Selasa, 27 Agustus 2019

MENGENAL ZAKIR NAIK

Dr. Zakir Abdul Karim Naik atau lebih dikenal dengan nama Zakir Naik lahir di India pada 18 Oktober 1965.
Disebutkan dlm berbagai literatur, ia penah kuliah kedokteran di Mumbai, India.
Para pengagumnya menyebut ia sebagai sosok “ulama” terlibat dlm dakwah Islam dan perbandingan agama.
Bisa dikatakan Zakir Naik ini besar melalui Internet, seperti website dan video Youtube yg sengaja disebarluaskan di Indonesia.
Sebutan “ulama” yg disandang Zakir Naik tentu dipertanyakan.

Karena dari mana ia belajar ilmu agama Islam pun tdk jelas.
Tdk pernah disebutkan siapa gurunya, sama seperti sosok Ustadz Ahmad Sukina, pemimpin Majelis Tafsir Alquran (MTA) di Solo.

Tdk akan Anda temukan dari mana ia belajar agama meski dalam website resminya seperti IRF.
Tidak diketahui dari mana ia belajar agama yg ada, klaim Zakir Naik yg menyebut dirinya sebagai murid Syaikh Ahmad Deedat.

Belum lagi bacaan al-Qurannya yg tdk beraturan siapa yg mengajarinya al-Quran juga tdk jelas karena aksen Arab dan al-Qurannya benar-benar sudah keluar dari makhraj, tdk bagus, dan tdk memenuhi kaidah ilmu tajwid.

Di mana dan dgn ulama siapa Zakir Naik belajar tafsir, hadits, fiqih, syariah, bahasa Arab, dan lain sebagainya juga tdk pernah diketahui.
Tiba-tiba sosok ini muncul bak seorang ulama besar yg faham betul tentang Islam, memahami tafsir, memahami hadits, memahami syariat, dan lain sebagainya.

Dlm pidatonya, Zakir Naik mengatakan bhw dirinya adalah sarjana perbandingan agama, tapi faktanya ia seringkali mengeluarkan “fatwa” perihal masalah agama Islam yg bkn bidangnya.
Ia pun tdk ragu-ragu menyalahkan ulama sekelas Imam Madzhab Fiqih dan Hadits.

Dikatakan Zakir Naik bhw para Imam Fiqih dan Hadits itu tdk memiliki informasi (ilmu) yg lengkap saat mrk (para Imam Fiqih dan Hadits) memberikan atau mengeluarkan hukum-hukum Islam.

Bahkan Zakir Naik menyatakan bhw menerima dan mengikuti para Imam tsb sebagai guru dlm Islam dapat merusak Islam itu sendiri. Hal ini diungkapkan Zakir Naik saat ia diwawancarai seputar masalah Taqlid.

Dikatakan Zakir Naik terpengaruh oleh Syaikh Ahmad Deedat saat ia belajar ilmu kedokteran.
Syaikh Ahmad Deedat sendiri adalah seorang ulama sufi Ahlussunnah wal Jama’ah dari Afrika Selatan (1918-2005) yang konsen di bidang perbandingan agama.

Dari sini menunjukan bahwa Zakir Naik mulai membaca dan mengkaji buku-buku agama Islam saat ia berusia sekitar 22 tahun atau saat kuliah di Kedokteran sekitar tahun 1987.

Hebatnya, hanya dlm waktu 3 tahun (1987-1990) setelah membaca buku pelajaran agama Islam secara otodidak, dan ini termasuk aktivitasnya sebagai mahasiswa kedokteran dgn kegiatannya yg padat seperti mempelajari buku-buku kedokteran, ujian, kepaniteraan klinik, dll,
Ia telah mempelajari segala sesuatu tentang Islam dan mendirikan Islamic Research Foundation (IRF) pada Februari 1991 dan mulai berdakwah secara penuh.

Sungguh aneh bin ajaib, cukup berbekal belajar buku pelajaran agama Islam dlm 3 tahun sambil kuliah kedokteran yg begitu sibuknya, tiba-tiba keluar sebagai “ulama”, bahkan menyalahkan para ulama Imam Ahlussunnah wal Jama’ah.

Lebih aneh lagi, dlm pidatonya, Zakir Naik mengatakan dirinya telah mulai berdakwah sebelum IRF didirikan.
Hal ini menunjukan Zakir Naik mempunyai kemampuan luar biasa dlm menghafal.
Membaca buku pelajaran Islam tdk utk dipahami, tetapi hanya sekedar sebagai memori (dihafal).

Semakin tajam memori seseorang maka umumnya semakin cerdas, layaknya sebuah kamus yg menyimpan banyak memori.
Sama halnya dgn orang yg akan menghadapi ujian kenaikan kelas.
Dan dgn sedikit polesan kemahiran berorasi maka jadilah tampak perdebatan yg menghebohkan.
Alhasil banyak penonton yg terpukau -terkesima dgn ceramah Dr zakir Naik sebagai bidan poli klinik.

Meski begitu Zakir Naik sering mengaku sebagai murid Syaikh Ahmad Deedat. Benarkah..?
Tentu saja ini tdk benar !!.
Bagaimana mungkin seorang murid menyebut gurunya sendiri secara tak langsung sebagai orang yg syirik dan kafir.
Lihatlah bagaimana Zakir Naik mengatakan memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw. adalah perbuatan syirik dan ia menyamakan perbuatan tsb dgn Festival Hindu dan Kristen.
Maulid Nabi saw dan Tawassul dikatakan haram, dan lain sebagainya. Na’udzubillah.

Padahal Syaikh Ahmad Deedat yg ia klaim sebagai gurunya adalah pecinta Maulid Nabi saw.

Syaikh Ahmad Deedat berkata, “Ada jutaan Muslim termasuk saya, dan saya tdk keberatan merayakan hari-hari yg baik seperti yg anda katakan (peringatan Maulid Nabi).
Saya katakan itu OK. Dan saya tdk akan bersama anda, saya tdk setuju dgn anda, saya tdk ingin anda utk mengubah (pendapat) saya.”

Kenapa..?
Karena Zakir Naik adalah penganut ajaran Salafi (Wahabi), yg begitu mudah menuduh syirik, bid’ah, kafir kpd umat Islam yg berbeda dgnnya.
Dlm Wikipedia berbahasa Inggris, Zakir Naik disebut sebagai da'i Salafi (Wahabi) paling berpengaruh di India, bahkan dikatakan sebagai da'i Salafi (Wahabi) paling terkemuka di dunia.
Tdk hanya itu, dlm halaman Wikipedia dituliskan agama Zakir Naik adalah Salafi Islam, kemudian diganti menjadi Sunni Islam, dan sekarang menjadi Islam saja tanpa embel-embel.

Meski dirinya hakikatnya seorang Salafi tapi tdk sedikit orang-orang Salafi yg menyebutkan Zakir Naik adalah sesat dan menyesatkan.
Sebagai penganut ajaran Salafi, Zakir Naik beraqidah mujassimah tdk diragukan lagi.
Ia menyerupakan Allah Swt. dgn makhlukNya yg merupakan faham mujassimah.
Dikatakan Zakir Naik bhw Allah Swt. memiliki dua tangan, dua mata, wajah, kaki, tulang kering, dan memiliki tubuh yg besar ,Allah Swt. duduk di atas langit, di atas kursi yg besar menghadap ke ‘Arsy.
Inilah aqidah Salafi yg membedakan dgn aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja).

Fakta-fakta di atas tentu sangat berbahaya, tetapi ada yg lebih berbahaya lagi ketika Zakir Naik sudah mempermainkan ayat al-Quran dan al-Hadits, ayat al-Quran dan hadits sering disalah tafsirkan. Menafsirkan al-Quran tanpa ilmu dan asal-asalan,ini tentu sangat berbahaya. salah satu contohnya adalah bagaimana Zakir Naik menyamakan arti kata bahasa Arab dari Syifa dan Syafa’ah dlm al-Quran.
Dua kata yg artinya berbeda tetapi dianggap sama oleh Zakir Naik, ini kesalahan fatal, akibatnya ia pun tergelincir dlm memahami al-Quran, tdk sesuai dgn pemahaman para ulama tafsir.
Ini adalah suatu bentuk kebohongan nyata yg disengaja oleh Zakir Naik dlm menipu umat Islam khususnya mrk yg awam.
Sebuah fitnah keji yg mengatasnamakan al-Quran.

Para ulama sudah memperingatkan Zakir Naik tetapi pemikirannya ini tetap ia sebarkan luaskan.
Masih banyak penyimpangan-penyimpangan Zakir Naik lainnya yg tdk dapat disebutkan satu per satu.

Yg jelas dan perlu ditekankan di sini adalah kita harus berhati-hati dgn tingkah polah Zakir Naik.
Banyak ulama-ulama lain lebih mempuni yg mestinya kita ikuti, yg jelas sanad ilmunya, jelas siapa gurunya, jelas keilmuannya, yg bersambung dgn Rasulullah Saw., yg akan membawa kepada keselamatan di dunia dan akhirat.

Sekarang beliau sedang diproses  oleh pemerintah india karena banyak masalah berurusan dengan hukum.(SFA)

Sumber: Elhoda
~
____

Tidak ada komentar:

Posting Komentar