Jumat, 22 September 2017

Saat Doa Diijabah

WAKTU-WAKTU DOA IJABAH

Saat saat yang diduga kuat waktu ijabah :

أ - الدُّعَاءُ بَيْنَ الأَْذَانِ وَالإِْقَامَةِ وَبَعْدَهَا

ب - الدُّعَاءُ حَال السُّجُودِ

ج - الدُّعَاءُ بَعْدَ الصَّلاَةِ الْمَفْرُوضَةِ

د - حَال الصَّوْمِ وَحَال الإِْفْطَارِ مِنَ الصَّوْمِ :

هـ - الدُّعَاءُ بَعْدَ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَبَعْدَ خَتْمِهِ

و - دَعْوَةُ الْمُسَافِرِ

ز - الدُّعَاءُ عِنْدَ الْقِتَال فِي سَبِيل اللَّهِ

ج - حَال اجْتِمَاعِ الْمُسْلِمِينَ فِي مَجَالِسِ الذِّكْرِ :

ط - دُعَاءُ الْمُؤْمِنِ لأَِخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ

ي - دَعْوَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ وَعَلَيْهِ

ك - دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُضْطَرِّ وَالْمَكْرُوبِ

ل - الدُّعَاءُ عِنْدَ نُزُول الْغَيْثِ

م - دَعْوَةُ الْمَرِيضِ

ن - حَال أَوْلِيَاءِ اللَّهِ

س - حَال الْمُجْتَهَدِ فِي الدُّعَاءِ إِذَا وَافَقَ اسْمَ اللَّهِ الأَْعْظَمَ

1. Doa diantara adzan dan Iqaamah dan setelahnya

2. Doa dikala sujud

3. Doa setelah shalat lima waktu

4. Doa disaat menjalani puasa dan ketika berbuka

5. Doa setelah membaca alQuran dan menghatamkannya

6. Doanya orang bepergian

7. Doa saat perang sabilillah

8. Doa saat kaum muslimin berkumpul dalam sebuah majlis adz-dzikri

9. Do'a seorang muslim terhadap saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya

10. doa orang tua kepada anaknya

11. Orang yang teraniaya, tertindas dan orang kesusahan

12. Doa saat turun hujan

13. Doa orang sakit

14. Doa saat menjadi kekasih allah

15. Doa saat ia bersungguh-sungguh dengan sebelumnya di dahului penyebutan asma-asma Allah yang Agung.

[ Almausuu’ah al-Fiqhiyyah 39/225-233 ].

Uraian lengkapnya dari redaksi kitab diatas : DOA KETIKA SUJUD

ب - الدُّعَاءُ حَال السُّجُودِ

14 - وَإِنَّمَا كَانَ السُّجُودُ مَظِنَّةَ الإِْجَابَةِ لأَِنَّ فِيهِ يَتَمَثَّل كَمَال الْعُبُودِيَّةِ وَالتَّذَلُّل وَالْخُضُوعِ لِلَّهِ تَعَالَى، يَضَعُ الْعَبْدُ أَكْرَمَ مَا فِيهِ وَهُوَ جَبْهَتُهُ وَوَجْهُهُ عَلَى الأَْرْضِ وَهِيَ مَوْطِئُ الأَْقْدَامِ تَعْظِيمًا لِرَبِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَمَعَ كَمَال التَّذَلُّل وَالتَّعْظِيمِ يَزْدَادُ الْقُرْبُ وَالْمَكَانَةُ مِنْ رَبِّ الْعِزَّةِ فَيَكُونُ ذَاكَ مَظِنَّةَ عَوْدِ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى عَبْدِهِ

بِالرَّحْمَةِ وَالْمَغْفِرَةِ وَالْقَبُول (2) وَلِهَذَا قَال صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنِّي نُهِيتُ أَنْ أَقْرَأَ الْقُرْآنَ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدًا فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ عَزَّ وَجَل وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ (3) وَرَوَى أَبُو هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال :

00 أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ (1) .

وَلاَ فَرْقَ فِي ذَلِكَ بَيْنَ سُجُودِ الْفَرْضِ وَسُجُودِ النَّفْل إِلاَّ مَا قَالَهُ الْقَاضِي مِنَ الْحَنَابِلَةِ مِنْ أَنَّهُ لاَ يُسْتَحَبُّ الزِّيَادَةُ عَلَى ( سُبْحَانَ رَبِّي الأَْعْلَى ) فِي الْفَرْضِ وَفِي التَّطَوُّعِ رِوَايَتَانِ .

وَنَصَّ الْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ عَلَى أَنَّهُ يُنْدَبُ الدُّعَاءُ فِي السُّجُودِ .

وَزَادَ الشَّافِعِيَّةُ : بِدِينِيٍّ أَوْ دُنْيَوِيٍّ إِنْ كَانَ مُنْفَرِدًا أَوْ إِمَامًا لِمَحْصُورِينَ أَوْ لَمْ يَحْصُل بِالدُّعَاءِ طُولٌ وَإِلاَّ فَلاَ (2) .

(2) الفتوحات الربانية 2 / 272 ، 273 ، وكشاف القناع 1 / 354 .

(3) حديث : " إني نهيت أن أقرأ القرآن راكعًا أو ساجدًا . . . " أخرجه مسلم ( 1 / 348 ) من حديث ابن عباس .

(1) حديث أبي هريرة : " أقرب ما يكون العبد من ربه وهو ساجد . . . " . أخرجه مسلم ( 1 / 350 ) .

(2) المغني 1 / 522 ، وجواهر الإكليل 1 / 51 ، وحاشية القليوبي على شرح المحلي 1 / 173 .

Doa dalam keadaan sujud termasuk saat yang diduga kuat waktu Ijabah karena sujud adalah keadaan yang menggambarkan sempurnanya pengakuan kehambaan, merasa hina dan rendah dihadapan Allah Ta’alaa, dalam posisi tersebut seseorang merelakan meletakkan anggauta tubuhnya yang paling mulia yakni muka dan dahinya diatas tanah seraya meletakkan kedua telapak kakinya diatasnya semata-mata demi mengagungkan Allah Ta’ala.

Dengan menjadikan dirinya hina secara total disertai pengagungan kepada Allah itulah yang menjadikannya kian dekat dan memiliki kedudukan dihadapan Sang Pencipta yang berdampak pada dugaan kuat bahwa sujud adalah media meraih rahmat, ampunan dan terkabulnya doa karenanya Nabi Muhammad shallallaahu alaihi wa sallam bersabda :

• “Aku dilarang untuk membaca Al Qur’an disaat ruku’ atau sujud. Adapun ruku maka agungkanlah Allah azza wa jalla didalamnya sedangkan sujud maka berupayalah untuk berdoa maka tentu kalian akan dikabulkan.” (HR. Muslim I/348 dari sahabat Ibn Abbas)

• “Hamba yang paling dekat dengan Tuhannya adalah ketika dia bersujud maka perbanyaklah doa.” (HR. Muslim I/350 dari sahabat Abu Hurairoh) (al-Futuuhaat ar-Rabbaaniyyah II/272-273 dan Kisyaaf al-Qinaa I/354)

Tidak ada perbedaan dalam ketentuan diatas antara sujud dalam shalat wajib dan shalat sunah kecuali menurut pendapat al-Qaadhi dari kalangan Hanabilah yang menyatakan sujud dalam shalat fardhu tidak disunahkan untuk menambahkan bacaan atas “subhaana robbiya al-a’laa” sedang sujud dalam dalam shalat sunah menurut beliau terdapat dua riwayat (pendapat).

Kalangan Malikiyyah dan Syafi’iyyah menyatakan kesunahan memanjatkan doa dikala sujud dengan pernyataan tambahan menurut syafi’iyyah “Baik doa yang berhubungan agama atau dunia bila sedang shalat sendirian atau menjadi imam bagi jamaah yang tertentu atau doa dalam sujudnya tidak terlampau panjang bila tidak demikian maka tidak disunahkan. (al-Mughni I/522, Jawaahir al-Ikliil I/51 dan hasyiyah al-Qalyubi ala Syarh al-Mahally I/173). [ Al-Mausuu’ah al-Fiqhiyyah 39/226 ]. Wallaahu A'lamu Bis Showaab

Dokumen ini membahas tentang "SAAT-SAAT IJABAH DOA" sedang apa yang Ukhty tambahkan masuknya dalam bahasan "ADAB-ADAB BERDOA" yang kajiannya meliputi :

Makanan dan pakaiannya berasal dari harta yang halal

Memilih saat-saat mulia

Menghadap kiblat

Mengusap wajah selepas berdoa

Memanjatkan doa dengan suara diantara lirih dan keras

Tidak melampaui batas dalam permintaannya

Rendah diri, Khusyu', penuh harap dan takut

Mantap dan yakin dikabulkan doanya

Dll......

Asalkan doa-doa tersebut diajarkan Nabi atau tidak diajarkan nabi tapi dipanjatkan dengan memakai bahasa arab menurut madzhab syafi'iyyah diperbolehkan

ولا يجوز ان يخترع دعوة غير مأثورة ويأتى بها العجمية بلا خلاف وتبطل بها الصلاة بخلاف ما لو اخترع دعوة بالعربية فانه يجوز عندنا بلا خلاف

Dan tidak boleh membuat doa-doa yang tidak diajarkan nabi dengan mengungkapnnya dengan bahasa ‘ajam (selain bahasa arab) dengan kesepakatan ulama dan shalatnya menjadi batal karenanya berbeda saat doa yang ia buat sendiri tersebut diungkapkan dengan bahasa arab maka menurut kalangan syafi’iyyah sepakat membolehkannya. [ Almajmu’ Alaa Syarh Almuhadzdzab III/300 ].

هـ ـ الدعاء في السجود (2) : قال الحنفية: لا يأتي المصلي في ركوعه وسجوده بغير التسبيح، على المذهب، وما ورد محمول على النفل، ويندب الدعاء في السجود عند المالكية بما يتعلق بأمور الدين أو الدنيا،أو الآخرة، له أو لغيره، خصوصاً أو عموماً، بلا حدّ، بل بحسب ما يسر الله تعالى. ولا بأس عند الحنابلة بالدعاء المأثور أو الأذكار.

ويتأكد طلب الدعاء في السجود عند الشافعية.

ودليلهم خبر مسلم وغيره: «أقرب ما يكون العبد من ربه وهو ساجد، فأكثروا الدعاء، فقِمِن أن يستجاب لكم» (3) أي أكثروا الدعاء في سجودكم، فحقيق أن يستجاب لكم.

وعن أبي سعيد أن النبي صلّى الله عليه وسلم قال: يا معاذ، إذا وضعت وجهك ساجداً، فقل: اللهم أعني على شكرك وحسن عبادتك» .

وقال علي رضي الله عنه: «أحب الكلام إلى الله أن يقول العبد، وهو ساجد: رب إني ظلمت نفسي فاغفر لي» (1) .

وعن أبي هريرة: «أن النبي صلّى الله عليه وسلم كان يقول في سجوده: اللهم اغفر لي ذنبي كله، دِقَّه وجِلَّه، وأوله وآخره، وعلانيته وسره» (2) .

(2) الدر المختار:472/1، تبيين الحقائق:118/1 ، الشرح الصغير:329/1، المغني:522/1، حاشية الباجوري:177/1، مغني المحتاج:181/1

(1) رواهما سعيد بن منصور في سننه .

(2) رواه مسلم وأبو داود ومعنى «دقة وجله» قليله وكثيره (نيل الأوطار:289/2).(3) متفق عليه.


DOA DISAAT SUJUD

Kalangan Hanafiyyah : Janganlah seseorang mendatangkan bacaan lain dalam sujud dan ruku’nya selain bacaan tasbih sedang hadits yang menerangkan anjuran memperbanyak dalam sujud arahnya pada shalat sunnah.

Kalangan Malikiyyah : Disunnahkan memanjatkan doa saat sujud dengan doa-doa yang berhubungan masalah-masalah agama, duniawi dan akhirat untuk dirinya sendiri atau orang lain secara khusus ataupun umum tanpa batas bahkan dalam segala yang diharapkan Allah Ta’ala memudahkannya.

Kalangan Hanabilah : Tidak masalah asalkan dengan memakai doa-doa yang diajarkan dan dzikiran-dzikiran.

Kalangan Syafi’iyyah : sangat dianjurkan memanjatkan doa-doa disaat sujud. [ Alfiqh al-Islaam II/85 ].

Wallohu a'lam bish-showab
[20/9 06.31] Tholibul Ilmi: hari ini hari rabu merupakan akhir bulan Dzul Hijjah (akhir tahun 1437 H), jangan lupa membaca "Doa Akhir Tahun" seusai shalat Ashar. Kemudian ba'da maghribnya... adalah malam 1 Muharram (tahun baru Islam 1439H), jangan lupa membaca "Doa Awal Tahun"

Syekh Ibnu Qudamah Al-Maqdisy, salah seorang ulama besar yang ikut meriwayatkan "doa awal tahun" menuturkan, “Guru-guruku tidak pernah luput berwasiat untuk selalu membaca doa tersebut. Dan aku belum pernah melewatkan doa itu sepanjang hidupku.”

Bacaan Doa Akhir Tahun 3 kali :

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. اَللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي السَّنَةِ الْمَاضِيَةِ وَلَمْ تَرْضَهُ ، وَنَسِيْتُهُ وَلَمْ تَنْسَهُ ، وَحَلُمْتَ عَنِّيْ مَعَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِيْ ، وَدَعَوْتَنِيْ إِلَى التَّوْبَةِ بَعْدَ جَرَاءَتِيْ عَلَيْكَ. اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْتَغْفِرُكَ مِنْهُ فَاغْفِرْ لِيْ اَللَّهُمَّ وَمَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ تَرْضَاهُ وَوَعَدْتَنِيْ عَلَيْهِ الثَّوَابَ وَالْغُفْرَانَ فَتَقَبَّلْهُ مِنِّيْ ، وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِيْ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَز
وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ .

Bacaan Doa Awal Tahun
Sebelum membaca doa awal tahun, sebaiknya membaca ayat kursi sebanyak 360/121/100/77/ 41/21/11 kali (semampunya) dengan basmalah di setiap permulaannya. Kemudian membaca doa berikut sebanyak salah satu angka tersebut semampunya :

اللّهُمَّ يَا مُحَوِّلَ الأَحْوَالِ حَوِّلْ حَالِيْ إِلَى أَحْسَنِ الأَحْوَالِ بِحَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ يَا عَزِيْزُ يَا مُتَعَال، وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّم .

Dan dilanjutkan dengan doa awal tahun 3X :

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تَمْلَأُ خَزَائِنَ اللهِ نُوْرًا ، وَتَكُوْنُ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ فَرَجًا وَفَرْحًا وَسُرُوْرًا ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. اَللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَبَدِيُّ الْقَدِيْمُ الْأَوَّلُ ، وَعَلَى فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ وَكَرِيْمِ جُوْدِكَ الْعَمِيْمِ الْمُعَوَّلِ ، وَهَذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ ، أَسْأَلُكَ الْعِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِهِ ، وَالْعَوْنَ عَلَى هَذِهِ النَّفْسِ الْأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ ، وَالْاِشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْكَ زُلْفَى ، يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Maka setan akan berkata, “Orang yang membaca doa ini telah meminta perlindungan kepada Allah sepanjang sisa umurnya. Dan dua malaikat telah dipercaya untuk menjaganya dari aku dan para pengikutku."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar