Jumat, 15 September 2017

ZUHUD

   Zuhud di dunia merupakan alamat kewalian. Arti zuhud: Meninggalkan suka pada dunia, kecenderungan kepadanya, dan menikmati syahwat-syahwatnya karena ia merupakan perkara yang melalaikan daripada Allah SWT dan negeri akhirat.

   Dan tanda-tanda zuhud adalah berduka ketika mendapat sesuatu dan merasa gembira ketika kehilangannya.

   Perkara-perkara yang boleh membuatkan manusia merasa zuhud dengan dunia adalah bilamana dia sentiasa berpikir tentang kehinaannya, kejelekannya dan kebinasaannya. Dengan demikian, dunia ini tidak bermanfaat kepada pemiliknya dan ia tidak akan kekal baginya.

   Di dalam sebuah hadits:

لَوْ كَانَتِ ٱلدُّنْيَا تَزِنُ عِنْدَ ٱللهِ جَنَاحَ بَعُوْ ضَةٍ مَا سَقَ كَافِرًا مِنْهَا شَرْ بَةَ مَاءٍ

   Artinya: "Kalaulah dunia ini ada harga di sisi Allah seberat sayap nyamuk niscaya Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir walau seteguk air pun darinya." (HR. At-Tirmidzi)

   Dalam sebuah hadits:

ٱلدُّنْيَا مَلْعُوْنَةٌ مَلْعُوْنٌ مَا فِيْهَا إِلَّاذِكْرَ ٱللهِ وَمَا وَٱلَاهُ، أَوْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّهًا

   Artinya: "Dunia ini terlaknat. Dilaknat apa yang ada di dalamnya melainkan dzikir kepada Allah serta apa yang dipimpin-Nya, atau orang yang alim atau orang yang belajar." (HR. At-Tirmidzi)

   Barangsiapa yang mengambil dunia lebih dari kebutuhannya maka ia telah mengambil kecelakaannya dalam keadaan dia tidak menyedarinya.

   Golongan al-'arifin menyatakan ayat al-Qur'an yang paling jelas pada mencela akan dunia ini serta perlunya zuhud terhadapnya adalah firman Allah SWT:

وَلَوْلَاۤ أَنْ يَكُونَ ٱلنَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً لَّجَعَلْنَا لِمَنْ يَكْفُرُ بِٱلرَّحْمَٰنِ لِبُيُوتِهِمْ سُقُفًا مِّنْ فِضَّةٍ وَمَعَارِجَ عَلَيْهَا يَظْهَرُونَ ﴿٣٣﴾ وَلِبُيُوتِهِمْ أَبْوَابًا وَسُرُرًا عَلَيْهَا يَتَّكِئُونَ ﴿٣٤﴾ وَزُخْرُفًا ۚ وَإِنْ كُلُّ ذَٰلِكَ لَمَّا مَتَاعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۚ وَٱلْآخِرَةُ عِنْدَ رَبِّكَ لِلْمُتَّقِينَ ﴿٣٥﴾

   Artinya: "Dan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya. Dan (Kami buatkan pula) pintu-pintu (perak) bagi rumah-rumah mereka dan (begitu pula) dipan-dipan yang mereka bertelekan atasnya. Dan (Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dari emas untuk mereka). Dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, dan kehidupan akhirat itu di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Az-Zukhruf: 33-35)

   Zuhud ada beberapa derajat:

i) Zuhud daripada perkara haram, hukumnya wajib karena ia sebagian daripada sifat takwa.

ii) Zuhud pada perkara syubhat, ianya sebagian yang melambangkan kewara'kan seseorang.

iii) Zuhud daripada mengambil lebih daripada kadar kebutuhan di dunia ini. Ini sangat afdhal dan hukumnya sunnah. Ianya mengundang berbagai faedah pada agama dan urusan keduniaan. Sabda Baginda SAW:

ازْ هَدْ فِي ٱلدُّنْيَا يُحِبَّكَ ٱللهٌ، وَازْهَدْ فِيْمَا عِنْدَ ٱلنَّاسِ يُحِبَّكَ ٱلنَّاسُ

   Artinya: "Zuhudlah kamu di dunia niscaya Allah akan mencintaimu dan zuhudlah apa yang ada di tangan manusia niscaya engkau akan disukai mereka." (HR. Ibnu Majah)

   Sabda Baginda lagi:

ٱلزُّ هْدُ فِي ٱلدُّنْيَا يُر يْحُ ٱلْقَلْبَ وَٱلْبَدَنَ، وَالرَّغْبَةُ فِيْهَا تُكْثِرُ ٱلْهَمَّ وَٱلْحَزَنَ

   Artinya: Zuhud pada dunia ini menenangkan jiwa dan tubuh badan. Mencintainya pula menambahkan keluh kesah dan kesedihan." (HR. Ath-Thabrani)

   Ketahuilah bahwa sesungguhnya seorang mukmin yang berakal itu lebih terkesan dengan akhirat berbanding dunia. Dan mereka yang menyamakan kedua-keduanya adalah bodoh lagi dungu. Adapun orang yang lebih terkesan dengan dunia berbanding akhirat maka ia orang yang syak lagi ragu-ragu.

ﻭَٱللّٰهُ أَﻋْﻠَﻢُ بِٱﻟﺼَّﻮَٱﺏِ
.
[ Hidayah At-Tholibin Fi Bayan Muhimmat Ad-Din karya Al-'Allamah Al-Faqih Al-Habib Zein bin Ibrahim bin Smith ]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar