Sabtu, 30 September 2017

Bidah bukan hukum

.
================
Mungkin di antara kita pernah mendengar atau membaca adanya segelintir kaum ketika dihadapkan pada suatu persoalan  mereka  dengan lantangnya mengatakan : "ITU HUKUMNYA BID'AH".
.
Dari pernyataan tersebut sehingga memunculkan suatu pertanyaan:

1. Sejak kapan BID'AH menjadi HUKUM.???

2. Bukankah hukum dalam islam ini sdh baku , yaitu: Wajib, Sunnah, Mubah, Makruh, Haram ???

3. Dengan menjadikan BID'AH sebagai HUKUM dalam Islam bukankah hal tersebut telah menambah HUKUM yg telah ada???

4. Dengan menjadikan BID'AH sebagai HUKUM dalam Islam bukankah justru telah melakukan ke-BID'AH-an itu sendiri, karena telah menjadikan yg bukan hukum menjadi hukum???
.
Utk menjawab berbagai macam pertanyaan yg berkecamuk tersebut , melalui tulisan ini saya akan mencoba utk menguraikannya secara ringkas.
.
BID'AH bukanlah termasuk hukum dalam hukum Islam, tetapi BID'AH adalah jenis perkara yg perlu untuk dihukumi.
.
Dalam menghukumi perkara BID'AH tetap tunduk kepada lima hukum yang ada , yaitu : Wajib, Haram,  Sunnah,  Makruh, Mubah
.
Sebagaimana yang telah dijelaskan   oleh Imam An-Nawawi dlm Al-Minhaj syarah Shahih Muslim :

قال العلماء البدعة خمسة أقسام واجبة ومندوبة ومحرمة ومكروهة ومباحة فمن الواجبة نظم أدلة المتكلمين للرد على الملاحدة والمبتدعين وشبه ذلك ومن المندوبة تصنيف كتب العلم وبناء المدارس والربط وغير ذلك ومن المباح التبسط في ألوان الأطعمة وغير ذلك والحرام والمكروه ظاهران وقد أوضحت المسألة بأدلتها المبسوطة في تهذيب الأسماء واللغات
.
“Ulama berkata bahwa bid’ah terbagi menjadi 5 bagian (bagian hukum) yakni :
a. Wajibah (bid’ah yang wajib),
b. Mandubah (bid’ah yang mandub),
c.Muharramah (bid’ah yang haram),
d. Makruhah (bid’ah yang makruh),
e. dan Mubahah (bid’ah yang mubah)”.
Diantara bid’ah yang wajib adalah penyusunan dalil oleh ulama mutakallimin (ahli kalam) untuk membantah orangorang atheis, ahli bid’ah dan semisalnya.
Diantara bid’ah mandzubah (bid’ah yang sunnah) adalah mengarang kitab ilmu, membangun madrasah dan tempat ribath serta yang lainnya.
Diantara bid’ah yang mubah adalah mengkreasi macam-macam makanan dan yang lainnya.
Sedangkan bid’ah yang haram dan bid’ah yang makruh, keduanya telah jelas dan telah dijelaskan permasalahannya dengan dalil yang rinci didalam kitab Tahdzibul Asmaa wal Lughaat”
.
Dalam kitab Tahdzibul Asma’ wal Lughaat dijelaskan secara rinci sebagai berikut:

قال الشيخ الإمام المجمع على إمامته وجلالته وتمكنه في أنواع العلوم وبراعته أبو محمد عبد العزيز بن عبد السلام رحمه الله ورضي
عنه في آخر كتاب "القواعد": البدعة منقسمة إلى: واجبة، ومحرمة، ومندوبة، ومكروهة، ومباحة. قال: والطريق في ذلك أن تعرض
البدعة على قواعد الشريعة، فإن دخلت في قواعد الإيجاب فهي واجبة، أو في قواعد التحريم فمحرمة، أو الندب فمندوبة، أو المكروه
فمكروهة، أو المباح فمباحة، وللبدع الواجبة أمثلة منها: الاشتغال بعلم النحو الذي يفهم به كلام الله تعالى وكلام رسول الله - صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، وذلك واجب؛ لأن حفظ الشريعة واجب، ولا يتأتى حفظها إلا بذلك وما لا يتم الواجب إلا به، فهو واجب، الثاني حفظ
غريب الكتاب والسنة في اللغة، الثالث تدوين أصول الدين وأصول الفقه، الرابع الكلام في الجرح والتعديل، وتمييز الصحيح من
السقيم، وقد دلت قواعد الشريعة على أن حفظ الشريعة فرض كفاية فيما زاد على المتعين ولا
يتأتى ذلك إلا بما ذكرناه، وللبدع
المحرمة أمثلة منها: مذاهب القدرية والجبرية والمرجئة والمجسمة والرد على هؤلاء من البدع الواجبة، وللبدع المندوبة أمثلة منها
إحداث الرُبِط والمدارس، وكل إحسان لم يعهد في العصر الأول، ومنها التراويح، والكلام في دقائق التصوف، وفي الجدل، ومنها جمع المحافل للاستدلال إن قصد بذلك وجه الله تعالى. وللبدع المكروهة أمثلة: كزخرفة المساجد، وتزويق المصاحف، وللبدع المباحة أمثلة: منها المصافحة عقب الصبح والعصر، ومنها: التوسع في اللذيذ من المآكل، والمشارب، والملابس، والمساكن، ولبس الطيالسة، وتوسيع الأكمام. وقد يختلف في بعض ذلك فيجعله بعض العلماء من البدع المكروهة، ويجعله آخرون من السنن المفعولة في عهد رسول الله - صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فما بعده، وذلك كالاستعاذة في الصلاة والبسملة هذا آخر كلامه
.
“Syaikhul Imam Abu Muhammad ‘Abdul ‘Aziz bin Abdis Salam didalam akhir kitabnya al- Qawaid berkata : “bid’ah terbagi kepada hukum yang wajib, haram, mandub, makruh dan mubah. Ia berkata : metode yang demikian untuk memaparkan bid’ah berdasarkan kaidah kaidah syari’ah, sehingga apabila masuk pada qaidah (penetapan) hukum wajib maka itu bid’ah wajibah, apabila masuk pada qaidah (penetapan) hukum haram maka itu bid’ah muharramah, apabila masuk pada qaidah (penetapan) hukum mandub maka itu bid’ah mandubah, apabila masuk pada qaidah (penetapan) hukum makruh maka itu bid’ah makruhah, apabila masuk pada qaidah (penetapan) hukum mubah maka itu bid’ah mubahah. Diantara contohnya masing-masing adalah ;
.
1. Bid’ah Wajibah seperti : menyibukkan diri belajar ilmu-ilmu sehingga dengannya bisa paham firman-firman Allah Ta’ala dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, itu wajib karena menjaga menjaga syariah itu wajib, dan tidak mungkin menjaga kecuali dengan hal itu, dan sesuatu kewajiban yang tidak sempurna kecuali dengannya maka itu wajib, menjaga bahasa asing didalam al-Qur’an dan as-Sunnah, mencatat (membukukan) ilmu ushuluddin dan ushul fiqh, perkataan tentang jarh dan ta’dil, membedakan yang shahih dari buruk, dan sungguh kaidah syariah menunjukkan bahwa menjaga syariah adalah fardlu kifayah”.
.
2. Bid’ah Muharramah seperti : aliran (madzhab) al-Qadariyah, al-Jabariyah, al-Murji’ah, al-Mujassimah, dan membantah mereka termasuk kategori bid’ah yang wajib (bid’ahwajibah).
.
3. Bid’ah Mandzubah (Bid’ah yang Sunnah) seperti : membangun tempat-tempat rubath dan
madrasah, dan setiap kebaikan yang tidak ada pada masa awal Islam, diantaranya
adalah (pelaknasaan) shalat tarawih, perkataan pada detik-detik tashawuf, dan lain
sebagainya.
.
4. Bid’ah Makruhah seperti : berlebih-lebihan menghiasai masjid, menghiasi mushhaf danlain sebagainya.
.
5. Bid’ah Mubahah seperti : bersalaman (berjabat tangan) selesai shalat shubuh dan ‘asar, jenis-jenis makanan dan minuman, pakaian dan kediaman. Dan sungguh telah berselisih pada sebagian yang demikian, sehingga sebagian ‘ulama ada yang memasukkan pada bagian dari bid’ah yang makruh, sedangkan sebagian ulama lainnya memasukkan perkara sunnah yang dilakukan pada masa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dan setelah beliau, dan itu seperti mengucapkan isti’adzah didalam shalat dan basmalah. Ini akhir perkataan beliau. “
.
Maka akan menjadi lucu dan rancu tatkala ada yg mengatakan, "HUKUMNYA BID'AH" terhadap suatu persoalan atau perbuatan.
.
Dengan demikian maka dapat kita fahami bahwa dengan menjadikan  BID'AH sebagai  HUKUM , maka sungguh merupakan perbuatan BID'AH DLOLALAH yg sebenar-benarnya, karena telah melakukan perbuatan yang bertentangan dg hukum islam itu sendiri..
.
Demikian penjelasan ringkas tentang BID'AH BUKAN HUKUM.
Semoga ada manfaatnya.
.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar