitab ulama salaf itu? 

Yaitu kitab-kitab yang dibikin oleh para ulama yang tulus, bersih, jujur, wira’i, dan hanya berharap ridha dari Allah. Bukan untuk mendapat ganti cetak (royalti) yang melebihi harga cetaknya.

Beliau-beliau menulis bukan karena uang, ketenaran, jabatan atau yang lainnya, tapi karena mengharap Ridla Allah semata. 

Maka, anda yang belajar di pesantren dan membelajari kitab karya ulama-ulama terdahulu harus bersyukur. Dan banggalah, jangan minder. Dan jangan berhenti belajar. 

Usahakan apa yang anda pelajari menjadi laku dan menancap dalam hati. Karena soal hatilah yang paling sulit di dunia ini. 

Kalau soal ilmu dunia, skill, itu mudah. Tapi soal hati ini sulit. Banggalah jadi santri. 

Kiai Mahrus Ali, guru saya, itu ya cuma mengaji di pesantren seperti ini, tapi beliau bisa mencari solusi problem-problem kebangsaan, dan sering dengan Bung Karno dan tokoh bangsa lainnya. 

Mbah Hasyim Asy’ari dulu juga begitu, dengan mempelajari kitab-kitab para ulama salaf. Toh beliau mampu berkontribusi banyak untuk bangsa dan negara. 

Jangan minder jadi santri. Bila perlu, pakailah identitasnya, seperti sarung dan peci misalnya. 

Mbah Mahrus Ali dulu pakai sarung, tak pernah pakai celana. Toh beliau diterima oleh segenap tokoh bangsa. 

Pula Kiai Hasyim Asy’ari, yang oleh Jepang dianggap Bapak Umat Islam Indonesia, kemana-mana sering pakai sarung. Dan beliau-beliau mampu menjadi rujukan persolan agama, bangsa dan negara. 

Dan para kiai hari ini juga sebenarnya bukan tidak mengerti persoalan bangsa. Hanya karena memang ada yang sementara diam. Karena memang, dari kitab ulama salaf yang diajarkan di pesantren itu, bisa untuk apa-apa. 

Maka, banggalah jadi santri. Jangan pernah merasa minder. 
Nanti bangsa dan negara ini akan butuh kalian. Butuh orang-orang yang jujur dan berakhlak. 

Kita bisa lihat, bagaimana kondisi negara ini hancur ditangan orang terdidik. 

BLBI belum selesai, ada Century. 
Century belum selesai, ada lagi dan lagi. Terus begitu, saking ruwetnya. 

Mereka tak akan kuat terus menerus seperti itu. Masalah belum ketemu solusi, sudah masalah lagi. Ini persoalan utama ada pada manusianya. 

Nah, dalam beberapa tahun kedepan, bangsa dan negara akan butuh kalian, butuh orang orang yang jujur, bisa dipercaya. 

Orang-orang akan datang ke kita, ketika ketidakjujuran dan saling-tipu sudah membabi buta dimana-mana. 

Mantapkanlah ilmu sampai kedalam hati. Meski kelak kamu jadi apa saja, dan melanglangbuana ke Eropa misalnya, hati kalian masih berpijak pada pesantren ini, memegang apa yang diajarkan para kiai dan ulama salaf. 

Dan jangan lupa, untuk senantiasa shalat di awal waktu, dan lebih-lebih dilakukan secara berjamaah. Jika sudah beristri kelak, jadilah imam istri kalian dalam shalat berjamaah. 

Jika anda sekalian memenuhi kewajiban kalian, Insya Allah nanti Allah sendiri yang menata kalian. 
Kadang kita ini malu. Bahkan, Ibnu Athaillah sendiri heran: 

Kenapa untuk disuruh masuk surga saja harus “dipaksakan”. Ini kan mengherankan. Coba saja: 

shalat subuh berjamaah, misalnya, itu jelas sangat utama, jalan menuju syurga, tapi sulit orang menjalankannya. Padahal itu jalan menuju kebahagiaan.  
Hal-hal yang wajib, lebih-lebih yang sunnah, itu kan dari Allah agar kita menuju ke kebahagiaan, tapi seringkali sulit orang melaksanakan. 
Demikian, mudah-mudahan ini semua bermanfaat untuk kita semua. Amin Allahumma Amin. *** 

Nasihat-nasihat itu, kurekam dalam kepala. Kuolah dengan penangkapanku, kemudian kusarikan dalam tulisan ini dengan caraku sendiri, yang jelas tak persis seluruhnya. 

Kuambil yang ingat-ingat saja, kutambahkan dan kurangi apa yang menurutku membantu pemahaman. 

Nasehati itu disampaikan oleh sang kiai sepuh ketika mengisi ceramah pada khataman Kitab Ihya dan Al-Hikam. Meski hanya sebentar, nasehat Kiai Sepuh itu begitu bermakna, dan mengingatkan kembali nilai-nilai islami dan kesantrian. 

Kuketahui kemudian, kiai sepuh itu adalah almarhum KH. Abdul Aziz Mansyur, Pimpinan Pesantren Paculgowang. 

Mbah Aziz, begitu beliau bisa disapa, kemudian banyak menelurkan dan menyunting buku. Bahkan beliau menjadi pimpinan tertinggi (Ketua Dewan Syuro) PKB, dikenal kealimannya, serta menjadi tokoh nasional. Beliau bercerita semasa nyanti di Pesantren Lirboyo, Kediri. 
Dan ceramah itu, ditayangkan di TV9 malam jumat (28/12) lalu. 

Untuk beliau, al-Faatihah. 

(Ahmad Naufa) 

Kamis, 14 Januari 2021

Satu Jurus Bidah

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah ra bahwasannya Rasul saw menyampaikan pesan dalam khutbanya (sebagian diantaranya adalah) : 

وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

Sejelek-jelek perkara adalah perkara yang diada-adakan (baru), dan “KULLU” perkara yang diada-adakan (baru) adalah bid’ah, dan “KULLU” bid’ah adalah kesesatan”  

[HR. An Nasa’i]

Catatan Alvers

Hadits ini menjadi “rukun”  pembuka khutbah atau ceramah dari kalangan yang mendakwahkan dirinya sebagai gerakan puritanisme. 

Hadits ini menjadi pokok pertentangan antara yang pro dan kontra dengan mereka. Fokus persoalannya terletak pada lafadz “KULLU”. 

Kebanyakan orang memaknai lafadz "KULLU" dengan arti semua atau setiap ataupun "tanpa kecuali" padahal jika kita teliti dalam bahasa arab bahwa makna dari lafadz "Kullu" adalah tidak selalu dimaknai "semua" akan tetapi ada sebagian lafadz "Kullu" bermakna "Sebagian", seperti pada firman Allah yang berbunyi : 

وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ

Dan kami menjadikan dari air; “KULLA” makhluk hidup

 [QS Al-Anbiya : 30]

Lafadz “KULLA” disini haruslah diterjemahkan dengan arti : SEBAGIAN sehingga ayat itu berarti: Kami ciptakan dari air sperma; SEBAGIAN makhluk hidup, karena pada kenyataannya tidak semua makhluk yang diciptakan Allah berasal dari air. 

Coba perhatikan firman Allah yang menceritakan tentang penciptaan Iblis dan adam yang berbunyi: 

خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

"Engkau (Allah) telah menciptakan aku (iblis) dari api sedangkan engkau menciptakannya (adam) dari tanah liat".

[QS Al-A’raf : 12]

Dengan demikian, ternyata lafadz KULLU tidak dapat diterjemahkan secara mutlak dengan arti : setiap / semua, sebagaimana umumnya jika merujuk ke dalam kamus bahasa Arab umum, karena hal itu tidak sesuai dengan kenyataan.

Maka dari itu tidak semua bid’ah itu sesat. 

Imam Syafi’i dalam kitab Fathul Bari menyebutkan:

الْبِدْعَة بِدْعَتَانِ : مَحْمُودَة وَمَذْمُومَة ، فَمَا وَافَقَ السُّنَّة فَهُوَ مَحْمُود وَمَا خَالَفَهَا فَهُوَ مَذْمُوم

Bid’ah itu ada dua: terpuji dan tercela. Bid’ah yang sesuai dengan sunnah berarti terpuji, sedangkan yang menyelisihinya berarti tercela.

Namun orang yang anti bid’ah hasanah, mereka bertanya: 
“kalau memang ada sesuatu yang dinilai baik pada zaman sekarang niscaya kebaikan itu telah dilakukan oleh para salaf”. 

Sebagaimana slogan yang sering mereka kemukakan: 

لأنه لو كان خيرا لسبقونا إليه

jika suatu perbuatan itu dinilai baik maka sudah pastilah mereka (salaf) mendahului kita dalam melakukannya 

[Tafsir Ibn Kathir, IV, 190]

Kiranya statement ini juga dibantah oleh imam Syafi’i yang dinukil dalam kitab dalam Husnu at-Tafahhum, beliau berkata:

كل ما له مستند من الشرع فليس ببدعة ولو لم يعمل به السلف

Setiap perkara yang memiliki landasan dari syari’atnya, maka bukanlah bid’ah walaupun tidak dilakukan oleh ulama salaf.

Dalam prakteknya, para sahabat banyak melakukan sesuatu kebaikan yang tidak pernah dilakukan sama sekali oleh Rasul saw. Jikalau ada seseorang yang patut mengerjakan semua kebaikan dan tidak menyisakannya sedikitpun dari kebaikan maka itu adalah Rasul saw. 
Namun kenyataan berkata lain, Ketika Umar bin Khaththab memberi isyarat kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk mengumpulkan Al-Quran dalam satu mushaf karena banyak sahabat penghafal quran telah gugur dalam perang yamamah maka Abu Bakar berkata:

كيف نفعل شيئا لم يفعله رسول الله صلى الله عليه وسلم؟

“ Bagaimana kita akan melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasul saw?

 [HR Bukhari]

Generasi berikunya juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Imam Malik, beliau melakukan qunut witir, dan beliau pun mengatakan bahwa itu tidak pernah dilakukan sahabat akan tetapi itu baik

 [al-Hawadits wal Bida’].

 Imam Syafi’i melafazkan Niat sholat padahal Nabi dan sahabat tidak pernah melakukannya 

[Al-Mu’jam]. 

Urwah bin Zubair ketika hendak makan memabaca doa yang tidak diajarkan oleh Nabi saw dan para sahabatnya

 [Al-Mushannaf].

Kondisi ini mengukuhkan statemen di atas bahwa tidak selamanya kebaikan itu harus dilakukan oleh pendahulu kita yang dikemukakan imam syafi’i di atas dalam prakteknya “disetujui” oleh syeikh Ibn Baz, sehingga ulama kenamaan arab saudi ini berfatwa dalam situsnya tentang bolehnya membaca doa khatam al-Quran di dalam sholat dan tidak termasuk bid’ah meskipun tidak ada contoh dari Rasul maupun dari para sahabat yang merupakan acuan ibadah. 

Selanjutnya ia beragumen karena tidak ada seorang pun dari ulama salaf yang mengingkari doa khatam al-Quran di dalam sholat, dan tidak ada seorang pun yang mengikarinya jika dilakukan di luar sholat. 

Selanjutnya ia mengakhiri fatwanya dengan tantangan bagi orang yang melarangnya, ia berkata :  

 فمن قال: إنه منكر فعليه بالدليل

maka barangsiapa yang mengingkarinya (bolehnya membaca doa khatam quran dalam sholat), wajib ia mengemukakan dalilnya

 “Wallahu A’lam. 

Semoga uraian singkat ini menjadikan orang sadar bahwa tidak semua bid’ah itu jelek sehingga tidak mudah membid’ahkan perbuatan baik yang dikerjakan orang lain.

Minggu, 20 Desember 2020

Bhumi Pun Segan Padanya

Saat menulis tulisan ini aku sedang berada di bis menuju Madinah, kota cahaya yang menjadi impian para pecinta dan perindu itu. disanalah bersemayam pelipur lara dan penyejuk mata mereka, manusia teragung dan termulia yang pernah tercipta di muka bumi ini, Baginda Nabi Muhammad Saw. 

Madinah tak henti-hentinya menyajikan untuk kita kisah-kisah para pecinta Rasulullah Saw, mereka yang sepanjang hayatnya memendam rasa rindu yang begitu dalam kepada Baginda Nabi, mereka  yang tak henti-hentinya menantikan hari itu, hari dimana mereka bisa berkumpul dengan beliau, menatap wajahnya, menikmati indah senyumnya, dan menyucup tangan mulianya. 

Salah satu dari para pejuang cinta itu adalah seorang ulama dari Suriah yang bertahun-tahun jasadnya tak pernah lepuh ditelan bumi. Pemakaman Baqi’ menjadi saksi kekal abadi cintanya…

Namanya Syaikh Isa Al-Bayanuni, seorang ulama yang berasal dari “Bayanun” salah satu desa yang menjadi bagian kota Aleppo di Suriah. 

Semasa hidupnya , ia dikenal sebagai sosok yang mempunyai ikatan batin yang begitu erat dengan Baginda Nabi Rasulullah Saw, ia juga mempunyai julukan ” Maddah Arrasul ” atau Sang pemuja Rasulullah Saw karena begitu banyaknya bait-bait syair yang ia karang untuk memuji Baginda Nabi. 

Pada tahun 1362 H beliau melaksanakan Ibadah haji bersama beberapa muridnya, ini adalah haji ke delapannya. biasanya beliau akan langsung menuju Madinah sebelum ke Mekkah untuk mengobati rasa rindunya kepada Rasulullah Saw. tapi tidak ditahun itu, beliau malah mengajak murid-muridnya untuk pergi ke Mekkah terlebih dahulu. 

Di Mekkah beliau menyempatkan diri untuk menghadiri perkumpulan para ulama di rumah Sayyid Alawi Bin Abbas Al-Maliki. kala itu terjadi perbincangan diantara mereka tentang satu Ibarat Tasawwuf yang rumit dan sulit dipahami. para ulama satu persatu menyampaikan uraian dan penjelasannya. Sampai ke giliran Syaikh Isa, beliau menjelaskan Ibarat itu dengan penjelasan yang mengagumkan. Sayyid Alawi bertanya :

” Wahai Syaikh Isa.. dari mana anda mendapatkan keterangan yang menakjubkan ini.. ? “

” aku membacanya di salah satu kitab manuskrip yang aku miliki.. ” jawab Syaikh Isa. 

” bisakah  di musim haji tahun depan anda bawa kitab itu kesini.. ?” Sayyid Alawi menimpali..

Syaikh Isa tersenyum.. Sebuah senyuman yang mengundang tanya Sayyid Alawi dan para ulama yang hadir di waktu itu.. Beliau lantas berkata :

” kalian memintaku untuk membawa kitab itu kesini tahun depan ?? Tahun ini aku tidak akan kembali lagi ke negaraku.. ” 

Setelah melihat wajah-wajah ulama yang hadir tampak terheran-heran akan perkataannya itu, beliau lalu menyambung ucapannya : 

” aku memang tak akan kembali ke Suriah lagi, aku melihat Rasulullah Saw dalam mimpiku, beliau membawa kabar gembira dan berkata : 

” aku sudah menyiapkan tempat khusus untukmu di dekatku wahai Syaikh Isa..”

Dari situ aku tahu bahwa aku tak akan kembali lagi ke negaraku, karenanya tahun ini aku datang ke Mekkah terlebih dahulu untuk melaksanakan haji untuk kemudian datang ke Madinah dan mendatangi “tempat khusus” itu.. “

Semua ulama yang hadir tertunduk mendengar ucapannya, padahal waktu itu Syaikh Isa masih sehat-sehat saja. Beliau baru merasakan sakit perut pada hari terakhir di Mina. Beliau lantas meminta murid-muridnya untuk langsung membawanya ke Madinah. disana beliau di rawat di rumah sakit selama 3 hari sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhir untuk menjemput kabar gembira yang Rasulullah Saw berikan untuknya itu.. 

Beliau akhirnya dimakamkan di Madinah di pemakaman Baqi’. setiap 3-4 tahun sekali, biasanya makam-makam di Baqi’ dibongkar untuk kemudian digantikan jenazah-jenazah yang lain. 

4 tahun setelah kewafatan Syaikh Isa, makamnya dibongkar, dan benar-benar mengejutkan ! Jasad beliau masih segar dan utuh layaknya mayat yang baru dikubur kemarin sore ! 8 tahun setelah kewafatannya, makamnya dibongkar kembali dan jasad beliau masih saja utuh sama seperti 4 tahun sebelumnya. Akhirnya makam beliau tak pernah dibongkar lagi

Akhirnya makam beliau tak pernah dibongkar lagi dan diberi tanda khusus dan dikenal sebagai makam “Syaikh Syami” seorang Syaikh dari Bumi Syam yang  jasadnya tak pernah lepuh dimakan bumi. 

Dan yang lebih menakjubkan dari semua itu, Syaikh Isa sudah pernah “meramalkan” keutuhan jasadnya itu dalam bait-bait syairnya, dalam bait-bait yang begitu populer dan selalu disenandungkan para pecinta Baginda Nabi hingga detik ini.. 

هم بالحبيب محمد و ذويه * إن الهيام بحبه يرضيه 

Mabuk kepayanglah karena mencintai Rasulullah Saw dan keluarganya, sesungguhnya mabuk kepayang karena mencintai Baginda Nabi itu membahagiakan hatinya.. 

إن مات جسمك فالهوى يحييه * جسد تمكن حب احمد فيه * تالله إن الأرض لاتبليه 

jika jasadmu mati maka rasa cinta itu akan menghidupkannya.. Jasad yang cinta Rasulullah Saw mendarah daging di dalamnya, demi Allah.. Bumi tak akan pernah menghancurkannya.. 

طوبى لمن هو في المحبة صبه * لم لا و مولاه الكريم يحبه * في القبر حاشا ان يضام محبه * او كيف يأكله التراب و حبه * في قلبه و مديحه في فيه 

Sungguh beruntung orang yang hanya sibuk mencintai Rasulullah Saw. Bagaimana tidak ? Sedangkan Tuhannya yang Maha Mulia begitu mencintai beliau. Ia yang mencintai Rasulullah Saw tak akan pernah hancur dalam kuburnya. Bagaimana bisa tanah memakan jasadnya ? Sedangkan cinta kepada Rasulullah bersemayam dalam hatinya dan pujian-pujian kepada beliau selalu menghiasi bibirnya… 

Gus Isma'il al Kholili